Puisi: Hikayat Mandung


Burit diculik gelita, tengking orok merecoki petang yang belia. 
Di bibir gapura kau menyilik, meruahkan sesal sebab mandung raib entah kemana 
Sudahlah, payah dipeluk amarah, 
Mestinya ada secangkir kopi beserta sepiring pisang goreng, 
Namun dada terlanjur gaduh karena mandung tak kunjung pulang 
Petang yang lawas, binar kartika diculik mendung, 
Kunikmati rebah kelesah, bersama embus pawana yang berkabung… 
Semoga rawi lekas terbit dan mandung cepat kembali…! 
 ***
Puncak Batu 08 Januari 2016
Bisa juga disimak di sini: Hikayat Mandung


Burit diculik gelita, tengking orok merecoki petang yang belia. Di bibir gapura kau menyilik, meruahkan sesal sebab mandung raib entah kemana Sudahlah, payah dipeluk amarah, Mestinya ada secangkir kopi beserta sepiring pisang goreng, Namun dada terlanjur gaduh karena mandung tak kunjung pulang Petang yang lawas, binar kartika diculik mendung, Kunikmati rebah kelesah, bersama embus pawana yang berkabung… Semoga rawi lekas terbit dan mandung cepat kembali…! Puncak Batu 08 Januari 2016

Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/sultansulaiman/hikayat-mandung_569c2819c623bd29048b456c
Burit diculik gelita, tengking orok merecoki petang yang belia. Di bibir gapura kau menyilik, meruahkan sesal sebab mandung raib entah kemana Sudahlah, payah dipeluk amarah, Mestinya ada secangkir kopi beserta sepiring pisang goreng, Namun dada terlanjur gaduh karena mandung tak kunjung pulang Petang yang lawas, binar kartika diculik mendung, Kunikmati rebah kelesah, bersama embus pawana yang berkabung… Semoga rawi lekas terbit dan mandung cepat kembali…! Puncak Batu 08 Januari 2016

Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/sultansulaiman/hikayat-mandung_569c2819c623bd29048b456c

Share:

0 komentar