Cerpen: Ara!



honeyizza.files.wordpress.com
“Hujaan…!”
Langkah kecilnya tergesa, berlari meminta perlindungan pada perempuan yang sibuk di dapur. Gemuruh seng bersahutan tertimpa bulir bening dari langit. Ceracau angin, sesekali petir, kilat membiaskan terang pada jeda yang tidak teratur dari jendela. Genggaman kecil lelaki itu semakin erat, menyulam senyum simpul di bibir Ara! Oh, perasaan itu menjalarinya. Betapa ia merasa sempurna jadi perempuan!
“Ibu…Hujan…!”
“Iya…! Kakak lelaki, tak boleh takut hujan…!”
Sepasang mata bening itu tiba-tiba berbinar. Memeluk ibu selalu menyenangkan. Apalagi hujan, gemuruh di luar semakin buncah. Ada cemas yang tiba-tiba menjalar di dada Ara. Hujan ini, tak serupa biasa. Digendongnya lelaki kecilnya, cemas berubah ketakutan. Sempurna memasungnya di sore yang kelabu, saat hujan turun tak bersahabat.
Deru kendaraan terdengar samar. Bunyi klakson, terdengar langkah sepatu membentur tegel, langkah tergesa, pintu diketuk. Oh, ketakutan berubah sumringah. Kekasihnya telah tiba.
“Ah…Itu Ayah…!”
Lelaki di gendongan menggeliat, melepas rengkuhan, bergegas, berlari menuju pintu, dia tak lagi peduli pada hujan yang memekakkan. Sosok yang mengetuk pintu itu membawa sebagian renyah tawa, juga bongkah bahagianya. Ara menyusul dari belakang, membawa handuk agak terburu-buru, memutar kunci, terdengar bunyi seperti suara cicak, pintu terbuka.
Aduhai, yang ditunggu sempurna kuyup. Melepas jaket, meraih handuk lalu mengurai senyum datar di wajahnya. Sang lelaki kecil terlihat tidak sabaran menunggu ayah selesai dengan ritual pulang kerja. Tapi hari ini tak seperti biasa, karena ritual itu berlangsung sedikit lama. Ara tersenyum, melihat tingkah bocahnya. Tatapan mata perempuan ayu itu rekah, saat satu kecupan mendarat di keningnya. Sebuah ucapan lirih ditunggunya: “mencintaimu…!” Ara melayang, tak peduli pada hujan. Begitulah, perempuan selalu saja melambung dengan pujian lelaki.
“Ayah…Hape besar mana…?”
Maksudnya smartphone yang ukurannya hampir menyamai batu bata. Ayah berlalu, meski mendengar suara kecil itu. Ayah harus bersalin kain, abai pada si kecil yang bertanya, meminta!
“Ayah….Haaaapeeee…!”
Wow…Suara itu melengking, kalah derunya dengan gemuruh hujan. Sesuatu hinggap di benaknya…!
“Kakak…tidak boleh seperti itu…!”
Lembut istrinya menenangkan. Dia masih bertarung tanya.
***
Baso menikmati pagi. Jejak hujan kemarin masih tersisa, halaman masih basah. Semburat kaca dari cakrawala tampak samar, tapi gerah telah menyergap pagi-pagi. Secangkir kopi telah tandas, pikirannya mengembara entah kemana. Hingga Ara menghampirinya. Sepasang mata sipit itu memotretnya dengan balut senyum bunga. Baso menyambut wanitanya.
“Balita tak boleh terlalu diakrabkan dengan gawai. Smartphone dan semacamnya bisa membekukan otak! Anak jadi pemalas jika sampai kecanduan”
Ah…! Ara tak mampu berucap. Tema itu lagi. Semakin hari, didapati suaminya makin aneh, makin ortodoks saja. Beberapa hari lalu, televisi diangkat paksa dari rumahnya, dijual. Baso gelap mata mengira TV tiada guna. Hanya sumber petaka. Tentu lelaki itu pnya alasan, tontonan makin hari tak lebih dari sampah. Manusia yang dipaksa jadi binatang, atau binatang yang beralih profesi jadi bintang senetron merupakan rentetan hal-hal aneh yang menghiasi layar kaca. Belum lagi, tayangan gosip tidak produktif yang banyak diburu ibu-ibu, termasuk (mungkin) Ara, istrinya.
“TV tak lagi jadi corong edukatif. Justru semua sampah masyarakat tersiar murah dan ribuan pasang mata anak-anak menontonnya. Kotak kaca itu sudah jadi pembunuh masa depan yang mengerikan!”
Tak ada yang bisa dibantah Ara. Semua benar, protesnya muncul karena ia tak lagi bisa menikmati tayangan gosip yang kerap jadi bahan perbincangan ibu-ibu kompleks perumahan. Ara butuh kotak kaca itu buat penegasan status, agar dia tak gagap, atau kelihatan bodoh jika bertukar kabar. Ratu Jodha? Bagaimana kabarmu? Elif?
