Membaca Gorontalo


Siapakah H.B. Jassin dan J.S. Badudu? Kedua nama ini meski digdaya namun kenyataannya asing di kekinian. Semestinya, kedua orang ini setenar B.J. Habibie di kepala banyak orang Gorontalo, namun keduanya terlanjur memilih “jalan sunyi” sebagai pilihan hidup.  Seperti itulah, dunia literasi memang selalu jauh dari bingar pesta-pora dan huru-hara.
Memiliki nama Hans Bague Jassin. Merupakan Putra Gorontalo yang dijuluki “Paus Sastra Indonesia” oleh penulis buku Wasiat Bung Karno: Gajus Siagian. Julukan ini tentu tak berlebih, karena Jassin adalah pemegang lisensi sebagai dokumentator sastra terlengkap dan terkemuka. Tercatat sekira 30 ribu buku dan majalah sastra, guntingan koran, dan catatan pribadi penulis disimpannya di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.[1]

Seharusnya H.B. Jassin adalah idola. Jassin tentu dikenal, utamanya bagi yang pernah mengenyam pendidikan di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, atau setidaknya lekang di ingatan, karena jelas pernah dicerahmakan oleh guru pada pelajaran Bahasa Indonesia di bangku sekolah. Tapi sudah takdir Jassin, yang namanya nyaring dalam Dunia Kesusastraan, tapi samar terdengar di telinga orang Gorontalo, khususnya generasi muda.  Sang Wali Penjaga Sastra Indonesia ini tak menjadi inspirasi ketekutan, keuletan, dan konsistensi dan didekasi. Sebatas dikenal dalam perkenalan canggung tanpa bekas. Jika disebut Jassin orang Gorontalo, segelintir saja yang tahu. Kebanyakan justru mengerutkan kening meraba ingatan, sebab dia memang asing di kebanyakan telinga anak-anak muda. Kondisi ini yang penulis alami, saat menyebut nama H.B. Jassin dan memaparkan sedikit biografinya saat menjadi relawan literasi di sekolah.
Bagai dua sisi mata uang, nasib yang sama pula dialami Jusuf Sjarif Badudu atau Jus Badudu. Dia merupakan pakar dan Guru Besar Linguistika di Universitas Padjadjaran Bandung, Jawa Barat. Pria kelahiran Gorontalo pada 19 Maret 1926 ini, dikenal luas di kalangan masyarakat masa lalu sebagai pembawa acara Pembinaan Bahasa Indonesia (1974-1979) di TVRI.
Sepak terjangnya melegenda, sejak belia mengabdikan diri sebagai pendidik. Tercatat pada usianya 15 tahun 5 bulan, J.S. Badudu menjadi guru sekolah dasar di Ampana, Sulawesi Tengah hingga tahun 1951. Kariernya sebagai pendidik berlanjut,  pada tahun 1951-1955 mengajar SMP di Poso, masih Sulawesi Tengah, hingga memutuskan hijrah ke Bandung dan menjadi pengajar SMA (1955-1964).[2] Namanya tenggelam di tengah pusaran badai film India dan Korea. 
Tulisan ini hendak mengulik Gorontalo dari sudut pandang seorang “awam”. Mungkin di dalamnya akan terkesan sok tahu, atau pura-pura tahu. Maafkan, setidaknya subjektivitas ini sebagai ekspresi dari keinginan “membaca” Negeri Serambi Madinah.  Negeri di mana huyula dan  heluma[3] menjadi detak jantung yang menyatu dalam tubuh Gorontalo.

Generasi Baru
Sudah dimafhumi, mereka yang lahir hari ini hingga yang sudah berusia sekitar 39 tahun oleh Emha Ainun Nadjib disebut sebagai Generasi Millenial sang “putra langit”. Ungkapan itu dipaparkan Cak Nun pada Orasi “Belajar Manusia Kepada Sastra” menyambut 50 Tahun Majalah Horison. Generasi milenium ini jumlahnya sudah 2/3 dari total penduduk Indonesia, demikian disampaikan Sri Mulyani dalam kuliah umumnya di Universitas Indonesia.
Kenyataannya, dunia saat ini telah melaju lebih cepat dari yang kita bayangkan. Perubahan melesat bagai roket, memaksa segala tatanan baku yang dulu dijunjung sulit diterima oleh generasi hari ini. Dunia kita saat ini telah menyambut mereka yang disebut generasi baru. Generasi Z yang lahir dari persilangan Generasi X dan Y yang diperkirakan jumlahnya akan dominan pada tahun 2020 mendatang.
Menurut Ahmad Sudrajat seperti dikutip Heru Cahya dalam tulisannya Generasi Z dan Guru Melek IT, bahwa volume manusia yang mendiami dunia saat ini terdiri dari lima generasi. Pertama, disebut generasi baby  boomer, lahir 1946-1964, yang jumlahnya sudah mulai berkurang. Kedua, Generasi X, mereka lahir pada 1965-1980. Selanjutnya mereka yang lahir pada 1981-1994 disebut Generasi Y, mereka lahir saat teknologi komunikasi dan informasi mulai berkembang. Generasi Z merupakan generasi yang lahir pada 1995-2010. Disebut juga Generasi Internet. Terakhir, Generasi Alpha, lahir 2011 hingga tahun 2025 mendatang.
Generasi Z angkatan pertama saat ini sudah memasuki usia dewasa. Mereka tumbuh dengan cepat bersamaan dengan pesatnya kemajuan dunia saat ini. Generasi ini menikmati perangkat teknologi komunikasi informasi yang paripurna dan bisa dipastikan sangat mahir dalam menggunakan teknologi dengan segala aksesori digital yang canggih. Kondisi ini membuat generasi Z tumbuh lebih cerdas dan kritis yang jelas berpengaruh terhadap karakter dan perilaku yang dipunyainya. Akses informasi yang luas dan mudah tanpa sekat dan batas adalah ciri dominan dari generasi Z.
Selain itu pola hubungan sosial yang mereka bangun cenderung unik, mereka terhubung dengan banyak kalangan melalui jejaring sosial. Dunia sosial mereka adalah dunia yang egaliter, tanpa kasta. Dengan karaktek semacam itu, mereka saban waktu tampak tidak terlalu serius, tapi jangan terkecoh karena sebenarnya seperti itulah cara berkelakukaannya. Generasi Z memiliki kecerdasan majemuk, bisa melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan.
Tak ada jalan lain, akses teknologi informasi mewabah saat ini menuntut setiap kita menjadi pembelajar cepat. Seluruh pihak harus dipacu untuk benar-benar bisa “melek”, karena yang lambat akan tertinggal bahkan tergilas. Revolusi dibutuhkan sebagai bentuk penyesuaian, meniscayakan percepatan termasuk mengubah logika usang pembangunan yang diteriakkan oleh lingkaran kekuasan. Hanya saja, perubahan semacam ini selalu direspon secara lambat oleh lingkaran birokrasi kita dan dunia tetap berjalan dengan menikmati segala hal yang serba bercerai. Semua tetap hidup dan jalan sendiri-sendiri.
Generasi baru ini ditakdirkan kritis, maka ruang demokrasi harus dibuka seluas-luasnya. Pola komunikasi tak bisa dibuat searah saja, karena generasi baru ini butuh ruang dialog agar pendapat bisa sesuai dengan nalar dan logika. Mereka tak mempan dengan instruksi karena kepala mereka akan merekam lalu mengidentifikasi sejauh mana instruksi itu memiliki timbal-balik: apa untungnya buat saya?!
Di Gorontalo, fenomena juga ini disaksikan kasat-mata. Generasi muda dengan identitas baru, yang hidup pada dunia yang segalanya serba tergesa. Cirinya jelas mudah dikenali karena mereka lekat dengan perangkat teknologi canggih, tumbuh lebih cerdas dan kritis, memiliki teman tanpa batas pada kanal media sosial, dan berkarakter tak acuh. Di sinilah keunikanya. Generasi baru ini terlihat lalu-lalang dengan gawai sebagai aksesori. Kebutuhan utamanya selain makan dan minum adalah informasi, makanya mereka selalu terlihat berkerumun seperti lebah di pusat-pusat penyedia akses internet gratis.
Ini peluang juga tantangan yang perlu dijawab oleh pendidik dan mereka yang bergerak pada gerakan literasi. Dibutuhkan gerakan cerdas untuk menggalang generasi ini agar tak terlalu melambung dengan dunia digitalnya yang serba mentereng. Kita perlu menunjukkan “jalan terang”. Salah satunya dengan mengenalkan masa lalu. Penting untuk menarik mereka pada kehidupan masa dulu, membawanya menyusuri kehidupan-kehidupan bersahaja di mana alam, manusia, dan budaya hidup harmoni serasi. 
Bahwa Gorontalo telah dipilih Tuhan sebagai tempat darah orang-orang besar bersemayam. Jassin dan Jus Badudu adalah anugerah. Keduanya adalah masa lalu yang perlu ditarik ke masa kini. Orang-orang ini perlu diperkenalkan sebagai “ti Bapu” yang merangkum kecerdasan yang bersahaja, kearifan berpadu kebijaksanaan, dan kehormatan yang selalu menginspirasi. Seharusnya nama-nama mereka bisa dipahat sebagai prasasti di setiap kepala anak muda Gorontalo.

Jalan Pikiran
Enam belas tahun usia Provinsi Gorontalo. Geliat pembangunan bergema dan mewabah. Kita takjub menyaksikan daerah ini tampil gemerlap pada usianya yang masih belia. Jalan-jalan baru, mulus, nan lebar dibangun. Gedung megah bertingkat, hotel berbintang, lengkap dengan pusat perbelanjaan telah hadir menghiasi kota. Gorontalo mulai berjalan setengah berlari hendak menyulap diri menjadi kawasan metropolis. Sepertinya bentuk “balas dendam” setelah merdeka dari Sulawesi Utara. Terakhir yang sungguh memesona: Bandar Udara Djalaludin.
Namun kemajuan selalu saja membuka ruang “cemas” yang tak bisa diabaikan. Standar kemajuan daerah selalu saja menjadikan “wajah” sebagai ukuran. Di mana-mana, wajah daerah dipermak sedemikian rupa, dipaksan jadi kota. Ya! Kemajuan selalu melihat pembangunan fisik sebagai indikator utama.  Tak heran, kita saksikan Gorontalo, dari segi “wajah” mengalami perubahan signifikan.
Tentu tak salah, “tampilan wajah” dibutuhkan, tetapi sekadar mempercantik atau memperganteng wajah dan melupakan unsur fundamental lain jelas keliru.  Kita bisa saja dengan bangga memajang Piala Adipura atau mengaraknya beramai-ramai. Namun adalah hal penting dari piala, yaitu sikap masyarakat yang peduli dengan kebersihan dan lingkungan. Sudah sejauh mana?
Saya mengapresiasi petugas kebersihan kota yang sudah “kelihatan” sungguh-sungguh. Namun saya kecewa kerap menemukan tangan-tangan jahil yang menyembul dari jendela mobil mewah membuang sampah sekehendak hatinya. Pagelaran -entah yang dibuat pemerintah atau masyarakat biasa- bisa dipastikan menyisakan sampah berserakan berjumlah banyak. Di sini titik ambigunya. Pembangunan fisik digelorakan, melupakan pembangunan “mental” yang tak kalah penting sebagai upaya membangun “jalan pikiran”.
            Harus diakui, ambisi membenahi infrastruktur tak sedahsyad upaya memperbaiki kualitas pendidikan. Jalan-jalan bisa saja lebar dan mulus namun jurang kehancuran justru makin menganga dengan terbukanya akses antar daerah dan wilayah. Terbukanya jalan memang memudahkan akses untuk logistik, hubungan dagang, dan segala hal yang berkaitan dengan peningkatan debit ekonomi. Tapi di sisi lain, jalan juga menjadi sarana masuknya “penyakit” masyarakat.
Akses terhadap hal-hal terlarang jelas semakin mudah, dan jika “jalan pikiran” masyarakat kita labil maka kerusakan akan kita saksikan tumbuh pesat bersama kemajuan kota. Tak perlu jauh berkaca, di halaman-halaman koran dan liputan media eloktronik, telah menjamur ragam model kejahatan yang seolah menjadi “racun”. Kita patut cemas.
Jalan pikiran semacam peta masa depan. Meminjam pernyataan Marwah Daud “Gagal merencanakan serupa merencanakan kegagalan!”. Bahwa visi-misi membenahi Gorontalo tak melulu soal jargon-jargon pembangunan yang melekat dalam agenda politik penguasa. Sebab jalan pikiran ini jelas memiliki orientasi masa datang yang berpijak di kekinian. Jika orientasi masa depan ini menjadi rabun, kabur, dan berkabut, maka generasi hari ini akan kehilangan pijakan.
Patut disayangkan memang, kita tampak gelagapan. Masyarakat Ekonomi Asean telah bergaung, pintu selamat datang sudah terbuka lebar dan kita tetap menjadi tuan rumah yang ramah yang tidak tahu harus berbuat apa. Contoh kecilnya, kedatangan tamu berupa hiu paus di Botubarani semestinya menjadi durian runtuh. Hanya saja, hal itu menjadi angin lalu yang dinikmati alakadarnya. Orang-orang mancanegara berdatangan dan kita hanya asyik melihatnya bersolek, berlenggak-lenggok, menikmati “durian runtuh” yang dikirim Tuhan untuk kita. 

Rekomendasi Kepada Tuan
“Mengapa orang-orang Bali, Jawa, Bugis-Makassar, masih terlihat teguh memegang tradisi. Mereka mudah dikenali dengan identitas bahasa yang mereka punya. Tak segan dan malu bersapa bahasa daerah kala bertemu sesama. Sementara kita orang Gorontalo, apa lagi anak-anak sekarang, tak lagi paham bahasa Gorontalo. Jika diajak bercakap bahasa Gorontalo, rata-rata tak lagi mengerti!”
Saya mendengar pernyataan itu terlontar sebagai bentuk kegusaran orang tua Gorontalo. Bahasa daerah merupakan identitas masa lalu yang harusnya lekang terjaga. Paradigma pembangunan kadang sulit dicerna, hanya menjadikan tampilan “wajah” saja sebagai ukuran lalu melupakan inti wajah. Inti wajah yang saya maksud adalah rangkuman kepribadian sebagai “Gorontalo” yang melekat terpahat. Sehingga ia menjadi pembeda dan menjadi penanda untuk dikenali di manapun berada.
Di sini, gerakan literasi tak sekadar dipandang angin lalu. Gerakan ini merupakan gerakan serius yang mencoba menawarkan iktikad baik untuk menarik “masa lalu” ke hadapan kita semua. Semua pihak harus dipaksa berpartisipasi, pemerintah dan mereka yang berada di lingkar kekuasaan selayaknya mengganti judul-judul pembangunannya dengan “membangun manusia Gorontalo”. Benar infrastruktur itu penting tapi membangun sumber daya manusia jauh lebih penting dan genting.
Sudah disebut sebelumnya bahwa membangun itu, tak melulu membangun jalan dengan ragam tepuk-tangannya. Membangun “jalan pikiran” adalah upaya sadar membentuk Manusia Gorontalo yang utuh. Manusia dengan cita, rasa, dan karsa, yang mewakili “jiwa” Gorontalo. Jalan bisa lebar dan mulus, tapi jika “jalan pikiran” sempit dan berbatu, maka hidup yang beradap sesuai falsafah Adati Hulahulaa to Saraa, Saraa Hulahulaa to Quruani[4] sulit diwujudkan. Tanggung jawab pemerintah menetapkan peraturan yang menekankan agar Bahasa Gorontalo diajarkan dan dipraktikkan pada hari-hari tertentu di sekolah dan universitas untuk meyambung kembali tali masa lalu yang putus dengan generasi hari ini. Karena bahasa adalah identitas budaya!
Media massa, tampaknya juga harus mengoreksi diri. Tak sekadar ramah dengan liputan-liputan yang berbau politik, kekuasaan, dan pemerintahan, namun berusaha menyediakan ruang “belajar” dan mengenang “masa lalu” Gorontalo pada rubrik atau liputan. Saya menyampaikan belasungkawa atas raibnya halaman “Budaya” di salah satu koran terkemuka Gorontalo. Selain itu media perlu memberikan apresiasi yang lebih baik dan layak. Tampaknya kita perlu belajar dari media lokal di daerah lain yang tampil sekuat tenaga menampilkan “wajah budaya daerahnya” dengan penghargaan yang jauh lebih baik kepada para pelakunya.
Para kaum intelektual yang terpenjara di tembok-tembok universitas yang menjulang perlu diajak melihat dunia luar yang penuh pergulatan. Betapa posisi kaum intelektual yang elite menjadi sulit dicapai oleh awam. Saatnya para intelektual tampil lebih ramah dan bersahaja, berpartisipasi merangkul anak-anak muda dengan menitipkan “isi kepala” tentang Gorontalo di masa lalu sebagai bentuk tanggung jawab moral. Saya rasa, generasi hari ini akan senang hati membawa serta Gorontalo dalam dirinya  lalu mengenalkannya pada dunia tanpa batas dengan bahasa zaman yang mereka punya.
Akhirnya, mari menyimak tujai[5] (sanjak/pidato) yang sering didengungkan pemangku adat pada upacara penobatan:
Huta- huta lo ito Eya/Tanah adalah tanah kepunyaan Tuanku
Taluhu- taluhu ito Eya/Air adalah air kepunyaan Tuanku
Dupoto- dupoto ito Eya/Angin adalah angin kepunyaan Tuanku
Tulu- tulu lo ito Eya/Api adalah api kepunyaan Tuanku
Tawu-tawu lo ito Eya/Manusia adalah manusia kepunyaan Tuanku
Baitunya dila peluli hilawo/Tetapi Tuanku tidak diperbolehkan menyalahgunakannya.

Sungguh! Kita benar-benar merindukan kehidupan-kehidupan bersahaja di mana alam, manusia, dan budaya hidup harmoni serasi.  Zaman bisa melambung setinggi langit atau melaju secepat roket, namun manusia, khususnya manusia Gorontalo harus berpijak pada tanah leluhurnya, memegang identitas budayanya sebagai penerus dua maestro: Jassin dan Badudu! Semoga (*)





[1] http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/285-ensiklopedi/1267-paus-sastra-indonesia
[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Jusuf_Sjarif_Badudu.
[3] bersatu/bersama dan bergotong royong.
[4]yang berarti Adat Bersendi Syarak, syarak bersendi Kitabullah (Al-Quran) http://degorontalo.co/falsafah-gorontalo-ini-dari-mana-asalnya/
[5] https://mahyudindamis.wordpress.com/2010/05/18/kritik-terhadap-falsafah/

Share:

2 komentar