Dari Tumbilotohe ke Tumbilotohe (Catatan Lomba Cerpen Balai Bahasa Provinsi Gorontalo Tahun 2016)


Oleh: Sultan Sulaiman*

Saya bertugas jadi juri pada  Lomba Cerpen 2016 yang digelar Balai Bahasa Provinsi Gorontalo bersama Ibu Darmawati Majid (Balai Bahasa) dan Ibu Mira Mirnawati (UNG-Penerbit Ideas). Tugas yang terbilang berat sebab harus memilah dan memilih cerpen-cerpen terbaik untuk dua kategori: umum dan pelajar.  Ada 21 judul cerpen kategori pelajar dan 52 judul untuk kategori umum yang masuk ke meja panitia. Jumlah ini merosot dari tahun sebelumnya. Jumlah naskah yang masuk tahun lalu nyaris menyentuh angka 100. 


Sebagai pembuka catatan ini, saya ucapkan selamat kepada mereka yang telah berpayah mengirimkan naskah untuk Lomba Cerpen Balai Bahasa Provinsi Gorontalo tahun ini. Anda adalah pemenang. Kemenangan seorang penulis kala ia telah merampungkan karya tulisnya. Sebab merampungkan karya merupakan pergulatan terberat yang dihadapi penulis. Dia bertarung dengan dirinya sendiri. Pertarungan melawan diri sendiri sejatinya merupakan pertarungan terdahsyat yang dihadapi setiap orang, penulis pun demikian.  
Menulis adalah ibadah intelektual, begitu Khrisna Pabichara penulis Sepatu Dahlan menyebutnya. Seorang yang menulis akan masuk ke ruang intim dirinya dan memulai ibadahnya. Menemukan ide, meramunya, menggarapnya dengan melahirkan kata-kata yang diperolehnya dari proses “batin” yang sakral. Maka tak ada kehilangan yang paling berat bagi penulis selain kehilangan kata-kata. Hilangnya kata-kata berarti berhentinya ibadah sang penulis.
Pada lomba cerpen ini, saya hendak meneliti sejauh mana daya pancar ibadah para penulis cerpen kita. Daya pancar akan sangat mudah diidentifikasi dari menelusuri “kata-kata” yang digores pada lembaran naskah. Memang subyektif, namun begitulah subyketivitas akan bertemu dan semoga diterima sebagai sesuatu yang obyektif. Daya pancar kata-kata akan membuka jalan untuk melihat ke dalam diri penulis. Seberapa sering menulis, sekira  berapa bacaannya, dan hal lain yang menentukan pengalaman menulisnya. Semua itu akan terlihat dari tulisan yang dipahat pada naskah. Makanya, kita sebenarnya sangat bisa meraba tulisan di tangan juri itu adalah tulisan keberapa dari sang penulis: tulisan pertama, kedua, atau tulisan kesekian.

Unsur yang Dinilai
Tujuh puluh tiga naskah cerpen melewati proses pemilahan dengan menggunakan formula “Unsur yang Dinilai” yang terdiri dari tiga indikator. Indikator tersebut adalah kualifikasi cerpen bernilai 25 poin, keterpaduan unsur intrinsik cerpen 45 poin, dan kesesuaian penggunaan bahasa cerpen 30 poin. Pada kualifikasi cerpen ada empat hal yang diteliti: orisinalitas, relevansi tema dan isi, sara dan pornografi, dan jumlah halaman (3-7 halaman).
Hal tersebut merujuk pada persyaratan yang telah ditetapkan oleh panitia pada lembar pengumuman yang disebar ke berbagai pelosok, termasuk di linimasa. Seharusnya, naskah masuk yang tidak sesuai dengan indikator pertama ini diparkir alias tidak dibaca. Tapi juri memilih untuk memasukkan pertimbangan “ati olo” untuk memberikan kesempatan bagi seluruh penulis yang memasukkan naskahnya untuk dinilai. Untuk menghindari adanya aksi main mata juri dengan penulis, telah diantisipasi panitia dengan menghapus seluruh nama penulis pada lembar naskah. Jadi, yang di tangan juri adalah naskah yang tertera judul tanpa nama penulis.
Indikator kedua adalah keterpaduan unsur intrinsik cerpen. Juri tidak hendak menyeret alur penilaian dengan menggunakan perangkat ilmiah yang amat teoritis dan prosedural. Bahwa naskah yang  masuk ini perlu dibedah, dengan pisau bedah yang dipunyai oleh masing-masing juri. Cerpen ini tentang apa, siapa, dimana, kapan, mengapa, dan bagaimana. Ini mengasyikkan karena juri dipaksa masuk dalam belantara kata yang diciptakan oleh penulis, menikmati degup cerita dan padu-padan cerita yang berkejaran dengan imaginasi penulisnya.
Kesesuaian penggunaan bahasa cerpen yang memuat kaidah EYD, gaya bahasa, dan ragam bahasa, adalah indikator terakhir yang dimasukkan sebagai unsur yang dinilai. Pada poin EYD ini, secara pribadi saya sungguh kecewa dengan naskah yang terlalu belepotan. Saya memang agak “sensitif” dengan persoalan ini karena belakangan saya sungguh jatuh-bangun mengikuti lomba cerpen. Secara umum persoalan EYD ini memaksa kita kembali membuka kitab EYD yang salah satunya berkhotbah tentang cara penulisan “di” atau “ke” sebagai kata depan dan kata sambung. Termasuk penulisan partikel “pun” yang kadang amat membingungkan. Hal-hal lain adalah mengenai cara menggabungkan kata, penulisan nama tempat, cara penulisan kata asing,  sapaan, kata serapan, dan hal lainnya. Ini penting oleh sebab profesionalisme penulis bisa dengan mudah terlihat.
Hal lain selain kitab EYD yang wajib sering dibuka penulis adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). “Disilahkan” adalah bentuk penulisan kata yang keliru yang sering saya temui saat membaca karya peserta. Karena berasal dari kata dasar “sila” mestinya dituliskan “disilakan”. Atau kata “sekadar” yang sering ditulis “sekedar”. Sangsi jika merujuk pengertian hukuman atau tindakan harusnya ditulis sanksi. Sebab sangsi dalam KBBI berarti bimbang, atau ragu-ragu. Atmosfir yang benar atmosfer, jambangi yang betul sambangi, mazmunah harusnya mazmumah, ranai salah eja dari rinai, nasehat mesti nasihat, sholat yang benar salat, ramadhan ditulis ramadan, tarawih bukan taraweh. Begitulah sekelumit tentang dunia kata yang harus diperhatikan secara disiplin oleh setiap penulis.
Untuk yang berkaitan dengan  gaya bahasa dan ragam bahasa tak ada jalan lain selain melakukan pengembaraan literasi yang lebih serius. Menajajaki rimba kata-kata pada buku-buku, membaca tulisan “para guru” akan menuntun setiap penulis menemukan “gaya bahasanya” sendiri. Perangkat untuk meragamkan kata sudah tersedia pada kitab atau aplikasi tesaurus. Sisa beli dan unduh, sangat mudah!

Budaya dan Kearifan Lokal
            Betapa kita sering salah kaprah tentang budaya dan kearifan lokal. Menyangka jika telah memasukkan istilah lokal, menggunakan dialog dalam bahasa lokal, maka otomatis sebuah cerita dianggap berkisah tentang budaya dan kearifan lokal sebuah daerah. Budaya dan kearifan lokal merupakan identitas bangsa, penanda primordial sekaligus pembeda yang merujuk pada tatanan dan nilai “berkehidupan” pada suatu daerah.
Tumbilotohe misalnya, apakah ia sebatas malam pasang lampu yang selalu dirayakan seremonial di setiap bulan suci? Tentu tidak, padanya ada nilai yang perlu diselami lebih dalam, dipetik hikmahnya sebagai penuntun kehidupan. Nah! Dalam cerita, nilai ini sebaiknya bisa ditampilkan secara apik dengan menggunakan formula jurnalistik 5W 1H. Atau bisa dengan meminjam saran showing don’t telling. Tunjukkan jangan katakan. Tulislah yang terlihat, terkatakan, terasa, dan teraba, dengan begitu cerita bisa lebih bersuara.  
Penggarapan tumbilotohe secara berbeda saya dapatkan di tulisan Tumbilotohe Terakhir dan Padamala Hatima.  Kedua cerita ini menyuguhkan tumbilotohe yang dikonversi dalam bentuk “kerinduan yang nyaring”. Renyah dan syahdu! Mayoritas penulis menggarap tema tumbilotohe ini dengan pendekatan pengalaman autentiknya. Entah itu berbalut nuansa religi ibadah, cinta, politik, dan hal lain seputar hari terakhir ramadan. Setidaknya ada belasan naskah yang mencoba menampilkan tumbilitohe dengan versinya masing-masing. Karena itulah tulisan ini berjudul “Dari Tumbilotohe ke Tumbilotohe
Dalam tulisan Kedamaian di Telapan Tangan yang dikembangkan seperti  gaya Tere Liye, penulisnya hendak membalut ragam budaya Gorontalo dalam satu-kesatuan, termasuk soal tumbilotohe ini. Ini pilihan yang sulit, menyebabkan tulisan melompat ke banyak arah dan kehilangan fokus. Saya mengapresiasi “We geht’s? Spasiba, kharaso!” yang dijadikan sebagai pembuka cerita.
 Lalu ponggo, dalam hitungan saya, ada tiga cerita yang mengulik tentang ponggo. Hanya saja, ketiganya gagal menjadi kisah misteri sebab sekadar berbekal “dugaan”. Ponggo tak biasa  ditunjukkan dalam lembar imaginasi pembaca.

Akhirnya!
Momuhuto, Manusia Laut, dan Padamala Hatima dipilih juri sebagai cerpen terbaik kategori umum. Selendang Karawo Ungu, Ayah Izinkan Aku Menari, dan Belajar dari  Abang Bentor yang terbaik untuk kategori pelajar.
Dalam memilih, kami juri telah sepakat untuk membaca seluruh naskah, lalu menyodorkan naskah terbaik masing-masing. Setiap kategori, saya menyodorkan enam naskah untuk diulas bersama juri lainnya. Matahari di Pantai Buladu, Kedamaian di Telapak Tangan, dan Nenek Ponggo adalah naskah lain yang saya serahkan selain tiga naskah pemenang di atas.  Untuk kategori pelajar, juga demikian. Saya menyodorkan Penyadar, Asa Penari Polopalo (yang akhirnya dicoret karena diduga plagiat), dan Anak Jalanan.
Naskah yang telah diumumkan terbaik itu masuk dalam “jangkar” para juri. Untuk Momuhuto, harus diakui lebih unggul dan sukses mencuri perhatian sebab digarap penuh drama budaya. Walau dari segi kualitas teknis naskahnya perlu diperbaiki. Manusia Laut yang mengangkat kehidupan masyarakat Bajo di Taro Siaje dikembangkan dengan pendekatan “kontra” anak muda. Berkisah tentang Sambuaga sebagai wombuwa yang menikmati pilih-kasihnya aturan penguasa. Padamala Hatima mengungkit kisah rindu seorang ibu yang bernama Hatima kepada anaknya Dulla yang merantau ke tanah Jawa. Untuk kategori pelajar, dari dua puluh satu naskah, tiga naskah terbaik itu yang paling berbeda. Alasannya, selainnya saya tak menemukan tulisan serenyah itu.
Lomba Menulis tak bisa dipandang “kirim saja, sapa tahu menang!” yang menyebabkan penulis ogah memperbaiki kualitas karyanya. Mengedit tulisan sebelum dikirim merupakan standar baku yang wajib dilakukan. Diperlukan usaha sungguh-sungguh memahat karya agar bisa meniti tangga takdir yang lebih baik. Setiap tulisan punya takdirnya sendiri, takdir tulisan bertalian dengan kesungguhan penulis menulis!
Akhirnya, sebagai masukan kepada penyelenggara. Ke depan kita perlu menerapkan aturan tegas tentang naskah. Untuk memastikan bahwa naskah yang masuk dan dinilai adalah naskah dari tangan pertama, peserta dihimbau memasukkan karya sebanyak tiga rangkap (sesuai jumlah juri). Sosialisasi dor to dor ke sekolah dan kampus perlu dilakukan untuk menjaring lebih banyak peserta. Sekali lagi selamat bagi para Penulis Gorontalo, selamat merayakan kebangkitan dunia literasi kita. (*)

*Seorang buruh pemerintah. Berakitivitas di Forum Lingkar Pena Wilayah Gorontalo. Juri Lomba Cerpen Kantor Balai Bahasa Provinsi Gorontalo Tahun 2015 dan 2016.
Jelang Magrib di Rumah Cahaya Inspirasi Huangobotu, 13 Agustus 2016.

Share:

1 komentar

  1. Sebuah ulasan yang apik. Hanya sayang tulisannya singkat. Pengennya lebih panjang. Ta gantong.


    Saya menunggu bedah karya tulisan yang juara. Biar kami tahu kelemahan kami, dan bisa memperbaikinya di lomba yang akan datang. Sukses pak Sultan. Secara pribadi, tulisan ini ada wejangan berharga bagi saya.

    BalasHapus