Cerpen: Ayah...!



zazanizam.blogspot.com
Senang bisa dipanggil ayah, sangat senang. Sudah jelang tiga tahun, banyak kelucuan yang Ananda suguhkan. Tingkah yang menggemaskan, dan hal-hal ajaib lain membuat hari-hari di rumah mungil ini penuh warna. Ah...Aku seperti menapaktilasi diriku puluhan tahun lalu.
“Ayah ini apa?”
“Meja...!
“Ini apa?”
“Kursi”
“Apa ini?”
“Bola”
“Ini apa?”
“Hayo...Apa coba?”

Ananda berpikir. Menyebut kata. Lalu kembali sibuk dengan mainan. Pertanyaan-pertanyaan itu, pertanyaan yang datang bertubi-tubi, setiap hari, sejak Ananda mulai pandai menyebut beberapa kata yang diajarkan bunda, atau yang secara ajaib didapat entah dari mana. Aha...! Begini asyiknya menjadi orang tua. Pertanyaan-pertanyaan spontan yang kadang menyulitkan, selamat datang.
Dulu, aku sempat berpikir menjadi orang tua sekadar siklus yang akan mendatangi siapa saja. Tak perlu persiapan, tak perlu belajar, menjadi orang tua bisa dilakoni secara autodidak. Ya, seperti orang tua kita dulu, nenek kakek kita yang pendidikannya tidak tinggi-tinggi amat tapi sukses mengajarkan banyak hal, dari etika sampai cita-cita, semuanya kita serap melalui sekolah kehidupan yang ditanamkan di rumah-rumah. Dulu, di masa kita masih belia, rasanya belum didapati training-training parenting seperti sekarang.
Dan...?
Kata Robert Tiyosaki, di masa sekarang, kita sudah hijrah dari era-industri ke era-informasi. Segalanya berjalan amat cepat, dan dunia sudah dalam genggaman. Namun tantangan makin berat, anak-anak kita sekarang generasi internet. Para orang tua baru, banyak yang telah mengakses pendidikan hingga sarjana, bahkan ada yang magister atau doktor. Nah, apakah kemudian deret jenjang pendidikan yang diresap itu juga secara linear menjadi penentu bahwa kita sebagai orang tua baru akan sukses menjadi orang tua? Jawabannya, bisa ya, bisa tidak. Tapi, beberapa kejadian yang berseliweran di sekitar kita tampak membuat getir. Ada ibu muda, lulusan universitas ternama, secara sadar membunuh anak-anaknya hanya karena sesuatu yang mungkin bagi kita sepele. Dan? Di lingkungan tinggalku, hampir setiap pagi serapah, kemarahan, bersulam kata-kata kasar tumpah dari mulut seorang ibu pegawai negeri yang dihormati.
“Yeeee... Hebat...!”
Ananda terpingkal, bersorak mengangkat kedua tangan, mengembangkan tawa setelah sukses menyusun rapi aneka permainan di meja.
“Wah...Hebat...!”
Aku seperti tak percaya jika yang tergelar di meja itu hasil jerih tangan mungilnya. Ananda cepat belajar.
Inilah masa-masa itu, masa dimana Ananda akan jadi peniru nomor satu di dunia. Masa dimana ayah dan bunda harus lebih berhati-hati dalam bersikap, karena setiap laku akan mudah direkam dan diekspresikan sempurna dari sosok mungil Ananda. Jika, tiba-tiba saja Ananda mengambil sapu lalu berusaha membuang kotoran yang berserak di lantai, dia mencontoh bunda. Jika secepat kilat Ananda mengambil kain lap lalu mengepelkannya pada air, susu, atau segala yang tumpah, Ananda meniru bunda. Lalu, jika ia memakan sesuatu, entah itu permen atau roti, Ananda akan membawa pembungkusnya di tempat kami biasa membuangnya. Oh...! Bukan hanya itu, Ananda juga kerap memukul tanpa sebab, berteriak jika marah, dan melempar sesuatu jika kesal. Dimana dia belajar?
Aku, memutar kembali kenangan, saat aku, kau terlibat pertengkaran, ada histeria, lalu segala yang diam akhirnya bersayap, terbang lalu pecah. Dia, menyaksikannya dengan tatapannya yang anggun, lalu sesal menyelimuti kita berdua setelah segala kegaduhan itu. Semoga kita bisa memanjangkan kesabaran...!
“Hari ini, Ananda selalu bertanya, ayah dimana. Berkali-kali. Bunda kewalahan menjawab!”
“Bunda sudah bilang, Ayah di kantor Nak, tetap masih juga bertanya. Tak pernah puas...!”
Ah...Beginikah rasanya dirindukan?
Pertemuan-pertemuan ketika senja telah turun menjadi sangat dramatis. Aku membuka pintu, lalu ananda berlari kegirangan menghamburkan pelukan, menciup tangan mengecup pipi. Aduhai. Ini yang selalu membuatku rindu...! Bongkah beban di pundakku seperti pecah, menguap bersama derai tawa menggemaskan Ananda. Bahagia yang sempurna.
Adakah yang lebih membahagiakan?
Ayah selalu berusaha hadir dalam dekap Ananda, memastikan setiap hari berlalu penuh tawa. Kesadaran fundamental itu hadir, betapa menjalani segalanya tidaklah mudah. Menjadi ayah, bukanlah lakon spontanitas yang mengikuti ucapan “seperti air mengalir”. Tidak...! Segalanya butuh persiapan: fisik, mental, spritualitas, dan kebutuhan yang pula asasi: finansial. Aku mulai terkulai jika membicarakan poin terakhir itu. Aku mulai sadar dengan ceramah Robert tentang kecerdasan finansial yang harus dimiliki setiap diri agar survive di era-informasi ini.
Hari-hari ini berlalu sangat lambat seperti siput yang merangkak. Hal-hal yang mencengangkan membuat kelimpungan mendatangiku, seperti menghunjamkan badik tepat di jantungku. Aku terkulai. Betapa ketersediaan isi dapur membuat pening. Beras habis, popok, susu, dan segala aneka makanan yang dibutuhkan buat tumbuh-kembang Ananda. Lalu aku seperti membenci kemurahan hati. Aku merutuki orang-orang yang terlibat pinjaman dan tidak pernah sadar mengembalikannya. Aku membenci diriku karena hanya terpaku pada pendapatan bulanan yang tidak pernah cukup. Dalam hitunganku, setiap bulan kami harus menyiapkan dana taktis dua kalipat dari gaji agar bisa hidup normal. Arggg...! Sesal menjalar, merutuki ketidakmampuan, menyerapahi ketidakbecusan. Lalu kalah lirih berucap: “Maafkan Ayah...!”
Kau kekasih, aku menemukan kecemasan yang lebih dalam di matamu. Terima kasih, atas segunung kesabaran yang telah kau siapkan. Terima kasih atas segala jerih yang pamrih kau hadiahkan. Semoga surga, semoga berkah senantiasa bersemayam, semoga rahmat menemani kita selalu di masa-masa sulit ini, pula di masa yang belum tersentuh.
“Bunda memasukkan lamaran kerja...”
Sesuatu menamparku, menggoyahkan kedigdayaan yang telah jadi tameng sejak dulu. Aku telah gagal menjadi benteng untuk menciptakan segala rasa aman dalam kebersamaan ini. Ya, keamanan finansial salah satunya.
“Ayah tulis...!”
Ananda datang dengan langkah-langkah kecil yang terburu-buru, menyerahkan pensil dan buku tulis yang halamannya masih putih...!
“Tulis apa Nak?”
Oto...!”
Aku mulai menarik garis, menggambar bentuk sesuai instruksi. Selesai.
“Lagi...!”
Aku kembali menggambar dan Ananda sibuk memberi perintah sampai seluruh halaman buku penuh. Segala macam aktivitas di dapur telah usai. Ananda, aku, dan kau menikmati kebersahajaan di tengah gemuruh detak jantung kita, dalam terjang badai kehidupan yang menghantam biduk yang baru berjalan hitunan tahun. Segetir apapun, sesulit apapun, sepahit apapun, kita akan berusaha saling merengkuh saling menguatkan. Segala ingatan membawa kita menyelami Sang Pemilik Takdir, lalu doa-doa kembali dipanjangkan. Hari-hari ini, adalah hari dimana aku belajar menjadi lebih dewasa, merasai beratnya tanggung jawab ayah, senyap namun bermakna. Ya! Aku jadi tahu kenapa setiap ayah selalu ditakdirkan sedikit bicara.
Aku membelai kepala Ananda, suhu badannya tidak normal. Panas.
Aku menggenggam tangan bunda, dingin…!
Bunda sakit? Ananda demam?
Allah…!
Mengapa semuanya harus datang di saat-saat seperti ini. Semuanya makin mendebarkan, makin menakutkan. Giliran aku keringat dingin, memutar otak, mencari pinjaman. Aku tak sanggup membayangkan kemungkinan terburuk itu. Allah…!
“Bunda baik-baik saja insya Allah. Hanya kelelahan mungkin…!”
Jelas bunda kelelahan, menjadi ibu rumah tangga memang meremukkan tulang-tulang. Aku bisa merasakan, betapa penatnya dirimu yang harus melakukan banyak pekerjaan berulang-ulang. Berulang-ulang, membuat segala yang bunda lalui terkesan monoton. Kondisi semacam itu kerap memacu laju adrenalin. Ditambah beban yang lain. Stress adalah awal dari segala ketidakbugaran.
Maafkan Ayah…!
***
Malam menua. Cakwala berhias bintang. Bulan bulat sempurna di atas sana. Ini malam yang memesona andai kita tak dirundung nestapa. Aduhai, mengapa pula merasa senestapa ini. Ananda telah terpejam bersama demam yang menjangkitinya. Dalam hening, kau lirih bersuara.
“Semoga besok Ananda sehat sedia kala!”
Aku mengaminkan sembari menatap jauh, pada tumpukan pekat yang sepertinya gumpalan awan. Perasaan tak berdaya semacam ini sangat tidak diinginkan setiap lelaki. Harusnya, lelaki selalu bisa memastikan pundaknya sekokoh tebing untuk dijadikan sandaran perempuan dan anak-anaknya.
“Ayah…”
Tatapanku berpindah pada dua bola mata sayu milikmu. Kau mengeluarkan sesuatu dari jemari. Sebuah benda, yang menemanimu lebih dari tiga tahun. Benda bertuliskan namaku dan tanggal pernikahan kita.
“Jika sempat, besok ayah singgah di pegadaian.”
Aku melayangkan protes, tapi hanya berkobar di dada. Kugenggam erat jemarimu, menikmati segala yang tumpah di teras rumah kita. Perasaan itu, lagi-lagi merangsek dan mengolok-olok lebih menohok. “Kamu telah gagal jadi lelaki, gagal jadi suami, gagal jadi Ayah…! Gagal jadi segalanya!”
“Bunda, apa harus digadaikan?”
“Tidak apa-apa Ay…! Ujian semacam ini akan mendatangi siapa saja. Allah sedang menggelar tangga menuju tingkat kedewasaan berumah tangga selanjutnya. Kita hanya butuh memanjangkan sabar, memaksimalkan usaha, dan banyak berucap doa…!”
Tiba-tiba aku teringat dengan banyak hal, tersadar dengan lalai. Banyak cara Tuhan menegur kita, salah satunya dengan menurunkan kesempitan. Kesempitan menjadi pintu hamba bermanja-manja dengan Tuhannya…!
“Ayah…! Ini apa…?”
Suara bening ananda memecah sunyi malam ini. Kau mengulum senyum, aku melebarkan tawa. Bahkan walau demam sekalipun, igauan Ananda adalah ayah. Beginikah rasanya dirindukan? Entahlah, segala rencana mulai tertata dan aku menemukan landasan pacu untuk mengepak lebih tinggi. Kesempitan ini akan segera berakhir sesuai ingin Tuhan menuntaskannya. Aku teringat ucapan yang pernah diajarkan guru kala mendapati kesulitan. Aku membisikkannya di telingamu, lalu kita sama-sama melafazkannya.
“Hasbiyallahu laa ilaaha illa huwa alaihi tawakkaltu wahuwa Rabbul Arsyil Adzim” (7X)
“Cukuplah Allah bagiku, tiada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arsy yang Agung” (At-Taubah: 129)
Ayah, sekalipun namanya selalu disenandungkan, ianya menjadi kuat karena ada perempuan kokoh yang menjadi sayapnya. Aku teringat ayah, setiap dekapannya kudapati degup jantung ibu yang bertalu. Maafkan Anakmu, belum sehebat dirimu menghadirkan kehangatan buat perempuan dan anak-anaknya…!(*)
 Gorontalo, 10 Desember 2014

Simak cerpen lainnya:


Share:

0 komentar