Jumat, Februari 24, 2017

Perempuan Polahi (2)

www.femina.co.id
Bagian 2
Kisah sebelumnya:

Naye, wanita muda suku Polahi yang hidup di hutan wilayah Gorontalo jatuh cinta pada Igo, seorang mahasiswa yang sedang melakukan penelitian tentang suku Polahi. Dari Igo, Naye dan anak-anak Polahi belajar membaca. Namun, cinta itu jelas cinta terlarang, karena Naye dijodohkan dengan sesama suku Polahi.
Kegiatan belantara berjalan seperti biasa. Bedanya hanya pada hadirnya pendatang baru di tengah-tengah kalian. Anak-anak yang belajar sudah punya kemajuan. Sudah mengenal banyak huruf, sudah bisa menulis, sudah pandai menghitung. Sesuatu yang sungguh luar biasa bagi penghuni belantara seperti kalian.
Dulu, dari  orang tua, kau hanya diajari mengenal dua jenis angka, satu dan banyak. Sekarang kau bahkan sudah bisa menghitung sampai puluhan. Kau dan anak-anak lain, juga sudah bisa menulis nama sendiri, menulis nama Baba, Mama, Sa’u. Tak hanya itu, kau juga makin rekat dengan pendatang itu.
Kau bahkan sudah sering berjalan bersama, menyusuri belantara, mendaki puncak gunung, atau berenang di sungai bersama lelaki itu. Igo mengajarimu banyak hal. Selain membaca, menulis, dan menghitung, dia membiasakanmu dengan benda-benda aneh miliknya. Termasuk mengajarimu memindahkan gambar dari kamera yang dia punya. Kau sibuk menyapu seluruh belantara dari puncak tertinggi kawasan Pegunungan Boliyohuto. Memandang dari jendela kecil kamera, dengan satu mata yang sedikit menyipit, lalu menekan tombol klik. Kau sudah pandai memotret.
“Naye….”
Suara berat Igo mengudara. Memecah sunyi yang nyaring. Membuatmu terpaku. Sedetik waktu serasa kaku. Kau berusaha biasa.
“Kamu can... tik. Kamu cantik Naye!”
Cantik? Kau tangkap wajah lelaki itu sempurna. Dua bola matanya memanahmu, menembus kisi-kisi jendela hatimu. Bola mata yang sorotnya seruncing duri mawar. Pemilik wajah dengan bulu lebat yang menggantung di dagunya itu lagi-lagi menunduk. Kau melayang-layang, terbang tinggi, lebih tinggi. Berselang lama, setengah kesadaranmu kembali memaksamu berpijak. Kau di bumi lagi.
“Kalau aku cantik, kenapa Kaka tak pernah sanggup menatapku lama?
Akhirnya kau tanyakan juga. Kau penasaran dengan tingkah itu. Tingkah yang  mengusik, juga tak pernah mengizinkanmu bertatapan dalam masa yang lama dengan lelaki itu.
“Aku hanya belum biasa. Aku belum biasa dengan dirimu Naye.
“Di tempat asalku. Perempuan tak pernah membiarkan dadanya terbuka. Maaf, saya merasa tidak sopan jika memandangmu lama!”
Berat suara itu memantul lagi, menggelinding di gendang telingamu. Igo mengangkat wajahnya, memandangmu, menunduk lagi, mengangkat wajahnya lagi, kali ini menyapu belantara. Gelombang perasaan kalian berdua sedang pasang. Perasaan serupa apa yang dialami wanita yang disebut cantik oleh lelaki? Entahlah, hanya bisa diterka: mungkin ianya mirip barang yang hilang lalu ditemukan. Senang.
Kau tak lagi peduli dengan segala penasaran. Kau menarik tangan lelaki itu. Menyusuri lereng, melangkah lebih cepat. Sampai di lembah, dari tempat kalian berdiri, sungai dengan batu-batu besar terhampar. Airnya jernih, dingin. Sebuah keriuhan terjadi seketika. Keriuhan di dadamu yang bercampur suara gemericik air membelah bebatuan. Kau ingin sekali menunjukkan sesuatu.
Kau raih bulahu --tumbuhan akar merambat mirip ubi jalar-- yang banyak tumbuh di pinggiran sungai. Memukul-mukulnya dengan batu. Setelah itu mengelebukannya, lalu menunggu beberapa jeda. Igo masih belum mengerti, bingung dengan apa yang kau lakukan.
Lihat....! Satu ekor. Dua ekor. Tiga ekor, banyak ikan-ikan kecil mengapung. Juga udang-udang kecil, kepiting, hampir semua jenis binatang air pingsan tak berdaya. Kau memungutnya cepat. Igo terkesima, berusaha tidak percaya dengan yang dilihatnya. Dia masih terperangah dan sepertinya tengah memikirkan sesuatu.
“Naye... Bulahu itu bisa jadi uang!” serunya dengan mata berbinar.
“Maksud Kaka?” tanyamu kebingungan.
“Di tempatku, di kota, bulahu bisa diperkenalkan. Orang-orang menangkap ikan di laut tak harus pakai pukat. Bulahu mungkin bisa membantu mereka. Kalian para Polahi di sini bisa memasoknya. Polahi bisa dapat penghasilan dari bulahu.”
Igo menjelaskan maksud. Panjang lebar menyampaikan rencana. Kau menyimak, walau tak sepenuhnya mengerti. Selesai memungut tangkapan, kalian beranjak dari sungai, membawa serta segalanya, kembali menyusuri lereng. Igo terus bercerita, kau masih asyik mendengarkan. Kau dan Igo hendak kembali ke puncak. Menyiapkan pesta kecil dari hasil tangkapan itu.
Sebelum sampai puncak.
“Naa... yeee...!”
Teriakan garang membahana. Melengking dari arah bawah semacam suara kucing jantan mengancam betinanya. Seorang laki-laki yang amat kau kenal mendekat. Sekilat menerobos, menarik tanganmu kasar, lalu membawamu setengah menyeret. Meninggalkan Igo yang bungkam tak berkutik.
Sungguh amat mudah dipahami. Sa’u merasa berhak atasmu karena ucapan Baba kepadanya tempo hari. kau harus memahami. Sedang Igo, telah beralih dari bungkamnya mengikuti langkah, ingin meraihmu, hanya saja Sa’u terlalu tangkas. Dia menyerang garang, terjadi pertikaian antarlelaki. Namun, Igo harus pasrah tersungkur.
Baba mencarimu...!”
Sa’u bersungut. Memasang wajah tidak bersahabat. Tangannya kembali mencengkeram kuat pergelanganmu. Kau rasakan kuku panjangnya yang runcing menancap nyeri.
Dia telah berubah algojo menjemput pesakitan. Kau dibawa menghadap Baba yang telah menunggu. Igo  makin jauh tertinggal. Baba. Wajahnya telah menyemburkan asap. Kemarahan menguasainya, siap memuntahkan magma. Putusan akan segera jatuh.
“Sekarang, sejak saat ini kamu dengan Sa’u akan tinggal bersama!”
Mata Baba memerah. Ucapan yang baru keluar dari mulutnya adalah tanda jika pernikahan telah jatuh. Aduhai. Kau remuk seketika.
“Tapi Baba...? Naye tidak mau!”
“Naayeeee…?”
Dada Baba berbunyi guntur, siap meledak. Baru sekali ini perintahnya dibantah. Mama Tanio tiba-tiba muncul, seolah paham jika urusan  makin genting.
Naye tidak mau.
Kalimat itu yang menyelamatkanmu.
Kau dan Polahi lain memang bisa menikah dengan siapa saja, asal mau dan suka. Keputusan besar yang telah jatuh ditinjau ulang. Meski keluar dari mulut orang paling berkuasa. Mentah, sia-sia belaka. Ah…! Baba tidak tega, ada hal lain yang tersembunyi di dalam jiwanya: kasih sayang.
Walau tak terlalu tampak. Baba sangat menyayangimu. Baba tidak bisa memaksa. Memilih mengalah. Terbenam dalam diam. Sa’u yang ditolak ikut bergeming. Sunyi menyergap belantara. Sunyi yang nyaring. Suara pilu bernyanyi serupa erangan babi hutan yang terjerat perangkap, tertancap bilah-bilah bambu runcing di sekujur tubuhnya. Tombol jeda waktu telah ditekan, membatu.
 “Orang asing itu akan Baba antar pulang hari ini!”
Entah, semuanya  makin menyesakkan. Atas segala jerih payah, tampaknya Baba sudah gelap mata. Baba yang berkuasa sekali telah terbantah, tapi tidak kedua kali. Panas di atas sana, membias peluh dari gemuruh dada Baba. Kau memandang Sa’u, ada sungging tipis bersemai di wajahnya. Kau pasrah. Sejak saat itu, tak pernah lagi kau dapati Igo di pedalaman hutan. Dia berlalu, pergi meninggalkan belantara, pergi begitu saja. Mustahil akan kembali lagi.
***
Kau dan suku Polahi hidup dengan tatanan sendiri. Punya agama sendiri, agama belantara. Percaya Bo Eya Takuasa: Tuhan Yang Mahakuasa- yang memegang kendali penuh atas hidup, mati, dan segala yang berkaitan dengan kalian, di pedalaman hutan. Waktu telah bergulir, banyak yang telah berubah.
Sejak kematian Baba Manio, kau dan belasan Polahi meninggalkan kampung yang lama. Menempati tempat yang baru lagi. Kepemimpinan suku telah berpindah ke tangan Sa’u yang bergelar Babuta. Mama Manio tetap mendampingi, meski dirinya sudah renta. Tapi, wasiat Baba untuk menyertai Babuta tetap dipegangnya. Sebenarnya Babuta adalah anak Baba dan Mama, yang berarti pamanmu. Mama tetap setia sebagai pelayan pemegang kuasa tertinggi, meski itu anaknya sendiri.
Hutan telah banyak dirambah, gerak Polahi makin terbatas. Orang-orang asing makin sering keluar masuk hutan. Tak ada pilihan, Polahi mulai belajar membuka diri, berbaur dengan warga perkampungan, membiasakan diri dengan manusia lain, tak lagi terasing. Mantra sudah mulai tidak mempan sebagai perisai.
Kau dan sukumu belajar bermukim. Membuat rumah sendiri, bercocok tanam, beternak. Beberapa di antaranya sudah bekerja, masuk ke perkampungan warga, menjadi kijang: buruh panggul, di pasar-pasar. Kadang-kadang pula kau menjajakan hasil hutan, menukarnya dengan ragam keperluan. Polahi sudah belajar menggunakan uang, tapi terbatas.
Polahi masih memegang tradisi, meski tak lagi ketat. Semua Polahi, termasuk kau, Naye, sudah mengenakan pakaian. Bahkan Babuta sudah punya benda aneh yang sering ditempelkan ke telinganya, lalu berbicara sendiri: telepon genggam. Setelah kedatangan lelaki asing yang diminta pulang paksa oleh Baba dulu, kau tahu cara menutup tubuh. Beberapa pakaiannya  ditinggal. Itu digunakan untuk mengganti pedito. Ah! Igo sudah pergi terlalu lama.
Babuta baru datang dari perkampungan, tapi tidak datang sendiri. Beberapa orang menyertainya. Ada lima orang, tiga laki-laki, sisanya perempuan. Orang-orang asing dari negeri yang jauh. Kau teringat kata Baba. Mereka memiliki tampilan yang hampir sama dengan satu nama yang lekat di kepalamu: Igo. Segala tentangnya kembali membayang, membawamu terbang lalu membiarkanmu jatuh terempas.
