Duka Dua Negeri Serambi




Burung Maleo. Disalin dari halaman facebook TNBNW
  Oleh: Sultan Sulaiman
Gorontalo dikenal sebagai Negeri Serambi Madinah. Sejak menjadi Provinsi ke-32 dan berpisah dengan Sulawesi Utara 16 Tahun lalu, Gorontalo mulai bergerak maju dengan mengadopsi ragam proyek pembangunan kota metropolitan. Sarana transportasi termasuk infrakstrukturnya dibangun dengan menggelontorkan anggaran miliyaran. Pusat-pusat kegiatan ekonomi raksasa mulai mendapat tempat dan para investor dipersilakan masuk dengan ramah untuk berinvestasi. Sekilas, ini baik dalam upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat menuju kehidupan lebih baik.

Namun ada sesuatu yang memiriskan. Proyek peningkatan debit ekonomi tampaknya amat rakus. Para pemegang kekuasaan sangat bermurah hati menerbitkan izin untuk eksplorasi kawasan hutan. Di Gorontalo Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) merupakan Kawasan Hutan Lindung yang terancam alih fungsi oleh ragam kepentingan, salah satunya untuk wilayah pertambangan. Tersebut, PT. Gorontalo Mineral sudah mengantongi izin eksplorasi, bahkan tersiar kabar amat nyaring bahwa saat ini izin eksploitasi bahkan sudah diterbitkan oleh pemerintah.
Meski berstatus Hutan Lindung, TNBNW saat ini telah koyak dirambah. Kawasan-kawasan tambang ilegal yang dikelola rakyat telah ribuan jumlahnya. Kondisi ini sangat mengancam bagi ekosistem satwa khas Sulawesi seperti anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis), babirusa (Babyrusa babyroussa), maleo (Macrocephalon maleo), yaki (Macaca nigra dan Macaca nigrescens), juga kuskus beruang sulawesi (Ailurops ursinus).  Memiliki luas 282.008,757 hektar, menempatkan TNBNW sebagai taman nasional darat terbesar di Sulawesi. Teridentifikasi 125 jenis burung, 24 jenis mamalia, 23 jenis amphibi dan reptil, serta 289 jenis pohon. TNBNW juga habitat bagi flora endemik seperti cempaka, palem matayangan, dan nantu sebagaimana disebut oleh Christopel Paino di laman www.mongabay.co.id
Rumah sementara para penambang di TNBNW. Foto Christopel Paino
TNBNW yang sebelumnya bernama Taman Nasional Dumoga Bone ditetapkan melalui Surat Keputusan Kementerian Kehutanan pada tanggal 18 November 1992. TNBNW terdiri dari Suaka Margasatwa Dumoga (93.500 hektar), Cagar Alam Bulawan (75.200 hektar), dan Suaka Margasatwa Bone (110.000 hektar)

Di mana-mana, Hutan Lindung selalu menghadapi persoalan yang sama. Perambahan, kebakaran hutan, perburuan, dan pertambangan (baik yang berizin  apalagi yang ilegal) menjadi momok yang menghantui setiap kawasan hutan, termasuk di Gorontalo. Beberapa bulan lalu, bersama teman-teman pendaki, saya melakukan perjalan ke Kawasan TNBNW di Kab. Bone Bolango, menyusuri Sungai Bolango, masuk ke Kawasan Hutan, menemukan realitas yang sungguh mengenaskan. Pohon-pohon raksasa, ribuan jumlahnya tumbang di mana-mana oleh mesin pemotong karena pembukaan lahan-lahan baru milik rakyat. Selain itu, lekuk api yang menghanguskan batang-batang pohon masih jelas. Celaka! Rakyat bergerak dengan instingnya sendiri, tanpa pembinaan, merusak hutan dan menggunakan cara isntan agar segera mendapat lahan baru untuk ditanami jagung (binthe dalam bahasa Gorontalo). Menebang pohon lalu membakarnya adalah langkah praktis minim biaya yang sering dilakukan agar lahan bisa segera digarap. Tak heran, jika bencana longsor, banjir telah sering terjadi akibat hutan yang tak lagi lestari.
Cerita lain yang tak kalah mengerikan datang dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Gorontalo. Dari hasil dengar pendapat dengan DPRD Provinsi Gorontalo, dibeberkan data yang menyesakkan. BPOM telah melakukan pengambilan sampel air minum di rumah warga di 9 Kecamatan di Kota Gorontalo. Hasilnya, air siap minum yang berasal dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) positif mengandung logam berat dengan kadar di atas ambang-batas yang dibolehkan. Penyebabnya diduga dari sumber air baku yang dipasok dari Sungai Bone. Sungai tersebut telah tercemar akibat aktivitas pertambangan rakyat.
Amalgamasi merupakan metode ekstraski logam emas untuk mendapatkan emas dengan kadar kemurnian paling tinggi. Selain praktis, cara ini lebih mudah dan murah, digunakan para penambang untuk mempercepat proses perburuan emas. Meski telah dilarang, merkuri masih sering digunakan secara sembunyi-sembunyi.
BPOM juga membeberkan hal lain, terkait pelarangan merkuri, bahwa pihaknya telah menemukan puluhan karung boraks tak berizin di sebuah gudang penyimpanan milik perusahaan tambang di Kota Gorontalo. Boraks ternyata dipasok, selain untuk dicampur sebagai pengawet makanan, boraks juga mulai digunakan penambang sebagai pengganti merkuri.
Hal ini patut dicermati dan hendaknya menjadi perhatian kita bahwa, kerusakan hutan yang terjadi dewasa ini telah membentuk sebuah lingkaran kerusakan yang lebih besar. Hutan terkoyak, koyaknya hutan menyebabkan bencana, perilaku merusak lain dengan penggunaan bahan kimia berbahaya yang mencemari lingkungan. Berdiam diri terhadap persoalan-persoalan tersebut adalah bentuk pembiaran pada kerusakan yang lebih besar.
Benar! Bahwa telah digagas Lokakarya dan Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) untuk melindungi dan mengamankan TNBNW oleh Pemerintah Bone Bolango. Hanya saja implementasi terhadap MoU tersebut harus dipastikan dalam rangka melakukan proteksi terhadap hutan lindung. Jika tidak, merasakan lezatnya mengasup telur burung maleo hanya tinggal masa lalu, dan generasi di masa depan hanya akan mendengar maleo sekadar dongeng saja, serupa dongeng purba tentang dinosaurus.
***
Dicaprio bersama aktivis lingkungan Aceh. Disalin dari http://kbr.id
Undang-undang No. 05 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya pada Pasal 4 menyebut bahwa pelestarian sumber daya alam hayati merupakan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat. Hal ini dimaksudkan agar antara pemerintah dan masyarakat saling membahu dalam menyelamatkan hutan dari kerusakan. Hanya saja, di bawah payung kepentingan, masyarakat dan pemerintah tampak saling menikam dan menjadikan hutan sebagai “wilayah rampasan” demi mengenyangkan “perut” masing-masing.
Persoalan ini menjadi amat krusial, dari Negeri Serambi Madinah mari menengok ke Barat bumi pertiwi. Di Negeri Serambi Mekah, hal yang senada telah terjadi. Adalah Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) telah dihapus dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Aceh setelah diterbitkannya QANUN  No.19/2013 oleh Pemerintah bersama DPRD Aceh.
Di Negeri Serambi Mekah, isu Gerakan Aceh Merdeka (GAM) telah redup berganti dengan kecemasan terhadap Kawasan Ekosistem Leuser yang terancam. Melalui Gerakan Rakyat Aceh Menggugat (GeRAM), Farwiza bertindak sebagai juru bicara seperti yang dituturkan pada BBC Indonesia, menyebut bahwa penghapusan KEL dalam RTRW Aceh yang berarti KEL tak lagi masuk dalam Kawasan Strategis Nasional menyebabkan kerusakan parah dan kerugian besar bagi masyarakat. Lebih lanjut, Farwiza menyampaikan terbukanya jalan secara luas membuka kesempatan terjadinya tindakan illegal yang intensif, fragmentasi kawasan dan habitat menimbulkan konflik satwa dan manusia yang semakin sering.
Dampak ini telah dirasakan utamanya dengan meningkatnya alih fungsi kawasan menjadi hutan industri. Perkebunan sawit terbuka dan luasnya semakin bertambah. Berlanjut dengan terbukanya  kawasan pertambangan yang jelas mengancam rumah bagi  satwa khas malesiana. Kita terancam kehilangan populasi spesies-spesies langka seperti harimau Sumatera, orang utan Sumatera, badak Sumatera, gajah Sumatera, dan macan tutul (wikipedia.org) Jika KEL dibiarkan dijarah, suatu saat di masa depan, spesies tersebut akan menjadi kenangan.
Saat mendapat kesempatan berkunjung ke kawasan Sumatera (tepatnya Jambi), dari jendela pesawat, saya tertegun menyaksikan deretan perkebunan sawit yang jumlahnya ribuan hektar. Proyek perkebunan sawit ini jelas telah menggusur banyak satwa dan menghancurkan ekosistem hutan sebagai paru-paru dunia. Kita patut merenung dan menumbuhkan kesadaran betapa kelak ketakutan akibat alam yang tak lagi ramah akan semakin menjadi-jadi. Sepertinya ada upaya untuk menggusur seluruh hutan di Kawasan Sumatera dan menggantinya menjadi Hutan Tanaman Industri yang hanya ditumbuhi Kelapa Sawit. Betapa cilakanya kodong Rahing!
Kesadaran terhadap posisi KEL yang strategis ini juga mendorong aktor sekelas Leonardo Dicaprio dan Adrien Brody mengirim pesan untuk menyelamatkan KEL. Melalui foto-foto yang diunggah di instagram baik Dicaprio dan Brody mengajak untuk menjaga KEL sebagai rumah besar bagi satwa liar di Kawasan Asia Tenggara. Bahkan tidak sampai di situ, Dicaprio melalui yayasan Leonardo DiCaprio Foundation menyumbangkan US$3.2 juta (setara Rp 44 miliar) untuk melindungi keberlangsungan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).
Sebenarnya, tak harus menjadi aktor atau aktivis lingkungan untuk  peduli, cukup bahwa Anda manusia yang memiliki nurani. Kita tentu patut tersinggung dengan besarnya perhatian dan kepedulian orang-orang luar terhadap kelestarian hutan kita. Bahwa:
Mengingat pentingnya keberadaan ekosistem dan keanekaragaman hayati, maka sudah seharusnya pemerintah memberikan perlindungan serta payung hukum yang bisa menjamin keberlangsungannya di masa depan. Di Aceh, Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) adalah mata rantai utama bagi lingkungan sekitarnya. Upaya untuk melindunginya harus ditempuh dengan tetap memasukkannya dalam perencanaan ruang, serta tidak menurunkan statusnya karena pertimbangan pragmatis.
Jadi jelas, masyarakat sangat peduli dan harusnya pemerintah menunjukkan sikap yang sama. GeRAM telah menyuarakan, bahkan mendesak Kemeterian Dalam Negeri RI untuk membatalkan qonun yang telah diterbitkan oleh Pemerintah Aceh jika memang langkah untuk memasukkan KEL dalam RTRW tidak juga diindahkan. Ya! Mari kembali meraba ke dalam diri kita, sembari menikmati lagu Berita Kepada Kawan, Ebit G. Ade:
Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang
Dari dua Negeri Serambi: Serambi Madinah dan Serambi Mekah, hutan telah menyampaikan pesan. Kelangsungan kehidupan yang lama dan bersahaja bagi manusia akan tercipta hanya dengan berkarib seintimnya dengan alam. Keserakahan adalah musuh paling besar kemanusiaan dan akar dari segala kerusakan. Predator paling kejam terhadap rusaknya hutan-hutan adalah manusia yang telah kehilangan nuraninya! (*)

 Ikuti Sayembara Blog tentang KEL di sini


Share:

3 komentar

  1. Balasan
    1. Jika berkenan, diikuti dong blog saya Mbak. Belum ada pengikut. Hiks! Hehehe. Salam lingkungan Mbak

      Hapus
  2. Bahkan melihat tanaman dicabut, atau pohon sekitar rumah ditebang pun, saya sudah sangat sedih. Apalagi jika ada hutan rusak :-(

    BalasHapus