Minggu, November 06, 2016

Wajah Bengis Lalu Lintas Ibu Kota Negara



http://www.kompasiana.com/sultansulaiman
Kau adalah ibu. Kami anak-anakmu datang menjenguk, namun kau tak pernah ramah. Masih serupa dulu, kala pertama menginjakkan kaki di rumahmu. Wajah yang tak pernah ranum karena mungkin terlampau lelah. Atau memang kau ibu yang telah lupa bagaimana cara tersenyum?

JAKARTA telah menjadi kota bingar jauh sebelum orang tua kami dilahirkan. Ya! Kota ini sudah terlampau digdaya sejak ratusan tahun lalu. Jutaan manusia ruah, menyemut, berseliweran tak kenal waktu. Dari ujung timur Merauke sampai ujung barat Sabang, yang pribumi maupun luar negeri, segala jenis manusia lalu-lalang, menapak di kota yang makin sesak ini.
Pukul 16.00 WIB, dari Soekarno Hatta menumpang taksi menuju penginapan. Bermalam semalam di Tangerang lalu keesokan harinya betandang ke Ibu Kota Negara. Bersama saya, seorang lelaki paru baya yang baru pertama menjejaki ibu kota. Namanya Jemi, terus berceloteh dia. Saya menyimak rentetan kata sambung-menyambung tumpah dari mulutnya, mengabarkan ketakjuban, suka-cita luar biasa, sebab tak menyangka akhirnya bisa sampai di Jakarta. Di dalam taksi yang lajunya bak siput, saya menyaksikan pertunjukan yang mengesankan itu, juga menikmati ciri khas kota ini: macet!
“Saya mau melihat Monas! Mana Monas?”
“Kalau bisa kita salat Jumat di Istiqlal juga ya…?”
Saya mengubris dengan senyum, mengangguk perlahan, sembari terus menyimak luapan persaannya.
“Saya sungguh tidak percaya Pak  bisa  sampai di Jakarta ini, akan saya ceritakan ke  semua keluarga!”
Tiba-tiba handphone-nya menjerit, lekas diangkat lalu bercakap bangga. Suaranya meledak-ledak, sesekali terselip tawa renyah. Mengabarkan keadaannya, keberadaannya” “Kita ada di Jakarta uti…”
***
Macet adalah hal yang paling intim dengan Jakarta. Bercakap tentang solusi masalah lalu lintas yang satu ini, serupa mengurai benang kusut, mencari jarum dalam tumpukan jerami, atau menggarami lautan. Ya: Jakarta dengan kemacetannya adalah dua sisi uang logam, tak bisa dipisahkan. Tentang apakah kemacetan itu bisa diurai, jawabannya bisa. Tapi jika kita menyaksikan sesaknya jalan-jalan ibu kota, rasanya solusi yang ditawarkan selalu jauh panggang dari api. Jumlah kendaraan tak sebanding dengan luas jalan, hasilnya macet selalu jadi warna di hari-hari ibu kota.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Peraturan Gubernur Nomor 610 tahun 2015 tentang Perubahan atas Keputusan Gubernur Nomor 69 tahun 2015 telah membentuk Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan untuk mempercepat mengatasi masalah lalu-lintas dan angkutan jalan di Jakarta. Forum yang melibatkan lintas instansi (SKPD Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Dewan Transportasi Kota Jakarta, Organisasi Angkutan Darat (Organda), Kepolisian Daerah Metro Jaya dan unsur ahli lainnya)  telah berembuk, berupaya memecahkan masalah lalu-lintas dan angkutan jalan. Sinergitas dan koordinasi digalakkan dengan harapan agar wajah lalu lintas ibu kota semakin baik. Hanya saja, segala upaya itu tiada berdaya jika tidak diikuti dengan langkah perbaikan kualitas human yang memadai. Lebih parah, Jakarta oleh Japan International Cooperation Agency (JICA)  pernah diprediksi akan menjadi kota yang gagal.
Maksud saya, selama ini persoalan lalu-lintas di Jakarta telalu dipandang sangat teknis. Bahwa kapasitas jalan sudah tidak mumpuni, sehingga dibutuhkan jalan-jalan baru: megaprogram pembuatan jalan layang digagas dengan maksud bahwa seluruh kendaraan yang berjubel itu bisa tertampung sehingga lalu-lintas seketika akan ramai lancar. Pikiran awam saya mencoba meraba, bahwa bukan sekadar karena kapasitas jalan yang tak mencukupi, bukan juga karena regulasi yang tidak ditegakkan, tetapi pada aspek “sikap berkendara” yang tidak dipunyai oleh banyak orang di jalan-jalan ibu kota.
Saya dan kawan saya Jemy dari arah pintu air Pasar Baru menuju Istiqlal, setelah lolos bejibun kendaraan di muka penginapan, tibalah kami di depan gerbang utama pintu masuk Istiqlal. Di situ, kami berdiri agak lama di sisi jalan, di tempat yang terukir garis-garis putih panjang-panjang. Melangkah pelan, dengan kepala yang berpaling ke kiri, mengawasi kendaraan yang entah: saat melihat kami hendak menyeberang, tampak melaju, dengan kecepatan yang saya rasa meninggi. Ini yang saya maksud sikap berkendara, sopan-santun di jalan.
 Entah! Di banyak tempat, kita menyaksikan betapa pejalan kaki selalu terjajah, meski mereka telah berada pada posisi yang tepat. Di lampu merah, tempat yang harusnya digunakan pejalan kaki untuk menyeberang dipadati kendaraan.  Ini adalah pelanggaran hak asasi, dan pemelik kendaraan yang gagal paham itu adalah para diktator jalanan yang menjajah sekaligus menjarah.
Sikap berkendara bagi saya semacam pendekatan psikologi-komunikasi, yang di dalamnya ada empati, yang melihat orang lain sebagai pengguna jalan yang memiliki hak yang sama untuk dipenuhi. Pengendara butuh jalan, pejalan kaki juga punya kepentingan yang sama. Sikap itu seyogyanya dipahami bahwa tiada yang lebih hebat di jalanan, statusnya sama: warga negara/rakyat yang dijamin hak dan kebebasannya. Gagal pahamnya adalah, yang punya mobil apalagi mewah, apalagi berembeli kuasa, seringkali semena-mena. Terjadi sebuah lingkaran penjajahan di jalanan yang selalu merugikan pejalan kaki karena dianggap berada di kasta paling rendah. Yang punya mobil merasa sah semena-mena kepada pengendara motor, pengendara sepeda, dan pejalan kaki. Yang berkendara motor gerah, melawan menorobos masuk ke jalur bus, meliuk-liuk di depan mobil, lalu pula sering kali jahil menggunakan trotoar: mencaplok jalur pejalan kaki. Yang bersepeda menjadi teralienasi, seolah menelan simalakama, tak punya jalur, sehingga nekat menjajal, beradu kecepatan dengan kendaraan yang digerakkan dengan mesin. Begitulah lingkaran penjajahan itu berlangsung, karena superirotas yang tak diikuti sikap memahami.
Empati sebagai buah dari sikap memahami: sikap sejati seorang pengendara, sedianya bisa diinternalisasi. Pelajaran tentang lalu-lintas penting diusulkan agar diajarkan di sekolah, atau minimal jadi syarat yang harus dipahami bagi setiap orang yang akan dan atau memiliki kendaraan. Sebenarnya, pemahaman semacam itu harusnya telah didapatkan dari penerbitan Surat Izin Mengemudi, namun karena kadang langkah-langkah pengurusan SIM bisa dilewati dengan model SIM Cepat Saji (Maksudnya karena ada kenalan atau membayar dengan jumlah lebih kepada petugas semuanya beres) jadilah persoalan ini semakin runyam.  Hasilnya orang pintar berkendara, punya izin, hanya tidak memahami.
***
Saya tercenung, harusnya orang-orang di ibu kota lebih paham. Kota adalah sentrum peradaban, jadi ikon kemajuan, mestinya  jadi kiblat tertinggi budi pekerti. Sayang, sungguh sayang kota semakin maju namun pikiran, sikap, dan tingkah-laku manusia jauh tertinggal. Manusia semakin kolot meski kota telah melambung menjadi megapolitan. Mungkin di situlah bedanya negara maju, dan negara berkembang yang mencoba maju. Kemajuan disertai sikap modern dengan berupaya menghargai sisi kemanusiaan, termasuk di jalan. Tentang internalisasi itu, penting juga kiranya diajarkan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Bahwa tak cukup sekadar membekali anak-anak dengan kendaraan, tetapi memberinya pemahaman tentang “menjadi pengendara yang baik”. Juga penting buat ditegaskan tentang larangan berkendara di bawah umur, bahwa berkendara harus punya izin. Jika anak telah dibiasakan melanggar aturan dari belia, kelak jika dewasa akan menjadi pelanggar lalu-lintas tulen.
Jika sikap berkendara ini dimiliki oleh setiap pengendara dan terus disosialisasikan oleh mereka yang berwenang, tentu wajah ramah di jalanan: khususnya di ibu kota akan semakin tampak. Mereka yang berwenang mengatur lalu-lintas akan terbantu, karena warga pengguna jalan memiliki sopan santun,saling menghargai,itulah sikap pengendara yang baik. Yang membedakan Negara maju dengan negara berkembang dari  aspek lalu-lintas adalah keteraturan di jalanan. Tak ada menerobos jalur, apalagi dengan sengaja melajukan kendaraan jika melihat ada yang hendak menyeberang jalan.
***
“Bagaimana kita menyeberang Pak?”
 Saya lagi-lagi tersenyum meski agak dongkol karena harus berurusan dengan jalan-jalan lebar ibu kota, menyeberang berlomba kecepatan dengan kendaraan bermotor.
“Bapak ikut di belakang saya, jangan jauh-jauh. Semoga Tuhan melindungi kita!

Gorontalo, Agustus-September 2015



0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts