Para Pemuji di Pilkada Gorontalo




Tahapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2017 di Gorontalo sudah berlangsung. Genderang pertarungan sudah ditabuh, terdengar dan terasa di mana-mana. Hampir setiap sudut sudah berhias wajah-wajah ramah. Setidaknya, di Provinsi Gorontalo, pada pemilihan Gubernurr dan Wakil Gubernur ada tiga pasang bakal calon yang dipastikan bertarung. Adalah incumbent NKRI (Rusli Habibie-Idris Rahim) diusung Partai Golkar dan Demokrat, Zihad (Zainuddin Hasan-Adhan Dambea) dari koalisi PAN, Hanura, dan PKS. Terakhir pasangan HATI (Hana Fadel-Tonny Yunus) dari PDIP, PPP, PKB, dan Gerindra. Ketiga pasangan calon ini merupakan representasi putra-terbaik Gorontalo yang memiliki keinginan besar mengubah wajah Gorontalo.


Pilkada di banyak tempat adalah ladang penyubur ragam kepentingan. Kepentingan dalam politik sudah lumrah. Sesuai dengan adagium lama politik sebagai penyedia ruang untuk mengabadikan kepentingan. Para kontestan tampak sebagai pemilik sumur madu yang akan didatangi ribuan lebah. Lebah ini datang dengan nektar yang dihisap dari saripati bunga-bunga. Nektar berasa manis dan lembut, beraroma harum nan menggairahkan. Para lebah dengan nektarnya, tak ubahnya para pemuji bertandang dengan segudang puja-puji, sanjung bersenandung menyenangkan hati, untuk merengkuh sesuatu yang ruah dari kantong-kantong para kontestan. Bahwa puja-puji yang menyenangkan hati berimplikasi mengalir derasnya pundi-pundi. 
Simak: 
Para pemuji ini, menurut penerawangan yang saya dapat dari Padepokan Kanjeng Dimas Tidak Taat terdiri dari:
Pertama, raja-raja kecil, bisa kepala desa, tokoh masyarakat, atau merasa tokoh yang datang menawarkan mimpi-mimpi. Mengabarkan bahwa mereka ini memiliki kantong-kantong massa, dengan ratusan calon pemilih. Bermodalkan “cerita-cerita langit” untuk cari perhatian sekaligus pemanis, sangat diharapkan “calon” akan terpikat lalu enteng memberi sesuatu. Jentakanya, tak hanya satu calon yang dilabuhi, mereka akan mendatangi setiap calon kepala daerah dengan cerita-cerita yang sama.
Kedua, kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Gerak-geriknya hampir sama seperti yang pertama. Hanya saja, tawarannya lebih berkelas, bisa dengan advokasi isu tertentu untuk menjatuhkan atau melambungkan calon. Atau program dan acara melibatkan hadirin membludak. Nah!
Ketiga, Jurnalis plus Pers (bodreks) yang memohonkan liputan sekalian publikasi. Pekerjaannya membentuk opini tertentu dengan penyebaran luas dan terstruktur, mengarahkan calon pemilih. Jurnalis dan Pers pada posisi ini berubah fungsi menjadi Tim Sukses! Aduhai! Jika
Keempat, Lembaga Survei.  Jamak, Lembaga Survei acap memainkan kartu sakti. Lembaga Survei memegang kendali dan lazim melakukan intervensi, siapa yang layak  jadi pemenang ditentukan selera lembaga survei. Lembaga Survei dibayar mahal oleh calon tertentu, metodologi ilmiah pun ditunggangi muatan politik, integritas dipertaruhkan, lembaga survei berpindah menjadi tim kampanye. Melengkapkan posisi sebagai pemuji strategis dalam pusaran pertarungan politik.
Ya! Para pemuji (tukang koprol sebutan di Gorontalo) menjadi arus dalam hajatan politik. Dari hajatan paling bawah hingga level paling tinggi, para pemuji selalu bisa menciptakan ruangnya sendiri. (*)
 Baca juga:

Share:

0 komentar