LPG, Es Mambo, dan Masa Depan Energi Kita



referensi pihak ketiga: toptime.co.id
Kartini (54) sudah terjaga sejak dini hari. Sebelum kokok ayam jantan saling bersahut, perempuan senja itu repot di dapur. Berjibaku dengan banyak aktivitas. Mulai dari membuat adonan Es Mambo, memanaskan air, menanak nasi, dan menyiapkan lauk-pauk untuk diasupnya bersama suami sebelum berangkat ke sekolah. Semua dilakoninya setiap hari, berulang-ulang dengan aktivitas yang sama, tak kenal lelah dan bosan. Sebagai seorang ibu, istri, dan guru,  Kartini menikmati hari-harinya penuh kesibukan. Semua dilakukannya demi bertahan. Bertahan? Ya, di usia senja semacam itu, Kartini dan suami hidup laiknya sepasang pengantin baru. Hanya berdua, sebab anak-anaknya telah pergi ke tempat jauh.

Satu persatu, bungkusan Es Mambo telah memenuhi keranjang, selanjutnya dengan tenaga yang mulai payah, Kartini memasukkannya ke lemari pendingin. Ah! Meski lelah, seberkas harapan membuatnya sedikit tersenyum. Setidaknya urusan paginya telah tunai. Saatnya bersiap sebab azan subuh telah berkumandang. Usai subuh, ia harus lekas bersaling kain, mengenakan pakaian dinas. Sebagai guru, pantang baginya terlambat ke sekolah.Kartini salah seorang guru di SMA Negeri I Pinrang. Sebagai pendidik, tentu ia sudah sangat khatam dengan asam manis dunia pendidikan. Akhir-akhir ini, tunjangan sertifikasi menemui jalan buntu, di rekeningnya tak seberapa. Jumlah itu bisa lekas menguap sebab anak-anaknya kerap mengirim kabar yang amat tiba-tiba, butuh pinjaman uang untuk keperluan ini itu. Kartini, tak pernah kuasa membiarkan segala kesusahan menghinggapi anak-anaknya. Bagi pikirannya yang biasa, anak-anaknya tak boleh hidup terlunta di negeri orang. Biarlah ia dan suaminya saja yang menikmati lekuk derita. Demikianlah suratan yang berlaku bagi Kartini juga bagi para orang tua di banyak tempat. 
Suaminya Salama (59), seorang pensiunan perusahaan BUMN tak bisa berbuat banyak. Gaji pensiunnya tak lagi memadai dijadikan penopang hidup. Gaji yang tak seberapa itu sudah terpotong pinjaman koperasi. Jadilah Es Mambo tumpuan terakhir Kartini. Hasil jualan es harian, sedikit membantu  menambal banyak keperluan. Termasuk biaya dokter atau mantri dan membeli obat-obatan bagi tubuhnya yang tak lagi muda.
Beberapa tahun lalu (2012), di era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY), melalui Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Jero Wacik, kebijakan konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG) ditetapkan. Kebijakan yang akhirnya menjadi kabar muram bagi Kartini yang sudah biasa menggunakan minyak tanah untuk keperluan dapur. Ketakutan dan teror BBG sudah amat lazim didengarnya. Baginya menggunakan BBG sama saja dengan menyimpan bom waktu di dalam rumah, bisa meledak kapan saja. Namun ketakutan itu dilawannya, minyak tanah mulai langka dan harganya melambung tinggi. Tak ada pilihan. Jadilah tabung mungil hijau Liquefied Petroleum  Gas (LPG) 3 Kg nangkring manis di dapurnya. Lambat laun, ia makin terbiasa, dan mulai menikmati kehebatan LPG. LPG terbaik, dia mengaminkan perkataan Presiden SBY kala itu yang menelorkan program mix-energy yang menggabungkan pemenuhan kebutuhan energi dengan pelestarian lingkungan. Bahan Bakar Gas dikenal ramah lingkungan dan tersedia melimpah di dalam negeri.
referensi pihak ketiga: republika.go.id
Tahun-tahun bersama BBG berlalu, LPG semakin lekat dan mengintimi hari-hari Kartini dan jutaan masyarakat Indonesia. Gas menjadi primadona sebab ia menjadi simbol kemajuan dunia perdapuran. Periode pemerintahan berganti, penguasa baru menaiki takhta. Kebijakan mulai berubah. LPG mulai tak aman. Tak aman dalam artian, pasokan mulai tersendat. LPG (3 Kg), yang digunakan Kartini untuk usaha Es Mambonya menemui masalah. Kartini yang sudah kadung hidup dengan gaji serba minus dan tunjangan yang makin keteteran tak dapat berbuat banyak. Sebagai ibu dengan enam orang anak, Kartini tetap menjadi bumper terakhir untuk segala hal, termasuk mengepulkan dapur anak-anaknya yang merantau.
Kelangkaan LPG berimbas pada mandegnya produksi Es Mambo. LPG yang terbatas, hanya bisa diakses satu tabung per rumah tangga membuat Kartini harus rela menyetop bisnis Es Mambo, peruntukan untuk memasak tentu jauh lebih utama.
Kartini mewakili banyak jeritan masyarakat kecil. Program diversifikasi energi menemui jalan buntu, Pertamina sepertinya tak bisa berbuat banyak. Pasokan mulai langka, Kementerian ESDM dan Pertamina menjawabnya dengan melakukan operasi pasar. Melalui suara Wakil Menteri, Archandra Tahar menjelaskan bahwa kelangkaan terjadi disebabkan karena momen akhir tahun, dekatnya perayaan Natal, dan cuaca buruk. Hanya saja, dalih ini tak bisa sepenuhnya diaminkan. Perlu langkah konkrit yang bisa menjawab persoalan lebih serius karena masyarakat bawah kerap kehilangan kesabaran.
Harus diakui, LPG saat ini mengalami masalah, utamanya dari segi penyaluran. Banyak pengusaha menengah yang menengok LPG 3 Kg sebagai bahan bakar primadona karena berharga murah. LPG diborong dalam jumlah besar, bukan buat rumah tangga, tapi keperluan usaha. Ini pula menegaskan tentang labilnya kebijakan negara pada sektor energi. Upaya menggiring masyarakat, khususnya menengah ke atas, untuk bisa menggunakan LPG Bright Gas 5, 5 Kg belum efektif. Kalangan menengah  ke atas masih enggan, sebab meski ramah lingkungan, varian LPG ini belum terlalu ramah di kantong.
Penulis mengajukan usulan tentang pembangunan sektor energi jangka panjang, dengan menjadikan Pertamina bukan sekadar perusahaan BUMN bisnis oriented, namun memasukkan human development dalam langkah taktis bisnis energinya. Maksudnya, sudah saatnya proyek energi terbarukan bisa digarap bersama masyarakat agar dengan sendirinya masyarakat mampu menemukan cara mandiri dalam pemenuhan energi. Dengan begitu, sosial interpreneur akan terbentuk dan simbiosis mutualisme akan terbangun. Bagi Kartini, dengan pikirannya yang sederhana, pemerintah mesti punya solusi untuk segala persoalan.
Jelang sore, menunggu senja tenggelam di Barat, Kartini duduk bersama suami di teras rumahnya. Keduanya melamun entah sampai mana, lalu suara dari bibir mungil membuyarkan segalanya!
“Beli Es….!”
Sontak, pasangan renta itu terkejut. Suara itu hanya mampu dibalas Kartini dengan gelengan lemah beserta senyum yang mulai pias. Anak itu beranjak pergi meski kecewa. Lalu, sesosok wajah berkelabat dalam ingatannya yang mulai rabun. Wajah yang sering dilekatinya di stasiun televisi. Wajah Sang Presiden!(*)

Share:

0 komentar