“Kita akan menggunakan pedito untuk satu dua hari ini. Orang-orang ini akan mengambil  gambar. Kita akan masuk televisi”
Semisal bongkahan batu gunung menghujani kepalamu. Apa yang kau dengar dari mulut Babuta lebih menakutkan dari Balung. Kau dan Polahi lainnya sudah belajar, meninggalkan kehidupan lama, tak lagi membiarkan sebagian besar tubuh tanpa busana. Tapi, orang-orang asing datang memaksamu kembali ke masa lalu. Kau menatap Mama yang renta, memberi tanda tak setuju. Babuta telah memerintah, tak bisa dibantah. Dia pemimpin tertinggi.
“Babuta...!”
Kau berucap lirih. Belum sempat melanjutkan bicara, Babuta telah menangkapmu dengan sorot matanya. Sorot mata itu, meski tak disertai suara,  telah menjelaskan bahwa tak ada lagi yang bisa membantahnya. Sorot mata Babuta, sepadan aye-aye di pedalaman Madagaskar. Mengerikan. Tak boleh menyelisihi pemimpin lebih dari sekali. Jika itu terjadi, bersiaplah terasing atau diusir, keluar dari  Polahi. Babuta jelas bukan Baba.
Masa seperti dipaksa kembali menemui masa lalu, kau mengenakan pedito lagi. Pulang ke masa paling dulu kala tubuhmu hanya mengenakan pelepah pinang atau kulit kayu. Tak masalah bagi mereka, orang-orang asing yang menganggap diri maju, tapi pikiran tak sepanjang jari kelingking. Polahi, suku terasing, sukumu, telah berusaha meninggalkan kehidupan lama. Anehnya, selalu saja ada pendatang yang tetap menginginkanmu seperti dulu. Hidup dengan tubuh tertutup seadanya. Kau melihat orang-orang yang baru datang itu sibuk mengarahkan kamera, menyorotmu dan Polahi lainnya pada keadaan seperti dulu.
Ada sesak yang memantul di dadamu, membidik jantung lalu menusuknya, terpantul lalu membubung ke udara, menyatu dengan gumpal awan hitam mengangkasa. Kepalamu mencoba mencerna sikap Babuta. Tentang sikapnya yang gampang mengabulkan keinginan pendatang. Ternyata, tiap Babuta menerima pendatang, dia selalu dibayar uang.
Bayaran termahal yang diterimanya kali ini, dengan menjual Polahi ke stasiun televisi swasta tempat orang-orang asing itu bekerja. Ya,  Babuta rela, memaksa kalian seperti dulu. Mungkin karena hidup memang makin sulit. Belantara sudah banyak dirambah. Orang-orang asing makin sering keluar masuk hutan. Mantra-mantra juga tak lagi mempan untuk membuat orang-orang Polahi terus tersembunyi: tak terjamah.

***
Tak ada yang pernah lekang jika harus berhadapan dengan perubahan. Perubahan selalu menuntut tumbal, memaksa meninggalkan tradisi. Zaman berubah cepat, hidup nomaden tak lagi berguna sebab hari-hari di belantara sudah tak mampu menyediakan apa saja.
Kawasan hutan sudah dirambah oleh investor. Pohon-pohon ditebangi, lalu diganti dengan tanaman-tanaman industri. Hutan menjelma perkebunan sawit, mengambil alih lahan-lahan warga, termasuk menggusur permukiman.
Kau dan Polahi lain memang sudah belajar menetap, hanya saja proyek terus mendesak dengan rakus. Kau terdesak, hutan lindung tak lagi dilindungi, dirambah, kau dipaksa pindah. Didesak meninggalkan hutan yang mulai tidak bersahabat. Mantra Babuta tak bisa berbuat banyak untuk mengusir orang-orang bertameng alat-alat berat, menyelamatkan kau dan Polahi lainnya dari terkaman penjajah baru berwajah pribumi.
“Babuta…! Kita harus berbuat sesuatu. Baba Manio telah berpesan, untuk sepenuh jiwa menjaga belantara, jantung kehidupan kita…!” pekikmu, tapi Babuta abai. Lelaki itu sepertinya tidak bernyali. Tak lagi lekat wibawa di dadanya, sebab materi telah menanggalkan kejayaan dirinya.
“Tak mengapa kita terima tawaran. Mereka akan menyediakan tempat tinggal, mencukupi segala kebutuhan kita dengan bantuan. Kita tak perlu mencari rotan, menyadap damar, menangkap ikan susah payah. Segalanya akan mudah tersedia, Naye…! Tak usah menanam keperluan dan mengurus ternak lagi!” jelas Babuta.
Hanya kau! Ya, hanya kau yang mampu bersuara langsung seperti itu kepada Babuta. Kau memang lahir dengan benih pemberontakan, terilhami kecerdasan dari alam yang telah lama kau akrabi. Kau menatap puluhan wajah-wajah kuyu, kehilangan harapan. Mama Tanio tak bisa lagi diharapkan. Tubuhnya sudah sangat ringkih untuk menanggung beban semacam itu.
Tapi, persoalan ini memang tidak sesederhana pikiran Babuta. Kau benar Naye, hutan tak boleh dibiarkan nelangsa, dirampok sesukanya oleh mereka yang kalap materi. Persoalan ini  makin runyam, karena izin proyek ‘Hutan Tanaman Industri’, di bagian hutan yang lain, yang luasnya puluhan ribu telah diserahi untuk dibuat apa saja, dikeruk isi perutnya, dipaksa memuntahkan ragam material berharga yang diburu manusia-manusia dari negeri yang jauh. Kawasan tambang telah terbuka, menghancurkan segala sesuatu yang ‘alami’ dari hutan-hutan yang semestinya terjaga.
Ini semacam lingkaran setan, saling terkait, mengakumulasi banyak kepentingan, dan jelas menguntungkan pihak-pihak berkuasa. Ah, Naye, mungkin sulit kau cerna, tapi beginilah cara manusia-manusia dari negeri yang jauh itu hidup. Mengorbankan apa saja, memakan apa saja. Bedanya dengan dirimu dan Polahi lain, kau memang memakan apa saja, tapi tak pernah mengorbankan hutan yang telah memberimu kehidupan sejak lama.
“Tidak, Babuta. Naye akan tetap di sini, di hutan menjaga belantara…!” Kau bertahan.
“Tak ada yang akan melarangmu. Termasuk melarang siapa yang ingin bersamamu!”
Babuta berbalik, melangkah menjauh, diikuti seluruh anggota kelompok.  Hanya kau yang terpaku, beku, kukuh memegang wasiat Baba: menjadi penjaga hutan. Mama pasrah, mengekor Babuta.
                                                  ***

Apakah kau akan menjalani hari-hari sendiri Naye?
Oh…! Seketika ada yang membubung, asap mengepung entah dari mana, panas merangsek bersama kilatan api berjalan dari segala arah. Babuta yang memunggungimu bersama puluhan Polahi lain mengubah haluan. Kalian terkepung, jago merah mengamuk, menghanguskan apa saja yang dilaluinya.
“Api…. aaapiii…!”
Kau terperanjat, berusaha menolong, lalu lolongan manusia-manusia terpanggang berkelun. Tangis-tangis ketakutan mengalun bersamaan raungan binatang-binatang hutan meringking.
“Naye…. Tolong Mama, Naye….!”
Suara yang sangat kau kenal. Keluar dari sosok ringkih Mama Tanio. Kau menerobos, mencoba mencari sumber suara. Nahas, api terlalu garang, kau tak dapat berbuat banyak. Kilasan bunga api makin tangguh, sedikit pun tak memberimu ruang menjadi dewa penolong.
Kau saksikan dengan mata telanjang tubuh-tubuh menggelinjang, merintih, nyanyian-nyanyian kematian berdendang, aroma daging manusia terpanggang tercium di mana-mana. Kau benar-benar menyaksikannya, hingga gelap, sampai kau limbung dan seseorang merenggutmu kala kesadaranmu sempurna hilang. (Bersambung

 ***
Tulisan ini bisa disimak pula di sini

  1 komentar:

Popular Posts