Selain Uang, Kau Perlu Memikirkan Alasan Lain Jika Ingin Jadi Penulis!


diambil dari kapanlagi.com
Selama ini, kita dijejali dengan rangkaian “opini sesat” tentang penulis. Disangkanya penulis melulu soal ketebalan isi kantong atau jalan-jalan keliling dunia. Tunggu dulu, memang segelintir penulis menikmati tumpah-ruah dolar dan rupiah, pula bisa jalan-jalan ke mana-mana merayakan kebahagiaan menjadi penulis. Tapi, perlu mengorek lebih jauh tentang jalan berduri yang telah ditapaki seorang penulis, sebelum melakukan perayaan terhadap sebuah pencapaian.

Menjadi penulis harus mampu berkarib sepi, sendiri, luka, air mata, atau segala “senyawa” yang berkonotasi tidak mengenakkan. Ada titian menuju tebing terjal yang harus dijejaki lebih dulu sebelum akhirnya kita “berkhayal” tentang para penyuka yang berburu tanda tangan misalnya. Atau seberapa mampu kau menahan kantuk untuk menuntaskan sebuah tulisan, entah itu puisi, esai, atau cerpen, dan tulisan-tulisan lainnya. Untuk urusan begadang, sampai saat ini saya masih angkat tangan dan terang saya belum terlampau tangguh menuntaskan  “mimpi-mimpi” yang tidak selesai.
“Menulis itu mudah. Cukup menulis apa yang kau rasakan, yang kau dengar, yang kau raba, yang kau lihat…! Tulislah apa saja, mengalir seperti air, menulislah dengan otak kiri!”
foto dari nulisbuku.com
Sangat sederhana bukan? Oh Tuhan! Saya sering mengulangi petuah itu kepada para peserta Kelas Menulis yang lugu. Lalu mereka terpana, tergerak memahat kata-kata satu-satu. Menuntaskan selembar sampai ke bilangan entah. Namun setelah itu selesai. Ketika saya meminta tulisan rampung agar dikirim via pos elektronik, bisa dipastikan yang mengirim hanya segelintir saja. Satu atau dua orang, bersyukur jika ada tiga atau empat, atau lebih.
Sebelum sampai pada pencapaian prestise itu, setiap kita yang berhajat jadi penulis harus meraba ke dalam jiwa. Bertanya tentang mengapa? Mengapa saya menulis? Untuk apa?! Jika orientasi awal hanya sebatas pencapaian materi yang nisbi maka bersiaplah tersesat. Memang, banyak penulis yang “jadi’ karena “aksi balas dendamnya” kepada kehidupan yang tidak memihak. Dan kabar buruknya adalah para penulis yang jadi itu adalah para alumnus fakultas kehidupan yang getir dan miris. Mereka para kaum pinggiran yang khatam ragam lekuk luka kehidupan. Jony Ardianata, sang tukang becak yang akhirnya menjadi sastrawan terkemuka tanah air, salah satu di antaranya. Mereka meniti karier menulisnya untuk “berubah”, materi kelak menyertai langkah perubahannya. Yakinlah!
***

Malam telah ringkih, secangkir Kopi Pinogu nyaris tandas. Di Warung Kopi Maksoed cerita mengalun dari Penyair Cecep Samsul Hari. Kisah haru nan pilu, menggetarkan. Ada penyair Gorontalo Jamil Massa yang sesekali menyela pembicaraan, membuat diskusi makin hangat, Mas Handoko, te Mail, dan Bang Cup, pegiat literasi Gorontalo yang turut berbagi tentang keajaiban. Ini tentang jalan terjal para penulis. Cerita mengalun berpendar air mata, tentang segala yang pernah dirasai sebagai sebuah inspirasi maha-dahsyat: pahit memang namun mendamaikan.
Bahwa jalan penulis memang bertabur lika-liku. Bukan soal pencapaian, tetapi pasal keinginan berbagi, kesungguhan menyebar nyala perubahan dari obor kebaikan yang dipantik dari segenggam bara. Ya! Memutuskan bergiat dalam “dunia literasi” nampaknya serupa menggenggam bara. Tak banyak yang mau, dan tak masif yang kuat. Di dunia semacam ini, sepertinya kita ditakdirkan untuk “sendiri”. Pada akhirnya, lonceng kesunyian adalah irama paling syahdu yang sering terdengar. Tak mengapa, karena dalam lokon serupa ini, kita berusaha menjadi pengisi kekosongan bagi jiwa-jiwa nelangsa, kerontang, kering, yang telah kehilangan rasa. Bukankah ini tentang cita rasa jiwa?
Foto dari ruangfreelance.con
Keadaan memaksa setiap kita bertarung dengan dunia yang kalap. Materi menampar kita, membuat lena, lalu kita nyaris tak sadarkan diri. Menulis sejatinya kembali kepada diri, di mana kita bisa bertanya tentang apa, mengapa, siapa, dimana, kapan, bagaimana, dan untuk apa?! Menulis sesungguhnya tentang usaha pengenalan diri secara paripurna, bukan sekadar diri yang jasmani, tapi pula diri yang rohani.
Ini bukan pula pasal sorak ramai tepuk tangan. Bukan, Anda dan saya sebaiknya memilih “sepi” untuk membaca dan meresapi kembali: “Apa sih tujuanmu menulis? Ingin mencatat atau dicatat?" Eka Kurniawan. (*)
Silakan disimak:

Share:

4 komentar

  1. Jadi ingin minum Kopi Pinogu, neh ... semangat yuk

    BalasHapus
  2. tujuan sy menulis untuk berbagi cerita ke semua org..

    www.travellingaddict.com

    BalasHapus
  3. Mantap Bang! Sukses dan selalu menginspirasi

    BalasHapus