Kasimu Motoro [1]

http://reginatheyser.blogspot.co.id/2012/03/10-hewan-atau-binatang-kanibal.html


Negeri itu disebut Serambi Madinah. Sebuah negeri yang berdiri ratusan tahun lalu. Salah satu dari empat kota tua di daratan Sulawesi, selain Makassar, Parepare, dan Manado. Gorontalo, dalam bahasa aslinya disebut hulontdalo yang berarti tanah berkah. Semboyannya adati hula hula sareati, sareati hula hula to kitabullah. Artinya, adat bersendikan syara[2], syara bersendikan kitabullah. Ya, adat akan selalu dijunjung berdasarkan aturan berlaku di tanah berkah ini.

Tersebut seorang lelaki bernama Kasimu Motoro. Perawakannya tinggi kekar, wajahnya berbalut bulu lebat. Kulitnya legam sebab sering berkarib matahari. Tatapannya runcing serupa mata tombak. Nyaris tak ada yang berani beradu pandang dengannya. Kasimu Motoro, satu dari ratusan hulubalang Kerajaan Hulontdalo yang paling  ditakuti.
Setiap hari, Kasimu berdiri kokoh laksana patung di gerbang kerajaan. Jelang sore, ia akan digantikan hulubalang lain. Selanjutnya, tugasnya berpatroli, mengelilingi kerajaan, memastikan segala kondisi aman. Lalu kembali ke rumah saat senja telah terbenam.
Senja terbenam, langkahnya masih gagah. Saat menapaki setapak cadas yang jarang tersentuh hujan. Akhir-akhir ini, matahari sangat menyengat. Tepatnya, kemarau sudah terlalu lama bertandang menyulap negeri ini hanya memiliki dua musim: musim panas dan musim panas sekali. Kasimu bergegas, ingin segera melabuhkan penat, berbagi cerita dengan dua bocah laksana surga. Bertukar suka, memanjangkan manja dengan sesosok yang baginya bidadari.
Tibalah ia di rumah berdinding pitate: anyaman bambu, beralaskan tanah. Meski terlampau sederhana, bagi Kasimu, rumah itu tetaplah bak istana yang menguapkan segala penat membubungkan gundah, tempat suka dan bahagia terukir sempurna. Istrinya menyambut dengan senyuman rekah, sambil menggendong bungsunya yang berusia puluhan bulan, Pali namannya. Dikecupnya, lalu berhambur bocah sulung usil memeluk ayahnya, dia Manuli. Oh Kasimu berasa menjadi raja yang bersanding permaisuri jelita, dikawal pangeran gagah. Sore dihapus gelap, malam datang bertamu, merekah bulan membias cahaya, menerobas masuk ke rumah mungil lewat kisi atap rumbia. Malam masih muda. Keluarga bersahaja itu merayakan kasih-sayang, melingkar bersantap jagung dan ubi jalar, bertatapan berbalas senyum, sesekali diselingi tawa. Untuk suasana semacam itu, banyak yang iri dengan Kasimu.
***
Entahlah, Kerajaan Hulontdalo dikepung gersang. Sawah ladang berubah cadas sebab jarang disirami hujan. Kemarau telah terlampau lama, kehidupan terasa makin nelangsa. Hanya orang-orang tertentu yang tetap mengecap kemewahan, tak terpengaruh kondisi sulit yang makin mengepung. Mereka itu kalangan tertentu istana yang bertahan dengan memanfaatkan uang pajak yang ditarik dari jelata.
Mereka yang bekerja pada kerajaan tak sedikit terseret kondisi sulit. Jika upah yang didapat selama ini masih cukup, kini dengan segala yang terjadi: sawah ladang gagal panen, ternak makin kerontang bahkan banyak yang mati, bekerja jadi apapun akan tercekik. Apalagi, baru-baru ini pihak kerajaan telah memutuskan merumahkan beberapa hulubalang karena alasan penghematan.
Sementara, di dalam istana, raja diliputi cemas. Dikumpulkannya beberapa orang penting, termasuk para penasihat kerajaan. Ditanyakan perihal yang menimpa kerajaan akhir-akhir ini. Satu persatu memberi pendapat. Termasuk penasihat raja yang paling cendekia.
“Maaf Paduka…! Petaka ini bisa dipastikan karena Bo Eya[3] telah mencabut rahmat, menarik berkah. Didatangkannya kemarau panjang sebab semboyan Kerajaan Hulontdalo telah ditinggalkan.
“Saya mendengar seorang lelaki telah mengumpulkan banyak jelata, mengajak mereka lawusala[4]
Mendengar itu, raja memerintahkan pengawal kerajaan menyelidiki. Disebar mata-mata ke seantero negeri. Di segala ruang, para suruhan istana ditempatkan. Di pasar, di perkampungan, di pusat-pusat keramaian. Pasukan istana bekerja mencari penyebab petaka yang menimpa kerajaan.
***
Kasimu satu dari banyak hulubalang yang dirumahkan. Dia tak lagi bekerja pada kerajaan. Selama ini upah yang didapat masih cukup membeli setangkup bahan pokok, bahkan lebih. Tapi, kini tak ada lagi apa-apa yang dapat ditukarkan dengan makanan. Hidup semakin sulit.
Kasimu sore itu tiba di rumah dengan bias kekalahan yang membekas di wajahnya. Kekalahan sebagai lelaki yang tak lagi bisa memberi nafkah layak bagi keluarga. Hanida menyambut getir, khawatir menguasai sebab dua bocahnya: Manuli dan Pali tak bisa didiamkan karena lapar melilit seharian. Persediaan makanan habis. Tak ada yang tersaji di tudung, Kasimu bertambah kecut mendapati keadaan itu. Pulang membawa penat bercampur lapar, disambut rengekan, membuat dadanya bergemuruh. Ada yang hendak tumpah, namun masih ditahan.
Rasa canggung menganak sungai. Tak ada canda sapa seperti sedia kala. Rumah mungil itu diliput lara, sementara isak Pali sesekali masih terdengar. Manuli, anak tertua Kasimu seperti sudah memahami keadaan. Di luar, senja pergi menyisakan lebam di dada sebuah keluarga, sementara malam telah datang menyiram kelam, mungkin mengirim isyarat jika hari-hari di masa datang akan ditapaki serupa menginjak bara.
“Raja berkeputusan mengurangi hulubalang. Saya akan mencari pekerjaan lain!”
Ucapan itu, meski datar tampak serupa gelegar petir yang melukis kilatan berbentuk akar pohon di cakrawala. Hanida hanya menghela napas, membuangnya berat sebab dia tahu masa-masa sulit setelah ini akan sering mereka cicipi. Tapi, dia tak boleh menunjukkan kecewa, apalagi murka. Dia berusaha menjadi selimut pengusir dingin pada malam yang kelak menua. Ia memilih menjadi air penghilang dahaga, dibanding berkata-kata yang dipastikan merunyamkan suasana. Hanida berperan sebagai istri sesungguhnya.
“Tentu Bo Eya Takuasa[5] akan membantu kita. Percayalah…!”
Sambut Hanida dengan sedikit senyum yang tersulam di wajah. Menggelindinglah sebagaian beban. Lelakinya menyorot, ada ilham yang tiba-tiba merasuk di dadanya.
***
Hemuto namanya. Keberadaannya kian dicari setelah masa-masa sulit itu. Dia kerap berkeliling perkampungan, berkelakar tentang mimpi, sebab itulah pekerjaannya. Ada yang menyebut dia pendongeng bahkan pula pembual, tapi kali ini,  pidatonya tentang kemapanan mulai dilirik. Orang-orang mencarinya untuk mendapat nasihat keluar dari kesusahan.
Tak ada yang tahu persis dari mana asalnya. Hemuto disebut muncul begitu saja dari belantara hutan. Begitu saja, mengakrabkan diri, berkenalan dengan banyak orang, hingga berceloteh memanjangkan bicara, tak jarang mencela penguasa kerajaan dan mengajak setiap jelata yang ditemuinya bergabung, menantang penguasa. Hemuto berkhutbah untuk nasib lebih baik. Semakin hari, jumlah pengikutnya bertambah, terus bertambah hingga tercatat sudah ratusan, sudah cukup membentuk kerajaan tandingan.
Ah…! Kerajaan tandingan…? Sebuah siasat telah disusun. Desas-desus berembus. Hingga apa yang dicitakan  terwujud. Sebuah paguyuban  atas nama “mengubah nasib” terbentuk. Perayaan kecil digelar, di sebuah tanah lapang, di sebuah tempat tersembunyi, di kedalaman hutan belantara.
Lelaki itu telah menisbatkan diri menjadi bagian “mimpi”. Entahlah, mengapa dia memilih itu. Doa istrinya tampak tidak mempan. Kasimu mengekor sebagai pengikut Hemuto walau masih menikmati segala sesuatu penuh tanya. Sekelabat ingatan membawanya pada istri dan anak-anaknya, tapi segera ditepis sebab ia sudah menetapkan pilihan. Dinikmati seteguk bohito: tuak,  sembari pikirannya terus melayang liar. Seteguk, dua teguk, berulang-ulang bohito melewati kerongkongan hingga kesadaran Kasimu bersisa setengah. Perawakannya yang beda membuat Kasimu cepat dikenal, termasuk diakrabi Hemuto.
Sebuah perayaan digelar. Beberapa orang merangkul ayam jago, mengelus kepalanya, lalu memasang tadi[6] pada salah satu kaki ayam. Hemuto memberi tawaran bertaruh, Kasimu menyambut. Dua ayam jago dilempar ke tengah, disambut sorak ramai. Belantara disiram beragam suara, tak hanya bunyi jangkrik, siulan burung,  lenguh banyak binatang, atau suara ranting patah diterpa angin, bunyi-bunyian bertambah dari mulut-mulut  orang yang menikmati pesta. Orang-orang berkerumun melingkar, membentuk arena pertarungan. Sorak semakin riuh mengikuti hentakan kaki dua ayam yang berhambur di udara. Dua  ayam unjuk kegagahan berusaha saling menaklukkan dalam mopohayato maluo: sabung ayam.
“Iyaaa…!”
“Haaaa…!”
Suara-suara penonton selalu mengekor menyambut ayam saling pukul. Taruhan dipasang, Kasimu tidak ketinggalan. Dia telah memilih  jagoan, beberapa keping koin logam telah diserahkan ke bandar: Hemuto. Koin didapat dari pinjaman. Hemuto sendiri. Entahlah, lelaki itu  berbaik hati memberi beberapa keping logam kepada Kasimu. Mungkin, karena Hemuto tahu keping logam itu akan dengan mudah kembali, setelah ia memenangkan taruhan. Si Burit, ayam pilihan Kasimu tampak perkasa, tadi di kakinya telah bersimbah darah, jadi tanda jika lawannya telah berhasil dilukai. Burit meliuk lincah, mengangkat sepasang kaki, tinggi, memukul lawan tanpa ampun.
“Pakkkk…Pakkkk….!”
Pukul Burit beruntun, membuat lawan tak berkutik. Sempoyongan hingga terkulai hanya dalam hitungan detik. Darah telah tumpah.
“Yeee…! Plak…Plak…!”
Gegap kemenangan berpadu tepuk tangan mereka yang memilih Burit. Tawa melebar, menjadi pengantar kematian seekor ayam hitam –lawan Burit yang terkapar bersimbah darah. Kasimu mengecap pengalaman manis di awal karier mengenal sabung ayam. Hemuto tersenyum kecut.
Gendang ditabuh, sekelompok penari tiba-tiba muncul mengikuti irama polopalo[7], lengking seruling dan petikan kecapi berpadu. Tawa berseliweran bersama tepuk tangan membahana. Bohito telah tandas dan birahi mulai membubung ke udara. Manusia kembali menjadi primitif, Kasimu sempurna hilang kesadaran lalu mencicipi sesuatu yang dulu tabu. Penari menjadi santapan mereka yang menang taruhan, termasuk Kasimu. Di kedalaman hutan itu, manusia menantang Eya. Pembangkangan itu kelak berujung perih!
***
Di gubuk pitate itu, Hanida mulai cemas. Malam sudah bertamu, namun lelakinya belum datang. Dia, bersama anaknya mulai ringkih sebab tak secuilpun makanan yang bisa diasup. Air susunya sudah kering. Pali melengkingkan tangis. Hanya ada air yang terus diteguk, tapi tak banyak membantu. Perempuan itu berharap suaminya segera datang, tak hanya membawa penat tapi segenggam makan buat menegakkan tubuh mereka yang mulai payah. Manuli terbaring lemah pada dipan bambu yang mulai rapuh, ditemani ibunya yang berusaha menenangkan Pali.
Mae…! Pae dimana?”
Suara lemah Manuli mengoyak nuraninya.
Daun pintu bergerak, lelaki yang ditunggu itu datang. Melangkah gontai tanpa suara menyerahkan sekantong pale lo tuhelo (beras ladang organik. Harum aromanya, manis rasanya). Manuli hanya mematung, menghadiahkan senyum samar yang pias. Ayahnya telah hadir, namun tak serupa biasa, tak semacam dulu penuh kehangatan.
Hanida bergegas. Ditanak beras itu sebagian, terburu-buru, setelah dibilas beberapa kali. Lalu tak seberapa lama terhidang setumpuk nasi yang mereka nikmati bertiga. Hanya bertiga, Pali sudah mulai diajari makan nasi meski harus dikunyah ibunya terlebih dulu. Kasimu telah lelap. Hanida tahu, jika sesuatu benar-benar telah terjadi. Aroma khas yang ruah dari mulut suaminya membuat teriris. Sejak sekian lama, hingga usia pernikahan jelang sewindu, baru kali ini didapati Kasimu seperti itu.
Mae…Tambah…!”
Manuli bersuara, wajahnya sempurna ranum sebab lilit lapar di perutnya sudah lepas.  Hanida memenuhi permintaan bocahnya. Nasi terus dikunyah, bersama sedikit hidangan rica tumis berlatar dengkur Kasimu yang nyaring. Malam berjalan renta, menyibak rentetan pertanyaan. Pertanyaan yang hinggap di kepala Hanida. Pertanyaan yang belum menemukan jawaban. Satu beban telah tanggal, setidaknya kantong susunya sudah mulai terisi.
***
Malam pergi, pagi datang mengetuk pintu setelah kokok ayam pecah di antara riuh  orkestra alam. Hanida sedari tadi bergumul di dapur menuntaskan sisa sekantong beras yang dibawa suaminya semalam. Bekal disiapkan, disisakan pula buat makan anak-anaknya. Kasimu sudah siuman, sedikit bingung dengan yang terjadi karena tiba-tiba dirasakan kepala dan matanya berat. Ia bergegas ke sungai, mengguyur diri, menikmati dingin air. Pikirannya mengembara, ada sesuatu yang ingin dia renungi. Tentang pilihan hidup yang dianggap telah salah arah. Tapi, bukankah hidup semakin sulit? Tentu Eya memaklumi.
Setelah bersalin kain, bergegas dia. Tak dipedulikan bekal yang disiapkan istrinya. Tak dihiraukan anaknya yang berharap peluk kehangatan. Kasimu melangkah gesa, tanpa sapa, menuju tempat yang dia datangi sebelumnya. Mengikuti setapak, di antara belukar rimbun hingga sampai di hutan. Terus berjalan menerabas pepohonan raksasa, hingga sampailah di kerumunan orang-orang. Hemuto sudah berpidato, mengumumkan jadwal pertarungan. Kasimu segera memasang taruhan sisa kemenangan sebelumnya. Nasib baik berpihak kepadanya. Satu pertarungan dimenangkan, berlanjut ke pertarungan lain, seluruh taruhan dipasang, lagi-lagi menang.
Bukan judi jika tidak membuat ketagihan.
Kemenangan demi kemenangan terus dipanen, hingga hanya bertahan dia dan bandar: Hemuto yang bertaruh. Semua dipertaruhkan, dapat semua atau pulang dengan bawaan papa. Nasib baik berbalik arah, semua kemenangan yang didapat kandas. Kasimu keliru memilih jagoan. Hanya sedetik segala yang diperoleh raib begitu saja. Raib bersama hilangnya nyawa ayam pilihannya. Hemuto terbahak, menginstruksikan pesta lebih bingar. Sabung ayam berakhir dengan lipat keuntungan yang didapat Hemuto.
Ada sesal yang menghardik Kasimu. Ditenggak minuman keras dan terus larut dalam kekalahan. Hari masih muda, dia memutuskan pulang lebih awal. Meninggalkan berjibun manusia yang sempurna kehilangan kesadaran. Bergegas dia, didapati rumah telah terbuka. Bertanya kepada istrinya, apa ada makanan yang bisa diasup. Hanya ada gelengan. Amarahnya buncah, menghardik, Pali anak bungsunya terbangun. Manuli yang baru selesai menjerang air tertegun. Kasimu lepas kendali.
“Kenapa kamu tidak memasak?”
So tidak ada yang boleh mo masak!”
Mendengar jawaban itu, Kasimu kalap. Disakiti istri, dilukai hati dan badan perempuan tersayangnya. Manuli histeris, Pali melolong, sesosok lelaki telah berubah tahede-henengo: siluman raksasa menakutkan.
“Bo lawusala te uwola beyito…![8]Serang Hanida.
Tak terima, Kasimu kembali merenggut istrinya. Tak peduli pada nanar mata anak-anak yang menyaksikan. Lelaki legam itu telah kehilangan nurani, untuk sekadar memberi iba pada istri yang dulu amat dicintai. Sejatinya dia membenci diri sendiri,  namun melukai orang yang dicintai.
“Jangan Pae, kasihan ti Mae aati…!” bela Manuli yang tiba-tiba mencengkeram tangan kekar ayahnya, namun tertepis. Tubuh mungil Manuli terpental, anak itu tidak berdaya.
***
Tak hanya satu dua kali, sejak sering menenggak kekalahan, Hanida selalu saja jadi tempat pelampiasan amarah. Sebujur tubuh perempuan itu penuh memar, melukis perih bagi siapa saja yang melihat, mestinya Kasimu kasihan. Namun setiap kali pulang dalam keadaan mabuk, apalagi menderita kekalahan judi, dia kehilangan akal sehat.
Puncak koyak itu terjadi suatu hari, saat beberapa orang datang dan membawa paksa Hanida pergi. Perempuan malang itu tak bisa melawan, tiada daya dia karena orang-orang itu suruhan Hemuto. Dalam judi, kawan bisa diterkam, kawan dapat dimakan.
“Suamimu, te Kasimu menjadikanmu taruhan! Sayangnya, dia kalah!”
Mendengar cakap itu, tubuh Hanida lumpuh. Dunia sempurna hitam, menenggelamkan suara tangis bocah yang ketakutan kehilangan ibunya. Hanida malam itu jadi tumbal. Jadi hadiah kemenangan Hemuto yang bejatnya menggurita sejak memiliki banyak pengikut. Hanida pasrah. Firasatnya tentang masa-masa sulit itu nyata, bahkan lebih menyeramkan. Setelah menunaikan tugas sebagai tumbal, Hanida kembali. Melangkah tertatih, berselimut deru luka yang mencabik-cabik kehormatan. Dia berusaha tegar, berusaha kuat, meski kesumat telah membubung di kepalanya.
***
Kasimu namanya, dia tiba di rumah jelang siang, setelah semalaman entah menghilang di mana. Dia melangkah sempoyongan,  berteriak-teriak, memanggil anak istrinya. Rumah gubuk itu lengang, tak ada siapa-siapa. Perhatiannya tercuri. Disingkapnya tudung penutup makanan yang terbuat dari anyaman bambu. Lapar mendera, didapati hidangan komplit dengan ragam menu menggiurkan.
Nasi beraroma daun pandan, berlomba dengan bau lauk-pauk menggoda. Terhidang kuah asam: masakan berkuah bening berasa asin, asam, berpadu potongan buah pisang batu dan daging. Tersaji kuah tumis: lauk berkuah bercampur kunyit, serei,  ditaburi tumisan bawang merah, ulekan cabe dan sedikit tomat. Ada ikan[9] tusuk lengkap dengan bumbu kacang dan rica tumbuk yang dilengkapi siraman minyak kelapa. Juga ikan bungkus, makanan yang dipanggang di atas bara tempurung yang dibungkus daun pisang bertaubur parutan kelapa. Kasimu makin tak tahan. Bersegera dia.
Disendok nasi, diguyur kuah tumis, hingga kuah itu benar-benar tandas bersama nasi yang lunak melewati kerongkongan. Kasimu namanya, baru kali ini dia merasa mengasup makanan paling nikmat. Lagi, diambil nasi, dilahap kuah asam hingga tak bersisa pada nampan. Bulir keringat mengucur, membasahi tubuh legam kekar yang dikepung lapar. Lagi, disalin nasi, Kasimu seperti kerasukan. Dikunyah ikan tusuk. Setelah tercampur menyatu dengan sambal kacang dan rica, ditumpahkan seluruhnya masuk ke mulut, cepat melewati kerongkongan, masuk ke lambung.
Bersisa ikan bungkus, masih ada nasi. Pesta makan Kasimu berlanjut. Dinikmati ikan bungkus hingga bersisa sesuap. Suapan terakhir. Kasimu mengunyah makanan penutup, namun didapatinya sesuatu, serasa ada yang janggal. Dikeluarkan sesuatu yang aneh bertulang dari mulutnya.  Diperhatikan. Mirip seruas potongan jemari kelingking mungil manusia.  
***
Hanida namanya, sudah sedari pagi dia sibuk di dapur walau luka semalaman masih membekas di dadanya. Meski perih menggelayut, membungkus dirinya yang retak. Dia tegar, berusaha sabar. Telah diambil beberapa jenis rempah dari rumah kerabat. Juga telah dititipkan anak tertua: Manuli pada nenek di kampung sebelah. Hanya ada dia dan Pali di rumah. Hanida cekatan, menapis beras, mencucinya, menanak nasi. Rempah disiapkan, kelapa dicukur. Ditumbuk beragam bumbu. Segala keperluan masak telah selesai. Hanya bersisa daging sebagai bahan utama.
Diasah pisau setajam-tajamnya. Pali dilihatnya masih terlelap, betapa bocah itu amat menggemaskan. Hanida membangunkannya, dimandikan, diberikan pakaian terbaik, disusui. Kafan sudah disiapkan. Tiba-tiba kasihan menyergap. Naluri keibuan tersibak, dikecup Pali berkali-kali. Jatuh juga air matanya, deras, suara sesenggukan berdenting. Hanida telah berkeputusan. Digenggam sebilah pisau, dibaringkan anaknya. Hanida membuang wajah, tangannya bergerak, darah telah tumpah bersama air mata. Tubuh mungil itu menggelinjang, hingga bergeming dalam hitungan menit.
***
Lelaki legam itu kalap. Dimuntahkan semua yang dimakan. Dimuntahkan sampai habis. Diobrak-abrik semua isi rumah. Dicari istri, dicari anaknya. Hanya didapati gundukan tanah basah, di belakang rumahnya. Digali, terus digali sampai dipati kafan baru berisi tulang belulang mungil manusia. Kasimu melolong, berlari kesetanan, mencari istrinya.
Hanida bersimpuh di depan istana kerajaan. Menyampaikan tentang apa yang telah diperbuat pada pengawal kerajaan. Tak beberapa lama, Kasimu  suaminya datang, bersimbah air mata, berkalung sesal sebab laku yang diperbuat. Hulubalang menyergap, merantai kedua tangan lalu digiringlah dua sosok itu menghadap raja. Terjadi gelar perkara. Penasihat kerajaan, bersama raja dan permaisuri takzim mendengar seakan tidak percaya.
“Sebab mopohaya to maluo kau gadai istri, anakmu jadi korban?”
Raja murka, dijebloskan Kasimu ke penjara bawah tanah. Sementara Hanida dilepas pergi. Perempuan malang itu sudah berselimut lara, menghukumnya tiada guna.
