Jumat, Februari 24, 2017

Perempuan Polahi (1)

femina.co.id
Bagian 1

Lelaki itu datang dari negeri yang jauh!  Sebuah negeri yang berdiri di lereng perbukitan yang berhadapan langsung dengan Selat Makassar. Salah satu negeri yang masuk daftar kota tua di daratan Sulawesi selain Makassar, Gorontalo, dan Manado. Lelaki itu berasal dari kota pelabuhan di tanah bugis: Kota Parepare.
Tiba-tiba saja dia muncul seperti jembalang mengekor pada Baba. Menaklukkan sungai mendaki banyak gunung. Berjalan menyusuri setapak cadas basah yang licin. Jelas dia sering kali terjatuh, terjerembab, mencium tanah yang susah dijejaki saat musim hujan seperti saat ini. Mudah saja ditebak, lumpur yang melekat di sekujur pakaiannya jadi penanda betapa lelaki itu telah bersusah payah, bekerja keras sekeras rahangnya yang menyembul tegas menaklukkan medan yang tentu berat.
Kau menyorotnya, sejak langkah pertama kakinya memasuki rimba permukiman. Dia asing. Pakaiannya aneh. Aneh bagimu dan bagi bangsamu yang telah lama mendekam rimba. Sejak dari dulu, kau hanya mengenal pedito sebagai pakaian.
Kau buat dari pelepah pinang atau kulit kayu, kau kenakan sekadarnya, menutupi bagian tertentu, hanya kemaluan. Bagian tubuhmu  yang lain tak dilindungi apa-apa. Kau dan Polahi lain sudah biasa. Biasa mencukupkan diri dengan pakaian sederhana.
Tak salah jika kau menganggap segala yang melekat di badan lelaki asing itu serba lain. Aneh bagimu, tak biasa bagi para Polahi yang lekat dengan belantara. Baju, celana, topi, jam tangan, sepatu, telepon genggam, juga satu benda hitam bermoncong yang sesekali mengarah kepadamu, kadang mengeluarkan bunyi aneh serupa patahan ranting kayu saat tombolnya ditekan. Benda itu, oleh penduduk negeri yang jauh disebut penangkap gambar pembeku waktu: kamera.
Namanya Igo. Mengaku mahasiswa. Dia sengaja datang menemuimu, tepatnya menemui suku Polahi untuk melakukan penelitian tugas akhir. Dia mahasiswa komunikasi, mengambil tantangan dengan memilih karya komunikasi untuk dijadikan tugas akhir. Bertualang, memasuki rimba, mendatangi suku-suku terasing yang mencuri perhatiannya sejak lama. Salah satunya Polahi, sukumu.
Dia tahu tentang sukumu. Berbekal pengetahuan yang didapat dari kawannya yang berasal dari Gorontalo, dan bacaan dari mesin pencari dunia maya, dia memutuskan berangkat. Meninggalkan tanah kelahirannya.
Rasa penasaran berlipat yang membawanya ke rimbamu. Dia menumpang angkutan antarprovinsi, terombang-ambing dalam bus sekira 65 jam. Lalu ia menempuh jarak yang jauh dengan berjalan kaki hampir seharian, menembus hutan, dituntun perantara yang menghubungkannya dengan tetua sukumu. Hingga sampailah ia di hadapanmu, seperti kau saksikan saat ini. Tekadnya  tentu sekokoh baja.
Kau tak biasa menyembunyikan pesona, tak bisa menutupi desir yang tiba-tiba menyusup di dadamu. Ada yang berdebar, ada yang bertalu, ada bunyi nyaring yang tiba-tiba melengking di balik hatimu. Kau dilanda rasa penasaran yang hebat.
Baba mengumpulkan seluruh Polahi, termasuk kau tentunya. Menyampaikan pengumuman, lalu memperkenalkan lelaki itu. Perkenalan yang hangat. Baba selanjutnya menyuruh Sa’u dan beberapa laki-laki untuk mempersiapkan tempat tinggal. Dengan cekatan cabang-cabang pohon ditebas, disusun, aneka daun disatukan, dirajut dijadikan atap. Sekejab saja, tempat tinggal baru untuk tamu telah berdiri kokoh. Baba mempersilakan Igo.
Angin sore bertiup lembut, bias matahari sore berwarna keemasan pecah dari balik dedaunan. Malam perlahan merambat, menghapus kilau senja, menggantinya dengan  gelap. Kau sulit menyembunyikan rasa penasaran, terlihat gusar, sesekali mencuri pandang dari kisi-kisi dinding kayu yang disusun agak rapat. Dari jauh, kau melihat lelaki itu, wajahnya samar sebab nyala pelita damar tidak terlalu terang. Sepertinya mulai malam ini kau akan sulit tidur, sebab perasaan serba lain yang mulai berbunga di dadamu.
***
Tak butuh waktu lama, betapa orang baru itu sangat cepat menyesuaikan. Bergaul dengan seluruh Polahi, sebentar saja semua orang telah berkawan dengannya. Kehadiran Igo telah membawa perubahan berarti. Dia mulai mengenalkan sukumu, tentu juga dirimu, dengan banyak sesuatu. Baca, tulis, hitung, dan ragam hal yang dia bawa dari negerinya, negeri yang jauh. Awalnya, kau masih merasa asing. Lama-kelamaan, saat kehadirannya telah berbilang hari, kau sama seperti yang lain, makin akrab dengan Igo.
Jadilah orang itu serasa menjadi warna baru bagi hari-harimu di belantara. Kau mulai mengenal bahwa selain kau dan Polahi, ada kehidupan lain di luar sana yang tentu lebih bingar.
Kehadirannya memberi pengaruh berarti. Kau dan beberapa anak-anak Polahi lainnya punya aktivitas baru. Tak melulu mengambil kayu bakar, berburu babi, menangkap sanca, menyadap damar, mencari rotan, menangkap ikan di sungai, atau mencari beragam makanan dari pohon-pohon raksasa. Kehadiran lelaki itu benar-benar telah mengubah sesuatu, meski sesuatu itu sepertinya kecil. Tapi, kau mulai menyukainya.
***
Perubahan bagi orang rimba sepertimu terkadang menjadi hal yang sangat tabu. Perubahan membuat beberapa pihak sudah mulai risi. Baba Manio yang jelas memberi izin mulai kurang simpatik.
Akhir-akhir ini, tepatnya beberapa hari ini, Mama Tanio juga ikut memperhatikan kerianganmu. Perubahan sikapmu itu sangat mudah terbaca. Ada yang berbeda pada dirimu. Hadirnya Igo di belantara membuat kau seperti menjelma sosok yang lain. Wajar, jika perempuan senja itu mulai awas, mengikuti setiap gerak-gerikmu.
Hingga pada jeda saat malam telah tiba, Mama mendekatimu, membunuh jarak lalu menarik setengah badanmu dalam pangkuannya. Membaringkan kepalamu. Kau menurut manja. Mama mengelus rambut gimbalmu lembut, lirih berucap dalam remang-remang Tohe Tutu Polinelo: pelita.
“Siapa pun dia, tetaplah asing bagi kita. Kita punya istiadat. Istiadat orang Polahi. Selain Polahi tak ada yang mengerti kita.”
Kau hanya diam. Membenam dalam pangkuan Mama. Mendengar cerita-cerita Mama menjejak, meliuk-liuk seperti ular sawah. Cerita yang selalu berulang, namun tak pernah bosan kau dengar. Cerita-cerita pelarian, cerita-cerita tentang sukumu yang bertualang di belantara. Kisah-kisah para penjaga hutan, yang memilih mendekam di hutan atas nama ‘perlawanan terhadap penjajah’.
Pelita menyisakan bias remang, tampak getah damarnya sudah hampir kering. Kau mulai menemui gelap, lalu gerbang mimpi membukakan pintu. Suara Mama tak lagi terdengar, kau sempurna pulas, menikmati mimpi yang menyapamu. Ah! Kau bertemu dengan lelaki itu…!
***
Sejak dulu, ribuan hari lalu. Para Polahi telah mendekam belantara di hutan-hutan tak tersentuh Gorontalo. Di Boliyohuto, Paguyaman, dan Suwawa. Hutan menjadi tempat paling aman setelah para “perampok” memasuki negerimu: Serambi Madinah[1]. Perampok datang tak pernah diundang. Menjejak lalu merampas apa yang telah menjadi milik. Rumah, tanah, sawah, segalanya dirampas. Sampai tidak menyisakan apa-apa selain duka.
Para perampok itu seperti zombie, haus darah tak berhati. Membunuhi laki-laki, menggagahi gadis-gadis, memaksa yang lain bekerja dalam bilangan waktu yang lama. Mereka mengambil alih kepemilikan, memaksa membayar pajak, menjadi tuan tanah lalu mengutuk pribumi jadi budak. Nenek moyangmu dipaksa jadi kuli di negerinya sendiri, dikerasi jadi pelayan bagi tuan tanah baru bernama penjajah.
Masa-masa itu berlangsung sangat lama. Meninggalkan kenangan pahit yang sungguh perih. Lalu, setelah semuanya, sejak kedatangan ‘perampok’ itu, hidup tetap bergulir, meski berjalan getir.
Yang tak sanggup memilih lari, masuk ke hutan. Mengakrabi belantara, menganggap hidup aman hanya ada di hutan. Berketurunan, hingga mereka yang lari dan mendekam belantara itu mulai terasing. Ya! Sejak saat itu, mereka yang terasing itu punya nama: Polahi. Sebuah istilah Gorontalo yang berarti ‘orang dalam pelarian’. Polahi memilih berdiam di dalam rimba untuk menemukan eksistensi baru, juga atas nama kebebasan yang tak boleh diusik siapa-siapa.

***
Malam sudah tanggal, matahari menyembul, embun-embun suci masih menempeli dedaunan dan tanah-tanah basah yang perawan. Pagi yang merekah. Kebisingan seperti biasa di pedalaman  hutan. Kicau burung, derit jangkrik, embusan angin pagi membuat daun-daun basah melambai. Udara tak terjamah, sinar mentari mulai menembus celah kecil dedaunan membentuk pecahan cahaya pada tanah-tanah.
Senandung eksotis belantara serupa musik akapela. Bunyi ranting patah, pekik kera, sesekali kokok ayam hutan, bercampur kebisingan binatang-binatang liar khas belantara lainnya, sesekali bunyi Maleo.
Mama Tanio sudah sejak tadi bergegas. Meninggalkanmu yang menikmati tidur pulas. Entahlah, tidak biasanya kau tidur hingga pagi menjelang, mungkin mimpimu terlalu gendam.
Sebenarnya kau sudah terjaga. Namun, apa hendak dikata, malas menyergapmu. Memaksamu kembali memejamkan mata. Hanya saja tak bertahan lama, keriuhan anak-anak benar-benar membangunkanmu. Kau terperangah karena satu suara yang lantang membahana. Kelas baca di sekolah hutan. Igo? Kau sigap, tak ingin ketinggalan.
Sudah ada puluhan anak-anak menyemut di bawah pohon. Igo berdiri di depan, berteriak-teriak, mengenalkan huruf-huruf. Suaranya diikuti suara puluhan anak-anak yang melafalkan ucapan yang sama.
“A!”
“Aaaaaaaaaaa....”
“B!”
“Beeeeeeeeee....”
Kau mendekat. Hendak bergabung. Teriakan Igo berhenti, juga teriakan anak-anak yang mengikutinya. Seluruh tatapan kali ini mengarah kepadamu. Menyelidik. Mereka setengah terkejut karena seseorang yang masih dengan sisa tidur yang melekat di wajahnya muncul  serupa hantu. Kau menyapukan pandangan, lalu senyum merekah bersamaan. Kau membalasnya, melonjak bergabung. Ikut duduk dan mendengarkan pelajaran.
Di antara seluruh peserta sekolah hutan itu, kau paling berbeda. Berbeda karena paling besar dan juga jelas paling tua. Sayangnya, hanya sejenak kau duduk, karena pelajaran lekas selesai. Anak-anak berhamburan. Melanjutkan aktivitas masing-masing. Aktivitas khas anak-anak belantara. Bermain, ada yang berburu, mencari kayu bakar, atau mengumpulkan rotan. Sedang kau belum bergeser. Beku, terpaku mengamati Igo. Dia masih membereskan segalanya.
Kau jelas terlihat canggung, berusaha mengumpulkan keberanian. Memilih mendekat, mengusir jarak seujung tombak, hingga bersisa dua langkah saja. Kau bersuara. Dengan suara pelan terbata-bata. Tidak jelas dan nyaris tidak terdengar.
“Naye…! Namaku Naye…! Bagaimana menuliskan nama itu?”
Igo mengangkat kepalanya, membenturkan tatapannya kepadamu, sedetik setelahnya kembali menunduk. Kembali sibuk dengan urusannya. Kau terlihat  makin salah tingkah. Rentetan kalimat batin bersuara.
Apa yang telah kulakukan? Bukankah dia asing? Dari mana keberanian itu datang, hingga menyapanya begitu saja. Bukankah tak biasa? Perempuan Polahi mendatangi laki-laki langsung mengenalkan nama.
Tanpa menunggu, kau bersegera. Bersegera karena detak jantung dan tarikan napasmu mulai tidak normal. Keringat dingin menyembul dari pelipismu, mengalir pelan menyentuh dagu, jatuh di antara dua gundukan ranum di dadamu. Mengarus deras, sekeras gemuruh detak jantungmu. Sepertinya kau tak perlu memastikan jika denting suaramu akan terpantul dari mulut lelaki itu. Laku spontan tadi, seperti telah menggadaikan harga dirimu. Merekah delima di wajahmu. Kau malu. Kau beranjak. Bersama sesal yang tiba-tiba bersemu.
“N…!”
“A…!”
“Y…!”
“E…!”
“N-A-Y-E…!”
Suara itu menyusul dari balik punggungmu. Memaksamu berhenti, menyuruhmu berbalik. Kali ini, kau menatap deretan huruf yang tertulis pada papan putih yang tiba-tiba terangkat. Sekilas, kau memotret senyum mengembang di wajah lelaki itu. Hanya sekali klik, pemilik senyum itu kembali menunduk. Kau terbang, serasa kehilangan pijakan, melayang-layang.  Sebelum seluruh kesenanganmu terbaca, pergi adalah pilihan terbaik. Kau merasa  beruntung atas senyum dan tatapan itu. Sepanjang perjalanan, girang hati menguasai  tiap langkah kakimu.
Kian jauh langkahmu meninggalkannya, bayangan Igo  makin menggurita di benakmu. Dia sepertinya sudah terekam sempurna dalam alam bawah sadar, sejak pertama kali kau bertemu dengannya. Tatapannya, senyumannya, menyeretmu lebih jauh pada perkelahian rasa tak menentu.
Kau mulai terombang-ambing perasaan. Entahlah, ini rasa serupa apa. Berserang jauh, kian kau ingin lekas menemuinya. Memastikan tatapan dan  senyuman itu hanya untukmu seorang saja. Hanya untukmu Naye. Tapi tiba-tiba, ada perasaan lain yang menyergapmu, semacam ketakutan jika semuanya hanya bertepuk sebelah tangan.
***
Polahi disebut sesuai jumlah anggota dalam kelompoknya. Kau dan sukumu disebut kelompok 20 oleh orang-orang berseragam itu: pemerintah. Disebut begitu karena memang berjumlah 20 orang. Baba Manio pemimpin tertinggi. Memegang kendali atasmu, atas puluhan jiwa yang mendiami belantara Boliyohuto[2]. Baba dibantu Mama Tanio. Dari silsilah Polahi, Baba dan Mama keturunan yang kesembilan. Punya delapan orang anak, hanya yang tertua yang masih hidup. Sebenarnya, Baba kakak kandung Mama, juga suaminya. Menikah sedarah bagi Polahi hal yang biasa.
Polahi hidup seperti manusia umumnya. Makan, minum, menikah, dan berketurunan. Hanya saja, karena punya tatanan sendiri. Polahi memakan apa saja. Menikah dengan siapa saja. Polahi hanya tak boleh menikah dengan Baba dan Mama, atau dengan ayah dan ibu langsung, tapi menikah dengan anak Baba dan Mama lainnya, dengan cucunya, atau bahkan saudara sedarah, tak dilarang. Asal mau, suka sama suka, pernikahan bisa terjadi. Polahi tidak mengenal saudara kandung. Menikahi sedarah bagi Polahi hal yang biasa.
Naye namamu. Hanya Naye. Nama sependek itu kau dapat dari Baba. Naye berarti cantik, itu kata Baba. Tadinya kau mengira, Baba ayah kandungmu. Juga menyangka Mama Tanio ibumu. Kau keliru, Baba dan Mama adalah kakek dan nenekmu. Mereka yang merawatmu sampai kau sebesar ini. Segalanya dicurahkan, termasuk kasih sayang yang selalu diusahakan tidak pernah kurang.
Pasal ayah dan ibumu…?
Telah diceritakan kepadamu. sekira banyak hari. Ketika belantara mulai dirambah orang-orang asing. Datang menebang pohon, membakar hutan, dan segala laku yang mengganggu. Polahi tak bisa tinggal  diam. Trauma masa lalu hadir. Para perampok, perampas tanah penjarah harta, penggagah gadis-gadis, dan segala yang berkaitan dengan masa silam berkelebat lagi.
Semua yang menyebabkan pendahulumu melarikan diri masuk belantara, memilih hidup terasing di pedalaman hutan kembali menari-nari. Ketakutan pecah di udara. Belantara serupa diserangan tahede henengo: makhluk raksasa bertaring berwajah mengerikan. Polahi nyaris porak-poranda.
Baba Manio mengumpulkan seluruh laki-laki, membentuk pasukan perang, pasukan berani mati. Membekalinya parang, tombak, dan segala yang bisa digunakan melawan, mempertahankan belantara yang telah lama didiami. Ayahmu, kata Mama Tanio, juga turut serta kala itu. Berjuang melawan orang asing, terjun di garda terdepan, mempertahankan hak orang-orang Polahi agar tak dirampas para pendatang yang asing. Orang-orang asing itu berhasil diusir, namun ayahmu tak pernah kembali. Tak berhasil menemukan jalan pulang.
Ayahmu tak menemukan jalan pulang. Kepergiannya alamat jika Polahi harus berpindah. ‘Kepergian’  berarti kesialan. Cara membuangnya dengan meninggalkan hunian lama, mencari tempat bermukim baru. Begitu cara bangsamu mengusir duka, jika salah satu anggota keluarganya telah tiada.
Derita ditinggal dirasakan mendalam ibumu. Duka menganga-nganga dalam kondisi hamil tua, yang tentu sulit bagi ibumu yang berharap kehadiran lelaki yang dicintainya: ayahmu. Duka berlanjut, merajut kisah-kisah air mata. Kau  lahir, namun setelah itu ibumu tak pernah lagi membuka mata. Perempuan itu menyusul ayahmu.
Hidup tentu terus bergulir Naye. Kau dirawat Mama, air mata sempat bertengger di kelopaknya. Duka kehilangan anak terobati oleh kehadiranmu. Hari-hari di belantara, pada tempat bermukim baru, berwarna tangis bayi, tangismu Naye.
Sejak itu pula, tempat bermukim Polahi mulai berperisai. Orang-orang tua mulai menebar jampi. Mantra dirapal. Polahi tersembunyi. Tak lagi mudah ditemukan mata asing yang kerap merambah belantara. Mantra itu telah lama diajarkan bapu: pendahulu, agar tak mudah diganggu orang-orang asing. Polahi penjaga belantara sudah tersiar sebagai hantu-hantu hutan. Mereka tak mudah dilihat mata.
Doti adalah ilmu gaib dari leluhur, diwariskan dengan mengajarkan mantra tertentu. Ada kekuatan mistis, yang dipunyai hampir  tiap orang Polahi. Baba Manio dan Mama Tanio di antara yang mewarisinya. Ilmu itu selain sebagai tolak bala juga sering digunakan untuk penyembuh penyakit atau sarana meminta kesuburan agar hasil panen melimpah. Dengan doti itulah Polahi menjadi misteri.
Orang-orang asing yang ingin bertemu Polahi harus melewati perantara. Perantara ini yang akan menghubungkan orang asing dengan pemimpin Polahi: Baba Manio. Jika mendapat restu, hanya dengan mongusapkan daun tertentu, Polahi bisa dilihat. Igo, lelaki dari negeri yang jauh itu termasuk yang mendapat restu Baba. (Bersambung)
***
Tulisan ini bisa pula disimak di: www.femina.co.id
*1 Julukan Gorontalo
** Terletak di Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Boalemo

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts