Jumat, Februari 24, 2017

Perempuan Polahi (3)

www.femina.co.id
Bagian 3 (Tamat)
Kisah sebelumnya:
Naye, wanita muda suku Polahi yang hidup di hutan wilayah Gorontalo, jatuh cinta kepada Igo, seorang mahasiswa yang sedang melakukan penelitian tentang suku Polahi. Setelah kepergian Igo, Naye menolak dijodohkan dengan Sa’u yang kemudian menjadi kepala suku Polahi. Naye juga tidak menyukai gaya Sa’u memimpin sukunya. 
“Bangun, Naye…!”
Suara tegas itu bergema. Menyentuh gendang pendengaranmu, kau seperti tersihir ingin segera membuka mata. Namun, bayangan luka dan air mata yang telah kau saksikan seakan tak ingin mengembalikan kesadaranmu. Isakmu meruah, menambah deras air mata yang tumpah di kelopakmu.
Wajah Mama Tanio tergambar. Rintih kesakitannya dan suara-suara pilu Babuta beserta puluhan Polahi yang jadi korban lekang di kepalamu. Tubuhmu bergetar, berguncang hebat, kau berubah utuh menjadi luka.
Lelaki yang telah lama kau nanti kehadirannya itu muncul di saat-saat genting. Sungguh dia terlambat, karena tak berhasil menyelamatkan Mama dan Polahi lainnya. Namun, setidaknya, kau selamat dan dievakuasi ke tenda relawan. Kau masih belum mengerti tentang yang terjadi. Makin kebingungan dengan kemunculan Igo.
Sejak dipulangkan paksa oleh Baba Manio, Igo berhasil menyelesaikan pendidikannya. Proyek penelitiannya meraih nilai terbaik, dia sukses mengantongi predikat lulus dengan pujian terbanyak. Dia memutuskan berkarier jadi relawan, mengunjungi banyak tempat dan membantu orang-orang yang kesulitan. Betapa hati lelaki itu sebening kaca. Apa masih harus menjelaskan ini kepadamu?
Hampir seluruh daerah telah dia datangi. Menyambung hidup mereka yang membutuhkan. Dia mengimani, prinsip kebahagiaan sesungguhnya hanya bisa diperoleh dengan berbagi tawa kepada mereka yang berkabung. Anak-anak yang dipeluk pilu, perempuan yang dirundung luka, para renta yang nelangsa karena bencana dan tragedi dibantunya untuk menemukan hidup, kembali menggenggam bahagia yang raib oleh keadaan.
Begitulah hari-hari lelaki itu, Naye. Lelaki yang telah mencuri sebagian jiwamu dan membawanya pergi. Dan, seandainya kau tahu, sebenarnya dirimu alasan yang paling kuat mengapa Igo memutuskan menisbatkan hidup untuk kehidupan. Untuk melupakanmu, dia seperti kehilangan daya. Hal yang paling mungkin dilakukannya dengan mendatangi tempat-tempat baru, bertemu orang-orang baru. Celakanya, dia tak pernah bisa mengusir bayangmu yang terlalu lengket melekat di benaknya.
Kau pula alasan dia akhirnya kembali. Tersiar kabar di mana-mana. Hutan-hutan yang telah terbakar, dari daratan Sumatra, Kalimantan, menjalar sampai daratan Sulawesi. Hutan Nantu telah dikoyak api, merangsek masuk kawasan Boliyohuto. Terus berjalan dan bersatu dengan kawasan yang sengaja dibakar mereka yang berwajah investor.
Boliyohuto? Igo tercengang, dia tak butuh waktu lama untuk bergegas. Dari Kalimantan, memesan tiket, terbang ke Bandar Udara Djalaluddin setelah transit sejenak di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.
Kau alasan lelaki itu kembali. Perasaan cemas telah menikamnya sejak pertama mendengar berita Hutan Nantu yang terbakar. Kau berkelebat di kepalanya, memaksanya menuruti panggilan hatinya, meninggalkan daratan Borneo tanpa restu ketua tim relawan. Dia benar-benar kembali untukmu.
“Mamaa… Mama, Kaka…!”
Suaramu lirih sesenggukan, melesatkan duka sembari berusaha bangun dari kondisi pailit yang kau alami. Kau berlabuh di pangkuannya, meluapkan lara yang terukir di dadamu. Igo masih mencoba terus menenangkanmu, laiknya seorang ibu yang membujuk anaknya agar berhenti menangis.
Lelaki itu menarik napas berat, mengembuskannya perlahan, lalu menyapukan pandangannya ke segala penjuru. Entah apa maksudnya, mungkin hendak menanggalkan rasa iba yang berpeluh di raganya.
Lalu kau, seketika bangkit, berusaha tak acuh pada rasa sakit yang menyerangmu, berdiri, berjalan tergesa mendatangi  tiap tenda, mengecek  tiap raga yang juga turut jadi korban. Hanya ada wajah-wajah asing, wajah perambah hutan, juga penambang liar yang tak satu pun berdarah Polahi sepertimu. Sepertinya kini, kau telah sendiri! Kau berusaha menahan sakit yang  makin meluap.
“Kobaran api terlalu besar. Kami tidak punya peralatan memadai untuk menolong semua korban, termasuk….”
“Kenapa hanya aku…?”
Kau memotong pembicaraan, membuat lelaki pemilik tatapan runcing itu beku sekejap. Semua mata, termasuk mata-mata lara yang telentang tak berdaya, memasungmu seketika.
***
Aduhai…! Hidup akan terus bergulir, meski orang-orang yang dekat, yang disayangi, akhirnya pergi, atau dipaksa pergi oleh panah-panah takdir. Tak mudah melupakan segalanya begitu saja. Kemarau telah pergi, digilas hujan sehari yang memadamkan amarah nyala. Kau berkeras mengubur semuanya, membenamkan kenangan.
Kau kembali menyusuri setapak cadas licin bersama lelaki yang memilih tinggal bersamamu. Ya, kehadiran Igo bukan berarti menguapkan semua duka. Kau masih berkabung, namun setidaknya lelaki itu jadi pelipur bagi lara yang telah tersemat di ragamu.
Igo memilih mengakrabi hutan, demi kau, Naye. Lagi-lagi demi kau. Sulit kau mengerti, sebab jalan pikiran lelaki ini memang membingungkan. Dia meninggalkan segalanya, rela menanggalkan apa saja demi sesuatu yang dianggapnya penting. Kau penting baginya.
Aroma hujan, embus napas dedaunan, bunyi ranting patah, bersatu mengartikulasikan keadaan. Kau bertanya kenapa baru sekarang? Naye, apa harus menjawab pertanyaan itu? Anggaplah, takdir yang membawanya kembali. Bukankah kau sudah tahu, betapa dia telah berusaha melupakanmu, mendatangi banyak tempat demi menghapus jejak-jejakmu. Hanya selalu gagal, sejauh apa pun dia melangkah, tikaman rindu di dadanya  makin dahsyat.
Hujan telah datang, setelah sekian lama mengingkari janjinya. Belakangan ini, musim menjadi tak menentu, sulit diprediksi. Kau tahu sebabnya. Alam mulai tak ramah, sebab manusia terlalu pongah.
Kau hendak menuju sesuatu. Igo mengikuti, walau tak tahu kau hendak ke mana. Dia setia mengekor di belakangmu, hingga tempat yang kau tuju telah tampak. Sisa lekuk api telah padam, menyisakan lebam hitam di batang-batang pohon, daun-daun terpanggang, dan tanah-tanah yang hanya menyisakan abu yang sudah basah. Kau tak menemukan jejak apa-apa selain kenangan. Teriakan Mama dan gemuruh riuh yang melengking beberapa hari yang lalu, sisanya gelap.
“Naye…!”
Suara berat itu, lembut menegurmu.
“Kau harus melupakan segalanya untuk bisa hidup lebih lama! Lupakanlah, Naye…!”
Ada yang berdesis, kau mulai terusik perihal petuah melupakan dari orang-orang yang kau anggap tidak merasai luka sama sekali. Sekadar ucapan basa-basi agar disebut peduli. Kau mengira lelaki itu demikian!
“Apa yang kau tahu tentang kehilangan…? Ha....?”
Kemarahanmu tumpah, Naye. Apa gunanya meluapkan marah, toh, yang hilang akan lekas digilas waktu. Memperpanjang rasa sakit tak akan pernah mengubah apa-apa. Lepaskanlah. Benar ucapan lelaki itu. Kau harus menyediakan dada yang lapang untuk segala tikaman kehidupan yang melukaimu.
Igo…! Lelaki itu juga telah merasai lekuk luka sejak belia. Ayahnya ditikam beramai-ramai saat terjadi bentrok di tanah kelahirannya: tanah Bugis, di Parepare. Bentrok itu tak melibatkan ayahnya, hanya karena sang ayah berasal dari salah satu pihak yang bertikai, lalu numpang lewat di tempat lawan, jadilah ia korban. Akan selalu begitu, kemarahan terkadang tak pernah bisa bersabar menerima alasan atau sekadar menyelidik. Kemarahan adalah hakim paling kejam.
Sedang ibunya, ia perempuan perkasa, Naye. Semenjak kematian suaminya, ia memutuskan pergi, meninggalkan kenangan, menumpang kendaraan ke tempat kerabatnya di hulu Sungai Saddang. Di sana, perempuan itu memilih berjuang menyambung hidup. Anak lelakinya harus bertahan, dia nafkahi sepenuh jiwa, hingga raganya remuk karena lelah. Perempuan malang itu ditemukan sekarat di tengah sawah, sambil tangannya menggenggam bibit padi, di tengah panas terik yang membakar.
Ya! Takdir yang mempertemukan kalian, Naye…!

***
Kau bersama Igo telah jauh berjalan, meninggalkan bekas bara yang mengoyak belantara. Entah sudah berapa sungai yang kau seberangi, dan berapa gunung kau daki, Hutan Boliyohuto telah jauh tertinggal. Berjalan ke timur masuk ke Kawasan Gunung Tilongkabila di pedalaman Suwawa. Kabut tebal mengungkung puncak gunung.
Tarikan napasmu mulai berat. Sedang lelaki bersamamu juga sudah kepayahan. Tilongkabila ini masuk wilayah Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, menjadi pelabuhanmu bersama lelaki yang mengikutimu.
Sekilas, kawasan ini tidak terjamah. Namun, jika kau jeli, dan berjalan sedikit lebih jauh, kau akan dapati eksplorasi tambang dari perusahaan raksasa yang telah lama bersekongkol dengan penguasa. Juga tambang-tambang liar dari rakyat-rakyat yang kelaparan. Sumur-sumur tambang yang jumlahnya ribuan, membuat kawasan ini serba tidak menentu, momok bagi ratusan ribu jiwa yang mendekam di daratan rendah.
Beberapa tahun lalu telah terjadi longsor, menutup banyak pekerja, terbenam di perut-perut gunung yang  telah koyak. Berita itu telah sampai ke perkampungan, namun tak cukup membuat jera. Orang-orang tetap datang, mengeruk isi bumi, demi sesuatu yang bernama  emas.
Para penjarah memang telah berkoalisi. Mereka bersatu atas nama ‘perut’ mengeluarkan isi bumi, tanpa rasa iba. Mereka mengolah seadanya, menggunakan merkuri berbahaya untuk lekas memanen emas.
Merkuri…? Sungguh celaka, Naye. Penggunaan merkuri umum oleh para penambang. Amalgamasi merupakan cara pemisahan bijih emas sederhana dengan biaya murah. Limbahnya dibiarkan begitu saja. Dibuang sembarangan, gampang bersenyawa dengan karbon membentuk organomerkuri. Jenis paling umum dari senyawa ini metil merkuri. Igo sudah sangat tahu tentang pasal ini.
Dalam jumlah yang sangat besar, metil merkuri dipasok para penambang. Dibawa hujan, mengalir ke sungai, dimakan ikan, bersatu di muara, masuk ke laut. Ikan ditangkap nelayan, dijual ke pasar, dibeli penduduk, lalu mengalirlah zat berbahaya ini ke dalam banyak tubuh. Ini mata rantai yang mengerikan.
Bukan hanya itu, limbah merkuri dalam jumlah membeludak telah mencemari Sungai Bone. Sungai yang memasok seluruh kebutuhan air bersih masyarakat karena dikelola langsung oleh Perusahaan Air Minum Daerah. Bahan beracun itu telah dikonsumsi beramai-ramai.

***
Ini musim hujan yang garang. Sehari diguyur hujan, kawasan perkampungan hingga kota sudah tergenang, di beberapa wilayah lain diterjang banjir bandang, menghanyutkan harta benda dan mengorbankan banyak jiwa. Hutan tidak lagi efektif menyerap air, maka dibiarkannya air yang melimpah melesat ke tempat yang lebih rendah. Silakan kau layangkan pandanganmu ke penjuru yang agak jauh, kau bisa saksikan tanah-tanah cokelat menyembul karena longsor.
Igo sudah pulih. Dikeluarkannya sangkur, menebas ranting-ranting, merakitnya membentuk kemah sederhana beratap dedaunan. Kau menyungging senyum, melemparnya kepada lelaki itu. Oh, Naye, itu pertama kalinya kau tersenyum kepada lelaki yang telah menyelamatkan hidupmu. Sungguh dia terpesona.
Sepertinya hujan akan turun lagi, awan-awan gelap sudah berkumpul di cakrawala, memayungi Gunung Tilongkabila yang misteri. Benar, satu per satu titik air berjatuhan, rintik, lalu deras, tumpah. Kau dan Igo segera mencoba kemah, apakah sudah cukup ampuh menjadi pelindung di tengah hujan yang beringas seperti saat ini.
Lalu, tergelarlah saat-saat paling mendebarkan. Dua pandangan bertemu, dari jarak yang sangat rapat. Gejolak yang pernah punah di dadamu kembali berdesis lagi. Tangan lelaki itu menggenggam tanganmu, mengalirkan hangat tubuh dalam suasana yang dingin.
“Saya akan terus bersamamu, Naye…!”
Mulutmu terkunci, tak tahu harus mengucap apa. Kau berusaha menahan perasaan yang serba lain. Lelaki itu mendekapmu, hujan makin garang, merembes masuk di kemah yang beralaskan tanah. Halilintar bersemu di angkasa.
Ini Gunung Tilongkabila, Naye. Masih ada sesuatu yang misteri di sini. Kau akhirnya sadar dengan kehadiran sesuatu itu setelah beberapa ujung tombak mengepungmu, tatapan-tatapan ganas menjerat kalian berdua secara mengejutkan.
Di sini, bersemayam Polahi Lawusala. Polahi Kelompok 70  yang paling ditakuti. Keberadaan mereka menjadi desas-desus karena kerap menculik warga. Mereka sering diburu, namun tak pernah bisa ditemukan. Mereka sama sepertimu, hanya saja kelompok ini tidak pernah bisa menerima orang-orang asing selain Polahi. Mereka dengan mudah tahu aroma selain Polahi hanya dengan mencium bau tubuhnya.
Kau berusaha menguasai keadaan, mengucap beberapa kata, memastikan bahwa kau dan Igo sedarah dengan mereka. Tapi sayang, penciuman mereka terlalu tajam. Kau dan Igo digiring paksa dengan perlawananmu tanpa daya.
Mereka membawamu menyusuri lereng yang terjal berliku. Tepat pada sebuah belokan yang sempit, Igo bereaksi, melumpuhkan satu dua Polahi, lalu menarik lenganmu berlari melewati jalan-jalan silang selimpat. Sementara hujan masih saja ganas. Kau dan Igo berusaha menyelamatkan diri dari terjangan bandit-bandit itu.
Suara-suara lolongan, memberi isyarat meminta pertolongan. Menggema suara-suara saling bersahutan, membuat suasana makin genting, mencekam. Kau melangkah gesit, setengah berlari, tetap menjaga keseimbangan agar tidak tergelincir, sementara Igo menuntunmu tak kalah berhati-hatinya, berkeras melajukan langkah.
Hanya, Polahi Lawusala adalah penguasa hutan ini, Naye. Belum ada yang pernah lolos dari terkaman mereka. Bukan kau yang mereka mau, tetapi lelaki bersamamu. Orang-orang asing yang bertemu dengan mereka hanya punya satu pilihan, dibunuh.
Bala bantuan telah tiba. Jadilah kalian terkepung dari dua penjuru, tombak kayu diayun-ayunkan, hampir melukai. Kau dan Igo berada dalam pilihan sulit. Hanya beberapa langkah saja, kalian akan tertangkap, atau kalau berani, kalian bisa memilih terjun ke sisi kanan, ke jurang yang entah dasarnya di mana.
Wajah-wajah penasaran, tidak bersahabat,  makin dekat. Kau menatap Igo, dia membalas tatapanmu. Kalian berpegangan, tanpa instruksi kau duluan melompat, Igo tak percaya memutuskan hal yang sama. Ini serupa aksi bunuh diri, kau sudah pasrah, menyerahkan semuanya kepada Eya: Tuhan!
Malang, kau tersangkut di cabang pohon raksasa, lalu genggaman tanganmu terlepas, Igo meluncur ke bawah, menuju dasar jurang yang berakhir di aliran deras hulu Sungai Bone.

***
Pinogu adalah salah satu kecamatan yang terisolasi di Gorontalo. Masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Bone Bolango. Tak mudah bisa sampai ke tempat ini. Medan yang sulit dan akses jalan yang tidak memadai menjadikan daerah ini tak banyak disentuh dunia luar. Daerahnya makmur, penduduknya ramah, hidup bertani, berladang, dan memelihara ternak. Di tempat ini, akan ditemui kehidupan yang harmoni, antara alam dan manusia. Manusia mengambil secukupnya dari alam, dan alam dengan senang hati memberikannya kepada manusia.
 Di sini rasa daging sapi sama dengan daging rusa, renyah, empuk, tak membuat gigi ngilu saat dikunyah. Beras harum baunya karena diolah dari ladang organik tanpa pestisida. Hasil kebun melimpah, yang tersohor adalah kopi Pinogu, namanya melesat hingga mancanegara.
Untuk sampai di sini, jika memilih berjalan kaki, jarak tempuh normal sekira depan sampai sepuluh jam dari Suwawa, ibu kota Kab. Bone Bolango. Jika kantong lumayan tebal, boleh mencoba angkutan roda dua yang sudah dimodifikasi untuk medan terjal, berlumpur lagi licin. Sekali jalan bisa menguras isi kantong sampai jutaan rupiah.
Seorang warga, namanya Manuli, telah bersegera menuju belantara sejak pagi. Dia hendak mencari rotan, mengambil rumput, dan memungut buah durian yang tanggal dari pohon-pohon raksasa yang tumbuh liar. Yang mengasyikkan di sini, dengan mudah raja buah itu didapatkan, dan seberapa pun yang ingin kau makan, semuanya tersedia. Alam dengan sukacita dan pemurah akan memberikannya.
Naye! Perjalanan lelaki yang membawa sebagian jiwamu dan menanggalkan sepotong jiwanya bersamamu berakhir di sini. Manuli menemukan lelaki itu terkapar tak berdaya di bibir sungai. Keadaannya sungguh mengenaskan, beberapa bagian tubuhnya koyak, hampir tak lagi bisa dikenali sebagai manusia. Namun, kabar gembiranya, dia masih hidup.
Sedang kau, sepertinya memang harus rela mendekam menjadi tawanan Polahi Lawusala. Hemuto, pemimpin tertinggi kelompok itu, menemukanmu. Dengan bahagia menggiringmu masuk ke suatu tempat yang tersembunyi, di dalam goa, tempat yang sangat ramai, yang tidak terjamah tangan-tangan asing.
Tubuhmu yang luka telah diobati dengan  cepat. Entah dengan cara apa, segala sesuatunya sangat mistis, misteri. Polahi Lawusala masih menggunakan jampi dan mantra sebagai media pengobatan, untuk bertahan, sekaligus senjata berlindung dari dunia luar, seperti Baba Manio dulu. Kau dinikahinya dalam prosesi adat suku pedalaman yang sangat singkat, namun sakral. Kau dinobatkan menjadi Mama, Mama Naye.
Posisimu telah sama seperti Mama Tanio dulu, yang melayani Baba Manio dan Babuta. Anggap saja, takdir telah memasungmu, Naye. Tepatnya memaksamu untuk tetap bermukim di belantara. Menjadi penjaga sejati bagi hutan-hutan yang sudah porak-poranda.
Kau kerap mengikuti Hemuto menjungkalkan alat-alat berat, saban waktu menakut-nakuti para penambang, atau jail menculik salah satu dari  mereka, lalu melepasnya agar kabar Polahi serupa hantu makin tersiar. Jalan-jalan beton yang sengaja dibuat oleh perusahaan tambang tak pernah bertahan, sebab kau dan Polahi lainnya dengan sukacita mengobrak-abrik. Kau sempurna menjalankan pesan Baba: menjadi penjaga hutan. Di sudut hatimu, ada nama yang mulai redup, meski kau tetap berharap takdir kembali mempertemukan kalian.  (Tamat)
***
Tulisan ini bisa disimak pula di sini

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts