Jumat, Oktober 07, 2016

Mengurus SIM Online di Gorontalo


Sistem Pengurusan Surat Izin Mengemudi (SIM) Online sudah diluncurkan tahun lalu. Karena penasaran dengan mekanisme kerjanya, saya mencoba menjajaki formula ini. Dimulai dengan mendatangi Layanan SIM Keliling yang mangkal di Taman Kota (Gorontalo), setelah menunjukkan SIM yang sudah “mati” setahun lalu, saya diarahkan ke bagian pengurusan SIM Polres Kota Gorontalo.
“SIM-nya Makassar Pak, langsung ke kantor saja, di sana sudah online!”
Ya, penasaran dengan SIM Online itu, saya memacu motor, sekira lima belas menit sudah tiba. Langsung ke loket, menyampaikan keperluan.
“Oh SIM-nya dibuat di Makassar ya Pak?” Tanya petugas.
Saya mengangguk!
“KTPnya masih Makassar atau sudah Gorontalo?”
“Gorontalo” jawab saya. Petugas berjilbab itu tampak ragu-ragu.
“Karena KTPnya sudah Gorontalo, jadi datanya harus diperbaharui Pak. Silakan lengkapi berkas yang tertera di papan informasi!”
Saya menurut, memerhatikan beberapa poin berkas, saya diminta melengkapi berkas sesuai dengan berkas pengurusan SIM baru. Terdiri dari: fotocopy KTP, KIR Dokter, Foto warna 3x4 2 lembar, dan SIM lama.
Pengambilan KIR Dokter di depan Kantor Polres Kota, melapor ke perawat, menunggu sejenak, pemeriksaan tensi, menyebut beberapa angka di buku berwarna, lalu menebak huruf dari jarak tertentu sesuai arahan perawat.
“Tunggu sebentar Pak…!” Kata perawat bermata sipit itu.
Saya duduk di ruang tunggu, di sebelah saya telah duduk lebih dulu seorang bapak bertubuh subur dengan seorang perempuan yang masih muda.
Dari rautnya sepertinya sedang gusar.
“Coba hubungi dulu, siapa tahu ada yang bisa bantu!” Komentar si bapak berseru.
“Urus SIM juga Pak?” Spontan saya bertanya sekaligus menebak.
“Bapak ada orang dalam?” Serangnya.
“Bapak ikuti saja prosedurnya. Mudah kok!” Saya memberi petunjuk, meski agak ragu. Mudah-mudahan benar-benar mudah!
Bapak tadi telah mengantongi KIR, pamit berlalu. Nama saya dipanggil masuk ke ruang dokter, menerima surat KIR lalu membayar sebesar Rp. 40.000. Selanjutnya cetak foto, lalu kembali lagi menyerahkan seluruh berkas yang diperlukan, mengisi formulir di loket pengurusan SIM.
Beberapa saat, petugas memanggil dan menyerahkan bukti registrasi beserta kartu biru bernomor 08. Saya diarahkan ke ruang foto, dimintai KTP, mencocokkan identitas, selanjutnya dipotret.
 BACA JUGA: 
Apa masih harus ikut ujian? Saya sisa perpanjangan SIM!
Sempat saya tanyakan diawal. Djiawab, prosedurnya memang sudah seperti itu katanya.
Kantor ini masih agak sepi, saya kembali melapor di meja ujian teori, diberikan buku beserta contoh soal. Minta dibaca. Setelah saya, beberapa orang melakukan hal yang sama. Di ruangan ini, telah siap beberapa perangkat komputer canggih yang tentu tersambung internet.
Saya membaca sekilas, menyimak contoh soal. Nah! Dari bacaan singkat saya plus contoh soal itu, benderang bagaimana seharusnya pengendara diajak memahami segala hal yang berkaitan dengan kendaraan dan lalu-lintas. Saya senang mendapat pengetahuan baru, betapa selama ini di jalan, saat berkendara, saya masih kerap melakukan kecerobohan, bahkan kesalahan fatal.
