Minggu, November 06, 2016

Wajah-Wajah di Bandar Udara



http://www.kompasiana.com/sultansulaiman
Wajah-wajah khas, yang sering dijumpai tersengat mentari di jalan-jalan desa, atau memanggul cangkul menuju ladang, kini nampak biasa di bandar udara. Wajah-wajah itu semakin sering wara-wiri, menenteng bawaan, bergegas menuju pintu keberangkatan, siap terbang. Betapa mobilitas kini sudah semakin berkarib dengan keseharian pribumi.

Menunggang pesawat dulu terasa mewah, sekarang bisa dinikmati siapa saja. Benar kata petuah Eyang Habibie, untuk bentang Tanah Air yang luas berpulau ini, moda transportasi paling efektif adalah pesawat terbang. Harusnya, pemerintah lebih serius membenahi sarana transportasi ini, agar tetap murah dan ramah bagi setiap warga negara. Agar siapa saja bisa terbang, bisa menikmati panorama Indonesia dari ketinggian puluhan ribu kaki.
Di sisi lain, bagi sebagian orang terbang tetaplah suatu prestise. Di bandara, kita dapat mengklasifikasi kasta hanya dengan melihat jenis koper, permak tubuh, dan tongkrongan-tongkrongan calon penumpang. Melangkah masuk ke pesawat, kelas bisnis jelas menegaskan kasta paling tinggi, deretan kursi pula menjelaskan tentang harga tiket yang telah dikeluarkan, biasanya langganan tiket promo bercokol di kursi-kursi belakang atau posisi yang kurang nyaman, di tengah misalnya. Bukan hanya itu, pilihan maskapai tertentu menjadi pembeda. Kita kerap lebih pede menyebut nama maskapai tertentu dengan suara nyaring jika ditanya hendak terbang dengan pesawat apa.
Aduhai. Tapi bagi wajah-wajah pribumi ini, saya menaksir "bisa terbang" sudah cukup. Di bandar udara, segala yang kontras mudah kita jumpai. Kemewahan yang kerap berjubah pada seseorang ternyata tak semewah perilakunya. Ada yang merasa tinggi namun sangat rendah pada sikap. Seenaknya membuang sampah misalnya. Tidak merasa salah meninggalkan bungkusan makanan atau bekas minuman di deretan kursi tunggu. Lalu, petugas kebersihan akan kepayahan memungut. Padahal telah disiapkan tempat sampah.
Zaman makin modern, namun tingkah-laku kita semakin kolot. Padahal kita punya cita-cita tumbuh menjadi bangsa berperadaban. Beberapa waktu lalu, pengalaman pertama saya ketinggalan pesawat. Pengalaman yang sangat berkesan dan menegaskan hal "tidak ada kompromi bagi keterlambatan". Padahal, ada sepuluh orang penumpang, rata-rata pejabat, yang dengan jumawa melontar pernyataan, "Tidak mungkin maskapai berani meninggalkan kita!" Dan...? Kami ketingggalan pesawat, 10 menit yang amat berharga.
Kejadian ini, memang telah diprediksi sebelumnya, penerbangan dari Kendari yang harusnya lebih pagi digeser jelang siang. Penerbangan dengan perbedaan maskapai dengan jarak waktu yang sangat rapat jelas sangat berisiko. Tapi karena pernyataan jumawa "Kita sepuluh orang, dan di antara kita berkarib dekat dengan General Manager maskapai tertentu". Tapi, ada yang terlupa, kendali penerbangan berada di tangan pilot.
Katanya penundaan keberangkatan telah dikomunikasikan, tapi pilot menolak dengan alasan logis tidak ingin mengorbankan ratusan penumpang lain yang sudah kekeuh pada waktu. Saya salut, dengan integritas sang pilot, pula berterima kasih atas sebuah pelajaran "tetap ada hal-hal yang tak bisa dilakukan oleh orang-orang yang merasa berkuasa." Saatnya memecundangi yang merasa berkuasa. Satu wajah pribumi menjadi target serapah. Mereka yang berkuasa mempertontonkan kepongahan. Lalu, jadilah kita bahan tontonan banyak orang di bandar udara megah ini. Wajah-wajah penguasa dan pribumi di bandara udara ini adalah salah satu hal kontras yang kerap ditemui. Begitulah!


0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts