Film: Uang Panai Maha(l)r di Gorontalo (Selamat Datang di Welcome)



gambar ini disalin dari http://kaltim.tribunnews.com
Saya ingin menulis ini sejak beberapa pekan lalu, sejak selesai memirsa Uang Panai Maha(l)r. Mengawali tulisan ini saya ucapkan SELAMAT kepada sineas Bugis-Makassar, khususnya rumah produksi 786 Production dan Makkita Cinema Production.
Malam Senin dua minggu lalu, kami sekeluarga mendapat traktiran nonton film UANG PANAI MAHA(R)L. Digelar di XXI Gorontalo Mall, mendatangkan produser Andi Syawal Mattuju dan artis (pembantu) Jane Shalimar. Acara yang digelar oleh Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (IWSS) Wilayah Gorontalo disambut hangat oleh perantau Bugis-Makassar di Bumi Serambi Madinah. 
Pada acara nonton bareng (nobar) tersebut, turut hadir Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Wilayah Gorontalo, H. Zaenal Mappe, Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Gorontalo yang juga Ketua KKSS Kota Gorontalo, H. Alifuddin Djamal, SE, dan sebagian pengusaha, pejabat dan calon pejabat, serta warga perantauan Bugis-Makassar yang tersebar di Provinsi Gorontalo.
Acara berlangsung semarak dan tentu berkesan di kepala para penonton yang hadir. Film Uang Panai Maha(l)r membuat saya terpana. Betapa dunia film Bugis-Makassar sudah bangun dari tidur panjangnya. Dalam ingatan pendek saya, dulu film Bugis-Makassar pernah berjaya. Adalah nama Rahman Arge yang menjadi juru selamat dan melebarkan sayap perfilman Bugis-Makassar dalam kancah nasional. Semoga menjadi amal ibadah beliau karena telah menjadi penunjuk jalan cahaya bagi dunia perfilman to Ogi na Mangkasae.  
Film Uang Panai Maha(r)l bergendre drama komedi romantis. Sepertinya bentuk “protes” atas kegelisahan kallolo dan ana’ dara Bugis-Makassar atas mahalnya uang nikah (uang panai). Uang panai sudah jadi momok bagi anak muda yang ingin ke pelaminan. Dalam banyak kasus, pernikahan bisa batal karena ketidakcocokan “angka” dari kedua belah pihak yang hendak menyambung tali keluarga.
Menikmati Uang Panai Maha(l)r mengajak setiap Bugis-Makassar di tanah rantau sejenak mengunjungi kampung halaman. Kerinduan bermunculan dan kisah-kisah masa lalu tergelar kembali. Kisah-kisah pelarian para perantau.
“Om dulu dengan orang Sengkang.  Dia sempat menyusul bahkan setelah merantau ke Gorontalo! Entah kenapa tidak jadi. Dia yang duluan menikah!”
Percakapan nostalgia mengalir, saya hanya menerawang, memaksa ingatan datang namun gagal. Ah sudahlah!
Kembali ke Uang Panai.
Magnet terbesar film ini terletak pada peran dua pemeran utamanya: Abu dan Tumming. Betapa keduanya sukses menghadirkan bayolan renyah Bugis-Makassar, yang sesekali disisipi pesan yang kesannya tak menggurui.
Duniaji ini ces…!
Janganko lupa bahagia nah!
Ini belumpi berjuang, mundurmi!
Film ini sejak rilis 25 Agustus 2016 sukses mencuri perhatian penonton tanah air. Uang Panai menjadi film cita rasa daerah yang digemari, terbukti dengan semaraknya penonton berebut tiket di layar-layar bioskop terbatas di beberapa kota: masuk di jajaran film laku, tembus hampir setengah juta penonton. Kesuksesan film ini karena kecerdikan melirik para saudara yang jumlahnya “banyak” di tanah-tanah rantau yang jauh. Dari Sabang sampai Merauke, pas tahu ada Film Uang Panai, dengan susah-payah, dengan semangat empat lima para “pasompa” rela datang menumpahkan sekaligus melabuhkan kerinduan yang terlampau nyaring. Seandainya diputar juga di Negeri Jiran, saya yakin film Uang Panai akan bertemu dengan para penggemarnya di sana. 
“Kalau bukan Anca nama pemeran utamanya, Om tidak nonton!”
Nah…! Film ini memanfaatkan kedekatan primordial untuk mendulang sukses. Selain  itu, ada rasa penasaran yng membawa banyak raga bersatu-padu di depan layar. Raga-raga yang masih ragu, maju atau mundur. Angka-angka rupiah dan sederet penyempurna prosesi “pernikahan” Bugis-Makassar yang terlampau tenar karena nilainya  yang fantastis. Film ini berhasil diselesaikan dengan mengesankan oleh Anca (Ikram Noer) dan Risna (Nur Fadilah). Anca yang orang Bugis dan Risna yang Makassar akhirnya bisa melewati ujian “Uang Panai” dengan  menempuh jalan benar. Tidak memilih silariang sebagai bentuk penyelesaian instan atas nama cinta. Nasaba narekko silariangngi, mappakasiri-siri.
Tentang uang panai. Banyak hal yang menyebabkan angkanya terlampau tinggi. Dikisahkan, mahalnya panai Risna hasil dari “ngerumpi” ibunya dengan kelompok arisan yang menyebut anaknya si ini menikah dengan panai sekian, anaknya si anu panainya segini. Pula, faktor ayahnya yang pengusaha jatuh bangkrut menyebabkan dililit utang. Yang jelas, angka uang panai beragam dan berdasar dari banyak faktor. Bisa karena mengikuti tetangganya, sepupunya, kakaknya, yang telah menikah, berapa angka panai-nya maka segitu pula taksiran harga yang kemungkinan dijatuhkan.
Janganko pernah usik harga diriku.
Apa yang ditempuh Risna dengan memilih memberi bantuan kepada Anca adalah cara lumrah yang banyak ditempuh sepasang kekasih untuk melegitimasi hubungan menuju pernikahan. Namun dalam kaca mata budaya  Bugis-Makassar, hal semacam itu melanggar harga diri. Lelaki  yang menggenggam erat “siri” tak akan menempuhnya!
Film ini asli kocak, kekocakannya menjadi dominan sampai pada adegan mammanu-manu. Di mana terjadi proses tawar menawar atas harga. Di sini kecakapan berbalas kata sangat dibutuhkanm karena salah berucap bisa berakibat fatal. Nah! Harusnya suasana serius bisa hadir saat itu.  Ada haru jelang akhir cerita, lalu resah berganti sumringah saat Anca dan Risna mendapat restu atas apa yang telah diperjuangkannya.
Kopi boleh pahit, hidupmu jangan!
Saya masih terganggu dengan pergantian adegan yang terpotong agak kasar, dan aksi tiga pemeran pembantu wanita penggemar Anca yang terlalu “heboh”! (*)
***
Mari Menyimak:

Share:

4 komentar

  1. kayak filmnya menarik ya

    blognya sa sy folow yya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menarik Mba. Silakan Mba! Salam kenal

      Hapus
  2. Ustad, Uang panai itu Mahar atau biaya Nikah?

    *www.gorontalotoday.net

    BalasHapus