Kutukan Kelapa Pulau Karanrang



saefullohrifai.blogspot.com

Karanrang adalah sebuah pulau di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Provinsi Sulawesi Selatan. Di pulau ini tak satu pun kelapa bisa tumbuh. Padahal kelapa merupakan tanaman yang sering dijumpai di kawasan pulau dan sepanjang pantai, namun tidak di Pulau Karanrang.
Di masa lalu penduduk Pulau Karanrang hidup makmur berkecukupan. Segala yang dinginkan dengan mudah diperoleh. Tanah menyediakan hasil bumi. Pohon kelapa tumbuh subur dan berbuah lebat. Laut menyediakan ikan melimpah. Masyarakat hidup aman dan tenteram. Tapi keadaan itu tidak lantas membuat penduduk Pulau Karanrang bersyukur. Malah sebaliknya, mereka  sombong dan pongah, tamak dan angkuh, berbuat sesuka hati dan enggan menolong orang kesusahan.
Suatu ketika seorang nenek tua, ringkih lagi keletihan terdampar di Pulau Karanrang. Nenek itu seorang diri terempas di pantai. Berhari-hari sang nenek terombang-ambing di lautan, digulung gelombang, lalu ombak membawanya sampai di Pulau Karanrang. 
Simak pula:
Dalam kondisi lemah, sang nenek berusaha berjalan. Meski tertatih-tatih, dia melangkah. Satu dua langkah dia berjalan, mendatangi rumah penduduk, meminta pertolongan.
“Saya butuh seteguk air dan sedikit makanan. Apa Tuan bersedia menolong hamba?”
Sang nenek bermohon.  Dia sangat kelaparan dan kehausan. Ia meminta belas kasih penduduk pulau yang hidupnya berkecukupan. Sayang seribu sayang, setiap kali mendatangi rumah, sang nenek selalu ditolak, dicaci-maki, diusir dengan kasar.
“Pergi. Kami tidak sudi menolong. Pergi…!” Ujar seorang penduduk.
Dari rumah ke rumah, sang nenek memohon pertolongan. Namun tak ada yang mau membantunya. Lalu dia berupaya mendatangi rumah paling besar dan megah di ujung pulau. Mungkin pemiliknya seorang yang pemurah. Ucapnya dalam hati.
“Tolong Tuan…! Saya lapar dan haus. Apakah ada sedikit makanan dan seteguk air?”
Sang nenek memelas. Di pekarangan rumah besar dan megah itu, tumbuh puluhan pohon kelapa berbuah lebat. Pemilik rumah itu seorang juragan yang punya perkebunan kelapa sangat luas.
“Pergi kau tua bangka. Tak ada yang akan menolongmu. Segala yang kumiliki kuperoleh susah-payah dengan bekerja keras. Sementara kau hanya pandai meminta!” Bentak juragan bertubuh besar itu.
“Jika berkenan, seteguh air saja, Tuan!” Rintih sang nenek!
“Pergi…!” Kali ini si juragan mendorong si nenek sampai terjatuh.
“Tak ada yang akan memberimu minum, walau hanya setetes air kelapa!”
Padahal hanya dimintai sedikit makanan dan seteguk minuman, semestinya juragan itu tak perlu marah dan jahat. Sang nenek terjatuh. Nyeri di seluruh tubuhnya dirasakan sampai ke hati. Air mata dari sepasang mata tuanya mengalir. Nenek menangis tersedu. Lalu pergi meninggalkan juragan angkuh yang pemarah.
Sesampainya di pantai, sang nenek meraih batok kelapa yang banyak berserakan. Diambilnya satu, dipakai sebagai gayung mengambil air laut. Diminumnya air itu, tentu asin sekali. Air asin tak bisa menghilangkan rasa haus, malah rasa hausnya makin bertambah parah. Mata si nenek menatap langit, tangannya terangkat berdoa kepada Tuhan.
“Tuhan, aku telah melaksanakan perintah-Mu! Betapa penduduk Pulau Karanrang tidak pandai bersyukur atas nikmat yang telah Kau beri!”
Air laut seketika pasang. Kilatan cahaya bermunculan dari langit. Badai dan angin topan bertiup menerbangkan daun dan ranting pohon seperti kawanan hantu mengerikan. Sang nenek telah pergi, lenyap seketika. Penduduk Pulau Karanrang dilanda ketakutan. Mereka berlari terbirit-birit. Berteriak meminta tolong, menyebut nama Allah. Namun Allah telah memutuskan. Hamba yang kufur akan mendapat azab yang pedih.
Setelah kejadian itu, banyak yang mati berserakan. Pohon-pohon kelapa tumbang di mana-mana. Rumah-rumah hancur. Hanya beberapa orang saja yang hidup. Mereka segera bertobat dan memohon ampun kepada Tuhan.
Hidup kembali seperti biasa. Kejadian itu menjadi pelajaran. Masyarakat Pulau Karanrang telah berubah. Mereka sangat menghormati tamu atau orang asing yang datang bahkan sebelum mereka meminta pertolongan. Hanya saja, sejak kejadian itu sampai sekarang, kelapa tak pernah lagi bisa tumbuh di Pulau Karanrang. Penduduk pulau itu terkena Kutukan Kelapa sebagai pelajaran dari Tuhan.(*)
 Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Cipta Karya Paud 2016 kategori Cerita Rakyat

Share:

0 komentar