Menikmati Gorontalo Poco-Poco: Selamat Datang di Serambi Manado


Para penari yang kuyup pada acara  Festival Pesona Danau Limboto

“Manado atau Gorontalo?”
“Ke Gorontalo saja Nak. Takutnya kau tak kuat di Manado!”
Saya mengingat percakapan itu, terlontar saat saya memutuskan menjadi perantau. Gagal di Ibukota, dua tawaran tiba-tiba menari di kepala: Manado atau Gorontalo. Oleh bibi, saya disarankan ke Gorontalo saja. Alasannya, Gorontalo lebih kondusif untuk membangun segala sesuatu. Termasuk, melabuhkan pelukan bagi rusuk yang masih kesepian: berumah tangga!

Enam tahun lalu, saya menginjakkan kaki pertama kali di Negeri Serambi Madinah. Segala yang khas tentang Gorontalo tersuguh amat mengesankan. Budayanya, masyarakatnya, makanan, dan perempuannya. Dua yang terakhir memberi kesan batin yang dalam. Makanannya telah berhasil menampar lidah saya yang tidak terlalu terbiasa dengan makanan terlampau pedas. Lalu perempuannya telah menepuk hati saya sangat keras, hingga tertambat lalu berlabuh di pelaminan: hanya butuh waktu enam bulan, saya mendapat keluarga baru di Gorontalo.  
Masyarakat Gorontalo, saat pertama mengenalnya, dalam penangkapan awam saya hidup dalam kultur religi yang sangat kental. Nilai-nilai religius kokoh bagai akar, terpahat pada falsafah Adati Hulahulaa to Saraa, Saraa Hulahulaa to Quruani. Di Gorontalo, Islam menjadi napas dan detak nadi kehidupan masyarakat. Di Gorontalo, Islam menjadi potret utuh toleransi tanpa mudah terusik dengan penganut agama lain, bahkan meeka tampil sebagai penjaga. Di Gorontalo bacaan ayat suci bebas dikoarkan sebising yang kita mau, pula tradisi “keagaamaan” bisa diekspresikan sejauh kita mampu. Dengan cara itulah, masyarakat Serambi Madinah mengaktualisasi Islam dalam penangkapan batinnya yang dalam. Hampir setiap malam masjid melengkingkan suara cempreng ibu-ibu tadarusan. Setiap subuh, suara parau orang mengaji bersahutan, dan di rumah-rumah entah itu arisan atau acara kumpul biasa para orang tua, kebiasaan mengakrabi kitab suci sudah lumrah. Aha! Ada lagi, baeat dan mandi lemon keduanya adalah tradisi bernapas Islam yang masih lestari bagi para kanak (laki-laki dan perempuan) yang memasuki akil balig.
***
Namun, generasi baru dan para orang tua harus bertarung pada zaman yang sudah jauh berubah. Kita berhadapan dengan kenyataan ambigu tentang Gorontalo. Napas-napas baru mengudara, menyuguhkan keganjilan yang jauh dari cita rasa Gorontalo. Kita menikmatinya malu-malu, sambil mengintip dari balik jendela yang dipasangi gorden transparan. Gorontalo tampak kebablasan, aroma khas Manado mulai terasa dari cara kita “berpesta” akhir-akhir ini. Musik-musik melengking di mana-mana, menggusur suara-suara kitab suci. Degradasi etika moral dipandang biasa dan kita semakin menikmati “keluguan yang dungu” tanpa canggung.
Atau apakah kita hendak mengoreksi falsafah: Adat bersendikan syariat, syariat bersendikan kitab Allah? Atau hendak menguatkan sindiran Negeri Serambi Manado?
Mengungkit ini tentu tidak mengenakkan, karena pasti ada tudingan munafik yang mengarah liar untuk menutupi kebablasan. Tapi kita memang harus tegas berdiri di pihak yang mana, sebab diam dianggap restu bagi sesuatu yang timpang. Pesta yang digelar tanpa malu dalam genggaman legitimasi pemerintah, telah mengusik. Efek yang ditimbulkan telah mengarah brutal ke mana-mana. Ada yang bergumam sumbang atau mungkin serius: so pernah leh!
Mari meraba dada, lalu mendengarkan bisikan nurani, mengarahkannya untuk menilai pantas atau tidak? Mari menatap anak-anak kita lalu bertanya warna apa yang hendak kita lukis bagi “kehidupannya” yang bening!
***
Di Negeri Serambi Madinah matahari terlalu garang. Pohon-pohon lindung ditebangi untuk proyek mempercantik kota. Di sekolah dan kantor, kerudung dipakai untuk menerapkan aturan, ditanggalkan saat jalan-jalan ke mal atau pantai, karena matahari terlalu ganas mungkin. Kita tak perlu gusar dengan kemajuan zaman, reaksi kitalah atas perubahan itu yang patut dicemaskan. Di sini, bersama secangkir Kopi Pinogu saya membaca Gorontalo. Membacanya sebagai pendatang yang tertawan hatinya pada perempuan bermata sipit: Perempuan Gorontalo. Manado atau Gorontalo?  Jawabannya dapat dicari dengan meneliti tentang apa yang telah hilang. Kita telah kehilangan sebagian jiwa, makanya menjadi setengah sadar dan setengah gila.
Huta- huta lo ito Eya/Tanah adalah tanah kepunyaan Tuanku
Taluhu- taluhu ito Eya/Air adalah air kepunyaan Tuanku
Dupoto- dupoto ito Eya/Angin adalah angin kepunyaan Tuanku
Tulu- tulu lo ito Eya/Api adalah api kepunyaan Tuanku
Tawu-tawu lo ito Eya/Manusia adalah manusia kepunyaan Tuanku
Baitunya dila peluli hilawo/Tetapi Tuanku tidak diperbolehkan menyalahgunakannya.
Kepada Tuan Pengajar yang kini jadi penguasa, apa jawaban Anda tentang pasal ini? (*)


 Penulis adalah seorang pengumpul kata yang payah.

Share:

0 komentar