Oh! Sesak hinggap di dadanya, jika harus mengingat kejadian itu. Kejadian yang membuatnya bersitegang dengan Baso. Sepele, tapi selalu besar di mata suaminya. Ara walau berkilah masih ada Upin-ipin, Pada Zaman Dahulu, atau Bobo Boy…! Semua mentah di depan Baso. Tadinya, lelaki kecilnya ingin dijadikan tameng, namun gagal. Televisi harus minggat dari rumah.
Gundah itu lekas diusirnya. Tentang smartphone? Apakah maksud Baso, ponsel pintar juga akan jadi barang haram buat diakrabi? Ara tak bisa membayangkan hari-harinya. Terkurung di rumah, hanya berdua dengan lelaki kecilnya seperti menghitung pasir di hamparan pantai. Sebelumnya, ada TV yang jadi pelarian jika penat. Sulit rasanya menerawang hari-hari tanpa facebook, twitter, instagram, WA, dan ragam media sosial lain. Update status lalu menghitung jumlah like, berbalas komentar. Betapa gelap hari-hari tanpa dunia maya.
***
Jalan pikiran Baso makin sulit dicerna. Ara kebingungan  berhadapan dengan banyak keanehan yang datang tiba-tiba. Keanehan yang menyoal hal sepele dan mengangkatnya jadi headline perdebatan. Apa daya Ara, suaminya terlalu tangguh buat diselisihi.
Teknologi itu sarana. Mendekatkan yang jauh, hadirnya mestinya mengabrabkan. Teknologi luar biasa canggih tapi manusia makin bodoh. Banyak yang rela mempertaruhkan sisi kemanusiaan, menjadi budak smartphone dan benda sejenisnya. Dunia telah kehilangan cita rasa sosial, menyulap ribuan mata jadi hamba teknologi. Tengok di ruang tunggu, di emperan toko, di dalam bus, di segala ruang, gawai jadi pelarian. Di meja makan, makanan harus difoto dulu sebelum disantap, benar kan?
Menyapa seseorang basa-basi bukan lagi kebiasaan. Yang parah, laku semacam itu terseret dalam lingkaran inti masyarakat: keluarga.  Istri, suami, anak memiliki dunianya sendiri. Dunia yang berbatas pada perangkat lunak, pada sebuah layar sentuh yang menyediakan segalanya.
Beberapa kali Baso memuntahkan amarah sebab Ara lebih sibuk dengan gawai. Suatu ketika, di ruang makan, saat makanan telah tersaji. Ara asyik potret sana-sini, unggah, setelahnya sibuk cekikikan sambil membalas komentar. Baso menggebrak meja, yang tertata berantakan, jatuh berserakan, menimbulkan suara gaduh, membangunkan si kecil yang pulas. Betapa perkara kecil itu menghancurkan segalanya. Melumatkan malam-malam yang seharusnya bahagia.
Postulat Baso kian terbukti, saat mendapati anaknya menunjukkan gejala kecanduan. Sebelum ke kantor, selalu dicegat, dilarang bawa hape besar dan note book. Itu menjadi terlarang akhir-akhir ini, dan Baso selalu mengalah karena tak sudi mencicipi lengking tangis yang masih terlalu pagi. Kegaduhan yang terlalu dini merusak suasana hati, mengacaukan ragam hal yang sudah diagendakan. Pekerjaan akan terganggu, Baso tak sudi itu terjadi.
Gejala kecanduan itu didapatinya tambah parah. Kala beranjak tidur, anaknya memaksa membawa serta kawan-kawannya itu. Memastikan hape besar harus dibawa, menemaninya di kamar tidur. Baso sangat memahami, ada sesuatu yang mulai terganggu, psikomotorik anaknya terancam. Dalam kondisi seperti itu, Ara, istrinya kembali jadi sasaran kemarahan.
“Berhentilah menyalahkan benda atau orang, Ayah…! Berhenti menyalahkan segalanya!”
“Jika sebab kejahatan orang, akhinya kita membenci dunia, maka kita telah menjadi orang yang sakit. Terlalu berburuk sangka pada kehidupan tidak baik. Bersikaplah dewasa…!”
Ruang tamu lengang, pertengkaran yang ke sekian dengan tema yang itu-itu saja. Perkataan istrinya itu membuatnya terusik. Berdesing di telinganya, merasuk menyentuh kesadaran. Apakah sikapnya selama ini salah?
***
Lelaki jangkung brewokan itu ingin kembali ke masa-masa itu. Masa lekat dengan tanah, bermain kelereng di halaman yang luas. Membuat layang-layang, menerbangkannya di sawah saat musim panen tiba. Masa dimana bermain bola meski berlumur lumpur adalah sesuatu yang hebat, bermain di sungai, menangkap ikan, atau mencari buah di kebun-kebun kala musim buah tiba. Bermain gasing, petak umpet, atau jika sedang malas, cukup ke pos ronda bermain ular tangga, monopoli, atau halma. Baso ingin kembali ke masa di mana tawa benar-benar renyah, berkirim pesan sangat mendebarkan meski hanya dari secarik surat yang ditulis tangan.
“Ayah…, pinjam hape dong!”
Buyar! Anak ini, dari mana belajar merayu. Oh! Itu persis gombalan Ara saat gencatan senjata. Saat kata berhenti bersilat, berpilin sunyi lalu rindu mengetuk dari dua hati  yang berkecamuk. Ah, Baso selalu luluh jika mendapati Ara berlakon begitu.
            “Ayah…! Pinjam dong…!”
            Sekali lagi, dengan wajah imut memelas, kalah menggemaskan dari boneka panda.
“Kakak mau bikin apa?”
“Main oto…! Main oto…!” Melonjak antusias, kegirangan!
“Eh…! Di belakang rumah ada anak ayam. Pasti lucu, kakak mau lihat?”
“Tidak mau…! Hape…!” Menyilangkan tangan di dada, meniru Marsya and the Bear yang sedang   marah!
“Tidak boleh kakak…!”
Baso bertahan. Tangis pecah lagi. Membuat Ara tetiba melonjak dari dapur, menengahi pertikaian dua lelaki. Kepada siapa Ara berpihak? Bisa dipastikan, lelaki kecil menang.
“Ayolah Yah, ga papa kan sekali ini…?” Ara berujar, sambil mengedipkan mata, memainkan kening, menghias wajahnya dengan senyum khas. Senyum penakluk lelaki.
***
Ara bangun kesiangan. Penyakit musiman jika tidak salat. Tak didapatinya Baso. Tak seperti biasa, Baso berangkat kerja lebih awal. Agak  terkejut mendapati meja makan telah berhias sarapan aneka macam, plus sebuah kado mungil lembayung tergeletak di sisi yang lain. Dibukanya, sebuah cincin berbalut permata dan tulisan tangan Baso mengungkap sesuatu. Ara masih dihinggapi tanya, tak biasa. Dia harus bersiap pada sebuah keadaan yang spektakuer. Entah apa!
Lelaki kecilnya masih pulas, saat pertanyaan-pertanyaan itu bergelayut di kepalanya. Pertanyaan yang tak juga pecah. Bahkan bertambah saat petugas pos datang bertamu bersama kiriman jumbo dalam jumlah banyak!
“Mohon ditandatangani Bu…!”
Ara tak percaya. Diperiksanya seluruh kiriman. Penasaran. Mata dan mulutnya membola kala mendapati jawaban. Paket itu semuanya buku. Hati kecilnya tak terima. Buku-buku pasti dibeli suaminya dengan mengorbankan jatah belanja bulanan. Sepertinya ia akan membuat perhitungan.  
***
Ara tak sampai membuat perhitungan. Sebagian dari buku-buku itu adalah tambahan mahar yang baru bisa dilunasi suaminya. Setelah jelang empat tahun pernikahan, terlalu memang.
“Berhentilah menyalahkan benda atau orang, Ayah…! Berhenti menyalahkan segalanya!”
“Jika sebab kejahatan orang, akhinya kita membenci dunia, maka kita telah menjadi orang yang sakit. Terlalu berburuk sangka pada kehidupan tidak baik. Bersikaplah dewasa…!”
Perkataan itu memantul di telinganya, saat ingatannya mencoba mencerna sesuatu  yang luput. Bukan hanya Baso, dia juga harus berbenah. Dia berjanji tak akan terganggu dengan celoteh para ibu yang mengabarkan anaknya sudah mahir bernyanyi goyang dumay dan menirukan goyangannya. Dia tak akan terusik dengan cuap-cuap seputar gosip artis menjemukan. Atas segalanya, dia bersyukur memiliki suami pecinta buku, tidak serupa suami tetangga yang kesemsem perempuan idaman lain. Ara berjanji, pada arisan selanjutnya, akan diceritakannya isi buku yang dibacanya. Cerita yang dipastikan akan membuat ibu-ibu perumahan melongo!
“Ibu…! Alif, ba, ta, sta…!
“One…Two…Three…
“One itu satu ibu…Two itu dua…”
Ara sungguh terkesima.
“Siapa yang ajar kaka?”
“Upin…!”
Lelaki kecilnya menghampiri membawa buku mungil yang dibeli ayahnya. Ara dan lelakinya meneruskan menyebut huruf merafal angka. Senandung doa melengking di dadanya, untuk seorang lelaki  lain yang menggubahnya berharga. Tawa pecah di ujung hari, saat senja mulai turun, saat lelaki itu datang bersama rindu yang merdu, tanpa gawai lagi, sebab telah dijualnya di tempat jual beli HP bekas sebelum sampai di rumah. Ara belum tahu pasal itu. (*)

Share:

0 komentar