Jadi di jalan, kita tak hanya dituntut cakap menggunakan kendaraan, tetapi juga cerdas memahami, sekaligus cerdas bersikap dan beretika. Sungguh, jika semua pengendara diajak memahami, tak ada keributan di jalan, klakson yang melengking di lampu merah, atau aksi saling serobot, karena kita tahu tentang tata krama di jalan raya.
Di sinilah, saya tercenung betapa prosedur semacam ini sangat penting dan seharusnya diterapkan “ketat” kepada seluruh pengendara yang ingin mengantongi Surat Izin Mengemudi. Istilah “jalan tol” dalam pengurusan SIM mestinya tidak ada karena aparat memang sangat bertanggung jawab dalam mengedukasi masyarakat tentang tata krama berkendara di jalan raya.
Saya menyerahkan kembali buku beserta contoh soal kepada petugas dan menyatakan siap untuk ujian teori. Saya bertemu lagi dengan Bapak tambun itu bersama anak gadisnya, dia bergegas, sepertinya telah usai dengan hajatan pengurusan SIM. Cepat sekali, mungkin efek sistem SIM online.
Di ruang ujian teori, komputer sudah dinyalakan, di layar monitor terpajang soal ujian, tujuh soal pertama dijawab sekenanya, tidak memengaruhi nilai, semacam pertanyaan survei untuk Institusi Kepolisian tampaknya. Setelah itu ada tiga puluh soal yang muncul satu persatu yang harus dijawab dalam waktu 15 menit. Tepat di soal yang ke-30, jaringan internet terputus. Saya terkatung beberapa saat, menunggu internet tersambung kembali. Saya menaruh curiga, mungkin sengaja dimatikan. Ah! Tak boleh berburuk sangka.
Setelah sepuluh menit, jaringan sudah “boleh”, dibantu petugas memilih petunjuk selesai yang tertera di layar monitor. Seketika hasil terpajang: LULUS. Untuk lulus ujian teori, minimal harus menjawab benar 21 pertanyaan, itu kata petugas, baru bisa lulus.
Saya ikut ujian berdua, dengan seorang bapak yang terlihat kepayahan sejak dari awal. Saat disodori buku dan contoh soal, si bapak mengeluh karena lupa bawa kaca mata. Sang istri menyertainya, dibantunya dengan membacakan contoh soal dan si bapak menyimak. Namun itu tidak efektif, sang bapak memutuskan balik kanan mengambil kaca mata.
Tahap selanjutnya, ujian praktik. Saya memasuki sebuah ruang kecil, menyerahkan nota registrasi kepada seorang petugas yang sudah siaga di depan layar monitor.
“Tesnya berapa kali Pak?”
“Alhamdulillah sekali saja Komandan!”
“Bawa motor?”
“Iya bawa Dan…!”
“Silakan motornya diparkir di lapangan praktik. Kita akan mulai ujiannya!”
Saya melaksanakan instruksi, membawa motor ke lapangan praktik, menunggu Komandan tadi memasang marka, mendengarkan petunjuk.
Pada ujian praktek, ada tiga tahap yang akan dilalui. Pertama, menyalakan kendaraan dan melajukannya dengan model zigzag, tak boleh menyentuh marka, dan kaki tidak boleh menjejaki tanah. Kedua, menyusuri model persegi yang sempit (mungkin 4x4 m) dengan persyaratan sama, berkendara berputar dua kali. Ketiga, membawa kendaraan menyusuri dua lingkaran model angka 8. Saya gagal di tahap akhir ini.
“Ujian praktek ini satu kesatuan. Harus lulus semua, satu tidak lulus, ya gagal!”
“Jadi Pak?”
“Silakan kembali lagi Tgl 04 untuk ujian susulan!”
Saya mencermati raut sang petugas, sepertinya hendak menawarkan sesuatu, mungkin hendak berkompromi tentang sebuah jalan pengurusan SIM cepat! Tapi saya memaksa diri untuk mengikuti prosedur ini, tak apa sebagai pelajaran juga pengalaman.
“Saya akan kembali lagi tanggal 04 Pak!
***
Ah, dari rangkaian prosedur yang sama lewati, saya mengajukan tanya. Mengapa saya yang sudah mengantongi SIM sebelumnya tetap harus kembali melewati proses seperti mengurus SIM baru, lalu online-nya dimana? Saya sudah menanyakan itu kepada petugas, tapi tetap diarahkan sebagai peserta SIM baru. Sistem online yang diluncurkan ini sependek pemahaman saya untuk memberi kemudahan, namun yang terjadi, sama saja dengan pengurusan SIM manual, tetap membuang-buang waktu, berbelit-belit, bedanya hanya pada form registrasi yang didapatkan mirip bukti belanjaan di supermarket.
Saya juga melihat bahwa memang ada indikasi dibuat susah bagi mereka yang ingin mengurus SIM sesuai prosedur karena jelas biayanya jauh lebih murah. Seolah kita dipaksa untuk lumrah dan paham bahwa “mudah-cepat” itu punya harga yang jauh lebih mahal. Masyarakat biasa yang datang, telah dipaksa secara mental untuk manut pada sistem “jalan tol!”
Saya juga protes dengan kondisi lapangan praktik yang sudah tidak layak. Arena tidak terawat, kerikil besar berserakan di mana-mana, tercerabut karena semen perekatnya sudah lapuk. Untuk kondisi seperti itu, saya sangsi bisa lulus pada tahap angka 8 itu.
Sudah setahun, saya tidak mengantongi SIM motor. Dua kali saya ikut praktik di angka 8, gagal dan saya tak lagi kembali. Sebulan lalu ada operasi, saya kena tilang. Saat itu itu petugas memberi penawaran: mau selesaikan di kantor atau pengadilan. Dengan mantap saya katakan pengadilan. Namun naas, motor ditahan petugas, dengan mencentang pilihan curanmor di lembar Surat Tilang. Saya dituduh mencuri motor milik saya sendiri! Padahal, selain SIM, STNK sudah cukup jadi barnag bukti, tak mesti harus menahan motor.
Soal meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas, petugas sangat bertanggung jawab. Edukasi di jalanan diperlukan, dan diawali dari pengurusan Surat Izin Mengemudi! Bukan salah ibu mengandung, lingkaran suap-menyuap SIM ini memang sudah mendarah-daging, dan polisi selalu tampak angker di mata masyarakat!
SIM online atau offline?
Sama saja, buang-buang waktu, dan menguras biaya yang tak murah. Jika ingin instan, siapkan isi dompet Anda, dan tanyakan berapa angka yang diinginkan petugas!dijamin, tak sampai “basuar” SIM Anda sudah jadi, itu lebih sakti dari Kanjeng Taat Dimas atau Sistem Online!(*) 
Baca juga


  5 komentar:

  1. Endingnya mantap om, saya selalu menunggu tulisan terbarunya. Ingin rasanya sy menulis seperti anda, tulisannya tersusun rapi, sperti air mengalir. Lagi asik-asik baca, eh tau2 sudah di akhir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Bang Alfian. Salam kenal.

      Hapus
  2. itu benaran gampang ya, sangat membantu banget apalagi kalo ada pengingat via email juga kalo udah expired ya

    BalasHapus
  3. Pak apa sampe sekarang ribet begitu ya, saya KTP jawa, sementara SIM sya abis bln kemarin, apa bisa ya mengurus perpanjangan d sini, mohon info ya pak... Terimakasih

    BalasHapus
  4. Pak apa sampe sekarang ribet begitu ya, saya KTP jawa, sementara SIM sya abis bln kemarin, apa bisa ya mengurus perpanjangan d sini, mohon info ya pak... Terimakasih

    BalasHapus

Popular Posts