Literasi Gorontalo untuk Indonesia


Catatan Temu Sastra 2016 Kantor Bahasa Gorontalo
Kang Cecep dan Pak Dr. Sukardi Gau
Perhatian terhadap bahasa dan sastra Gorontalo telah ditabuh sejak lama. Hanya saja, tabuhannya mungkin tak terlampau kuat sehingga samar terdengar. Digawangi oleh Kantor Bahasa Gorontalo, Temu Sastra 2016 digelar. Menghadirkan banyak pihak, para sesepuh pegiat sastra lisan, akademisi, jurnalis, penyair, penulis, dan pegiat literasi. Saya termasuk beruntung bisa bergabung dalam forum penting semacam itu.
Diskusi dibuka langsung oleh Dr. Sukardi Gau, M. Hum, Kepala Kantor Bahasa Gorontalo. Lalu Cecep Samsul Hari yang didaulat “profesor” oleh para tetua Gorontalo disilakan menyampaikan pandangan. Semacam mukadimah agar pembicaraan bisa mengalun dan mengalur sesuai dengan khitah yang diigini penyelenggara.


Prof. Dr. H Nani Tuloli
Peran Gorontalo untuk Indonesia tidak tergantikan. Bagi Kang Cecep Gorontalo adalah Bumi Sastrawan tempat nama besar HB. Jasin bersemayam. Majalah Sastra Horison adalah bentuk dedikasi total HB. Jasin dalam meletakkan tonggak kesusastraan di tanah air. Tak salah, jika julukan Paus Sastra disematkan di pundaknya, dan semestinya Gorontalo mampu membaca itu sebagai sebuah titah luhur  yang mesti dilanjutkan.
Olehnya itu, Kang Cecep menyarankan perlunya merumuskan semacam Rencana Strategis Pembangunan Sastra dalam bentuk cetak biru. Pada titik ini, pembicaraan tentang sastra Gorontalo bukan pemanis belaka. Karena diharapkan dalam dokumen cetak biru Sastra memuat langkah taktis 25 tahunan yang diselenggarakan secara berkala dan dievaluasi setiap lima tahun. Dalam bahasa birokrasi dikenal dengan istilah rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) dan rencana pembangunan jangka pendek (RPJP).
Melanjutkan pembuka pemaparannya, Kang Cecep mengutip Undang-Undang No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Berkenaan dengan pengembangan, pembinaan, dan perlindungan Bahasa Indonesia, pada Pasal 41 ayat 1 disebutkan: Pemerintah wajib mengembangkan, membina, dan  melindungi bahasa dan sastra Indonesia agar tetap memenuhi kedudukan dan fungsinya dalam kehidupan  bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sesuai dengan perkembangan zaman. Pada ayat 2 dijabarkan: Pengembangan, pembinaan, dan pelindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan oleh lembaga kebahasaan.
Pasal 42 secara khusus berbicara tentang Bahasa Daerah. Ayat 1: Pemerintah daerah wajib mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa dan sastra daerah agar tetap memenuhi kedudukan dan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan perkembangan zaman dan agar tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Sedang ayat 2 menyebut: Pengembangan, pembinaan, dan pelindungan  sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan oleh pemerintah daerah di bawah koordinasi lembaga kebahasaan
Menyoal tentang bahasa dan sastra, masih menurut Kang Cecep payung hukumnya sudah sangat memadai. Di tingkatan daerah juga telah diterbitkan peraturan daerah yang mengatur tentang bahasa, termasuk di dalamnya bahasa daerah. Hanya saja, implementasi aturan yang selalu mandeg, entahlah! Padahal, jika ditelisik lebih jauh, saat ini bahasa daerah sudah terancam punah. Kondisi kritis semacam ini akan berlanjut dengan hilangnya beberapa bahasa karena raibnya para penutur yang rata-rata sudah berusia lanjut.
Di Gorontalo, keadaan semacam ini tak jauh beda. Hasil penelusuran Kantor Bahasa Gorontalo memaparkan data, bahasa bonda, yang merupakan bahasa asli orang Gorontalo sudah berada di tebing keraiban karena penuturnya yang semakin sedikit. Terhitung hanya bersisa 5000 penutur saja (dilansir Kompas) yang dimiliki Negeri Serambi Madinah ini. Atas fenomena itulah digagas Temu Sastra 2016 untuk menyebar kecemasan yang sama. Bahwa barisan harus dirapatkan untuk menyamakan langkah melakukan konservasi lebih dini, menyelamatkan bahasa dan sastra Gorontalo.
Prof. Dr. H. Nani Tuloli seorang pemerihati sekaligus pakar bahasa dan sastra Gorontalo turut hadir dalam pertemuan tersebut. Prof Nani mencoba mengulas dan merangkai pembicaraan Temu Sastra agar lebih mengena. Profesor menyampaikan wejangan menyangkut tiga klasifikasi terkait Sastra Gorontalo. Pertama, Sastra sabagai ragam lisan murni yang memiliki 17 ragam di dalamnya. Kedua, sastra tertulis yang dimiliki hanya pada orang tertentu yang diwariskan secara turun-temurun kepada sedarah dalam rumpun keluarga. Ketiga, setengah lisan dan setengah tertulis, seperti mikraji. Uniknya, tiga ragam tersebut tak didapati di daerah lain, hanya ada di Gorontalo.
***
Mansur Dali membawakan puisi
Bob Dylan didaulat sebagai penerima Nobel Sastra Tahun 2016. Penobatan Dylan sejatinya bentuk peneguh dan pengakuan otoritas nobel: Akademi Swedia terhadap sastra lisan, kata Kang Cecep. Pria 75 tahun itu dinobatkan yang berhak dan layak karena dianggap telah memberi kontribusi dalam menulis puitis dalam lagu Amerika. Lagu-lagu pria bernama lengkap Robert Allen Zimmerman sangat puitis dan enak didengar, tapi tentu bukan hanya itu alasannya. Lupakan tentang aksi bungkam Bob Dylan terhadap penghargaan itu. Ini tentang dedikasi, perihal jalan panjang yang telah ditorehkan Dylan sebagai pelaku sastra lisan yang tangguh dan konsisten.
Seperti Dylan yang sudah sepuh, para pelaku sastra lisan Gorontalo yang hadir pada Temu Sastra 2016 menunjukkan kondisi yang sama. Betapa mereka ini, para tetua sudah semakin payah dengan keadaan, usia tua sudah mencabik-cabik kegagahan. Maka saatnya telah tiba. Regenerasi wajib digalakkan.
Disadari, ada masalah dalam upaya pewarisan ini. Ada keengganan kaum tua dan “ketidaksiapan” kaum muda. Ketidaksiapan yang bisa berarti belum sepenuhnya dipercaya. Hal ini diresahkan oleh Camat Suwawa. Upaya yang ditempuh sudah sangat maksimal, mulai dengan menggelar pademokan sastra rutin. Hanya banyak dari kalangan tua yang terkesan enggan membuka diri, akhirnya memilih menutup rapat pusaka sastra yang dimilikinya sebab dianggap sakral dan warisan penting leluhur.
DK Usman, AW. Lihu
Forum Temu Sastra seumpama jembatan, mempertemukan dan meleburkan sekat-sekat tua-muda. Saatnya setiap elemen Gorontalo berpadu untuk cita bersama menyelamatkan bahasa dan sastra daerah yang berada di tubir jurang ketiadaan. Ada beberapa masalah yang terlontar, di antaranya tentang minimnya perhatian pemerintah, anggaran publikasi, dan regulasi yang berkaitan dengan kewajiban mengajarkan bahasa daerah di bangku-bangku sekolah. Selain itu, ada saran untuk meneruskan pertemuan ini pada perjumpaan-perjumpaan rutin, atau sekali waktu digagas Kongres Kebudayaan Gorontalo. Namun apa pun itu, saya tetap yakin, bahwa langkah kecil yang konsisten tetap memiliki daya ledak untuk mengubah.
Seperti yang dilakukan Raihan Ian Lahidjun, seorang ibu petualang sekaligus pendongeng yang mendatangi pelosok tak tersentuh, mengajarkan anak-anak pentingnya budaya literasi. Aksi serupa itu bahkan tak terasa dan teraba dalam tepuk-tangan media massa. Dilakoninya itu karena panggilan nurani. Saat ini Raihan sedang menyiapkan bahan ajar dalam tiga bahasa: Bonda, Indonesia, dan Inggris! Keren.
Ada juga Milasti Muzakkar, perantau asal Palopo Sulawesi Selatan yang menggagas Perpustakaan Taman. Mendatangi anak-anak, memanfaatkan ruang publik untuk kegiatan-kegiatan edukatif. Aksi ini adalah bantahan bagi pernyataan salah seorang anggota DPRD Bone Bolango yang menyalahkan keadaan, seolah anak-anak muda Gorontalo tidak melakukan apa-apa dalam upaya membumikan budaya literasi dalam bingkai penyelamatan bahasa dan sastra daerah.
Soal anggaran, saya turut tertegun dengan pernyataan Bang Syam Terajana. Bahwa aksi jika selalu dilandaskan pada ketiadaan anggaran jelas akan kerdil dan terbatas. Mari bergerak dengan kesadaran penuh sebagai anak bangsa yang peduli. Beberapa rekomendasi yang bisa menjadi perhatian sebagai berikut:
1.  Penerapan regulasi, utamanya di Kab/Kota.  
2.  Publikasi media, bisa dilakukan secara mandiri maupun kolektif yang     dimediasi oleh Kantor Bahasa Gorontalo.
3.  Pendidikan secara serius. Mengusulkan jika memungkinkan Universitas Negeri Gorontalo membuka Jurusan Sastra dan Bahasa Daerah sebagaimana di daerah lain.
4. Digitalisasi produk bahasa dan budaya. Pembuatan aplikasi berbasis teknologi informasi agar bisa diakses oleh siapa saja.
5.  Kongres Kebudayaan Gorontalo,
6.  Penyusunan bahan ajar berbahasa daerah, mulai dari pendidikan dasar hingga menengah.
Tentu, banyak hal yang bisa kita lakukan, bukan sekadar menggunakan pendekatan formalistik birokrasi. Jika setiap entitas peduli, saatnya menjadi pembawa “tohe” menjangkau tempat-tempat gelap, menerangi. Kita tak perlu menjadi apa-apa, menjadi diri yang prihatin dengan keadaan sudah cukup untuk meleburkan diri gelombang perbaikan. Salam!(*)

How many years must a mountain exist, before it is washed to
the sea
How many years can some people exist, before they're allowed
to be free
How many times can a man turn his head, and pretend that he
just doesn't see
The answer, my friend, is blowing in the wind
The answer is blowing in the wind

Blowing In The Wind Bob Dylan

Gorontalo, Oktober 2016

Share:

1 komentar

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Literasi Gorontalo untuk Indonesia
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis yang bisa anda kunjungi di
    pengembangan sastra

    BalasHapus