***
Mopohaya to maluo bukan sekadar ajang judi meraup keuntungan. Sejatinya kegiatan itu gerakan politik menggalang massa, memberontak. Pihak kerajaan telah mengendus lewat mata-mata, lalu memerintahkan hulubalang menangkap Hemuto aktor kerusakan. Segala kepelikan yang terjadi, seperti petunjuk penasihat kerajaan karena ada yang telah berani menantang syara memunggungi adat. Sebab itulah, dunia semakin panas dan gerah bergentayangan di mana-mana. Hasil bumi tak pernah ada, sebab Eya telah murka.
Seluruh pengikut Hemuto ditangkap, dilempar ke penjara. Hemuto sendiri langsung dijatuhi hukuman mati, dipancung di selasar kerajaan, disaksikan seluruh rakyat sebagai pelajaran bagi mereka yang lawusala.
Sementara, di salah satu ruang penjara yang pengap, dari balik jeruji besi, seorang lelaki bersimbah air mata, meraung perih, melolong tiada berkesudahan. Suaranya mengiris-iris hati. Kasimu namanya, betapa penyesalan selalu datang kemudian. Terus begitu dia, hingga ditemukan tewas bersimbah darah suatu ketika, entah karena apa. Mungkin Eya telah menghukumnya.
Di gubuk pitate itu, bergeming perempuan malang yang kehilangan segalanya. Terus bergeming sampai air mata benar-benar kering. Kesedihan telah menyatu dengan penyesalan, dan rasa berdosa berkarib dengan hilangnya anak, martabat, kehormatan, dan harga diri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Hanida ditemukan meregang nyawa dengan mata yang terus terbuka. Mata yang tengadah ke langit yang kelopaknya telah menghitam. Kesedihan benar-benar telah membunuhnya.
***
Setelah kejadian itu, raja memerintahkan seluruh rakyat melakukan pertobatan. Memegang teguh semboyan adati hula hula sareati, sareati hula hula to kitabullah. Dengan begitu Kerajaan Hulontdalo akan kembali menjadi tanah berkah.
Benar! Setelahnya, tak berselang lama, segala macam kerumitan berubah, Eya menurunkan hujan, dan kehidupan baru kembali dimulai. Kasimu Motoro menjadi pelajaran bagi mereka yang senang berjudi. Kisah ini masih kerap diceritakan dalam penampilan tanggomo[10], diiringi petikan gambus, berirama serupa nyanyian, meski tak sesering dulu.
“Motopu yinggila ma’o. (Berjudi hindarilah)
“Po’odahawa tumo:du. (Jagalah jangan sampai dilakukan)
“Mo’olopu lo wala’o”[11] (Sebab ia memusnahkan anak)

***

[1] Kisah yang dibawakan dalam kesenian Tanggomo Gorontalo. Kisah ini diklaim benar-benar terjadi. Pernah diulas oleh Jurnal Tanggomo.
[2]   Syariat
[3] Tuhan
[4] (Gorontalo) Berbuat tidak baik
[5] (Gorontalo) Tuhan Yang Maha Kuasa
[6] (Gorontalo) Benda runcing  tajam terbuat dari logam atau tulang yang disarungkan di kaki ayam.
[7] (Gorontalo) Alat musik tradisional terbuat dari bambu jenis idiofon
[8] (Gorontalo)  Kamu sudah jadi orang jahat.
[9] Di Gorontalo. Ikan tidak hanya diartikan ikan laut atau ikan danau. Tapi semua lauk, meski berbahan dasar danging ayam atau daging sapi, lumrah disebut ikan. Jadi ada ikan ayam, ikan daging, dan ikan yang benar-benar ikan.
[10]  Merupakan sastra lisan Gorontalo yang dinyanyikan bersama petikan gambus.
[11] Dikutip dari Jurnal Kebudayaan Tanggomo berdasarkan disertasi Prof. Nani Tuloli, ”Tanggomo, Salah Satu Ragam Sastra Lisan Gorontalo, 1990.

Share:

0 komentar