Kursi Empuk Sang Birokrat

Prolog!

Nyaris setahun, dilantik menjadi pejabat Eselon IV di lingkungan Badan Narkotika Nasional. Seperti memasuki rimba baru di tengah rimbunnya alam birokrasi. Banyak pertanyaan, khususnya tentang kapasitas diri. Merangsek tentang mengapa harus memilih pergi padahal di Negeri Serambi Madinah segalanya bisa diraih. Memang sulit dijelaskan, sebab panggilan ‘pulang’ terasa lebih merdu. Ada wajah-wajah yang tak bisa terus dibiarkan menunggu. Wajah-wajah teduh, yang saban hari berpeluh air mata. Berulang kali menimbang, apa masanya tepat?
Nyatanya, ada bentang rindu lain menganga. Setelah memilih pergi, pindah tugas ke Sulawesi Barat. Nun jauh, ribuan kilometer jaraknya, seorang lelaki berkubang air mata sebab luka. Ah! Nyaris setahun, rimbun cerita telah silih berganti, antara tawa dan air mata...
***

Dunia birokrasi dipaksa lekas berbenah. Zaman telah berubah, butuh penyesuaian fundamental. Reformasi birokrasi belum berjalan optimal, ada hal-hal yang gagal diakselerasi. Khususnya, masuknya perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam lingkungan birokrasi  kita. Kegagapan terjadi. Sebab, lazim dalam kultur birokrasi kita, telah terpelihara budaya feodalistik. Ekspansi TIK dengan semangat efisensi, kecepatan, dan ragam tawaran kemudahan, justru jadi ancaman. Apalagi menyoal tentang bagaimana TIK hadir untuk memfasilitasi transparansi dalam pengelolaan anggaran. Di beberapa daerah, itu mengusik “tatanan baku”. Apalagi, mereka yang bercokol di kursi empuk birokrasi bebal untuk berubah.
Memang, dalam kultur birokrasi kita, pakem-pakem lama masih sulit dihilangkan. Semacam ada aturan tak tertulis tentang “atasan selalu benar”. Ini yang menghambat hadirnya kultur baru birokrasi yang lebih progresif.  Untuk saat ini, para revolusioner harus dipaksa menerima ‘apa adanya’ dan memaklumi segalanya.
Setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya. Waktu akan terus berlalu, perubahan adalah keniscayaan. Roda birokrasi akan terus berputar. Ke depan, pengelolaan birokrasi kita akan jauh lebih baik, saya percaya. Masuknya orang-orang baru hasil seleksi ketat adalah jalan menuju ke sana.
Hanya saja, kadang para pendatang baru itu kurang mental. Berkarier beberapa tahun di lingkaran birokrasi kadang mulai goyah. Tak ada pilihan, ikut arus sepertinya jalan aman melegitimasi bahwa segalanya baik-baik saja. Padahal, ada masalah di sana.
Idealisme baiknya selalu digenggam kuat. Tak melulu soal uang, karena memang, memutuskan masuk ke lingkaran birokrasi karena uang sangat mudah menjerumuskan. Karena sejatinya, jika berharap dari gaji, tak bakal membuat kaya, berkecukupan ya. Jika meniatkan mendapatkan pendapatan lebih, maka jeratan jangkar korupsi amat menggiurkan. Dari sini, penyakit laten korupsi jelas akan mendapati mangsa, menemui penerus.
***
Epilog!
Perjalan baru saja dimulai. Menikmati perjalanan bagian paling penting namun juga krusial. Saya maupun Anda bisa bertahan tapi mungkin juga akan terpental. Ya! Itu saja.

Share:

0 komentar