Selasa, September 20, 2016

Puncak Botu dan Anak-Anak yang Tercecer


Sepasang muda-mudi kepergok Satpol PP Sekretariat DPRD Provinsi Gorontalo hendak menirukan sesuatu. Di puncak bukit sebelum Kantor DPRD, mengarah ke Timur, dipotret senja yang bersemayam di Barat, di antara pohon-pohon duri yang cemas, sang gadis berjongkok, masih mengenakan seragam sekolah berjilbab putih. Gadis manis nan ranum, menanggalkan sesuatu yang menyelimuti mahkota paling berharga, lalu lelaki yang mengaku pangeran telah siaga, menyiapkan sesuatu yang telah tegak kokoh di balik kainnya. Astaga…! Satpol PP menguntit, sigap siaga, berlari, melempar sinyal bahaya. Sepasang remaja itu kelabakan, mewajarkan posisi, berkilah. Keduanya digiring ke pos buat diintrogasi.

Itu cerita setahun lalu...
Kisah semacam itu terus berulang, dan petugas telah abai sebab jumlahnya muda-mudi yang memadu kasih di Puncak Botu ini tak lagi bisa dihitung. Entah, Poncuk Botu memiliki magnet yang kuat, melabuhkkan rindu yang galau, atau cinta yang gagap. Di jembatan Talumolo II, saat senja telah turun, setiap hari, Arjuna Karbitan dan Sinta Yang Tertipu mengikrarkan sesuatu sebagai ungkapan “pertalian”. Meski rapuh, tapi cukup menjadi penyambung harapan  bagi dada yang gaduh, bagi raga yang kesepian. Aduh! Anak-anak yang tercecer.
Setiap malam, sepanjang jalan menurun Sapta Marga dari Kantor DPRD ke arah Talumolo II, kendaran roda dua terparkir dan sepasang kekasih yang mabuk saling merengkuh berselimut gelap di atasnya, sangat rapat, saling menikmati gemuruh dada, yang entah selanjutnya bermuara pada adegan apa.
Telah dikeluarkan ultimatum oleh orang yang paling berkuasa, untuk membersihkan jalur Sapta Marga dari para pelancong semacam itu jelang malam, selalu gagal sebab, Satpol PP kadang lebih tergoda pada siaran TV di pos-pos jaga, atau asyik bermain kartu. Tapi sebenarnya, ada yang lebih kuasa!
Dari manakah asal anak-anak yang tercecer ini? Anak siapakah? Apakah orang tuanya tidak risau dengan kepergian anaknya yang terlampau lama?
Ah! Anak-anak yang tercecer dan orang-orang tua yang geger menjadi simbiosis yang melengkapi roda kehidupan yang semakin angker. Saya menduga, anak-anak ini lahir dari rahim orang tua yang bereksperimen menjadi orang tua. Membiarkan darah dan daging bergentayangan, mencecerkan darah-darah segar milik dara yang dilukai daging yang bringas. Aduh kasihan! (*)

Silakan disimak:

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts