Cerpen: Seikat Satu

Kita sudah di sini. Sangat mudah menemukan kata-kata yang keluar dari mulut para pendengki. Mereka akan mencemooh atas ketidakberdayaannya melihat  keadaan beruntung yang menyapa kita setiap pagi. Tak usah resah, para pendengki akan selalu begitu, hanya serupa angin ribut yang datang suatu waktu. Kita adalah laut yang tetap harus tenang tanpa harus terusik pada pancaroba.
“Ayah...! Aku mencintaimu!”
“Bunda...! Aku mencintaimu!”
Kata yang selalu berbalas adalah buah manis dari sabar yang telah dijadikan selimut. Meski topan, meski badai, meski apa pun yang mereka serapahi, kita tetap seikat satu. Tak ada yang bisa menggugat ikrar  yang menggetarkan arsy. Seribu doa akan selalu jadi tolak bala atas muslihat yang ingin memperdaya. Kita sudah di sini, saling menggenggam jemari, lalu mendekap pasti untuk hari-hari yang dijalani. Adakah yang lebih bahagia dari seikat satu ini?
Sayang. Kekecup keningmu setiap sujud disudahi. Lalu doa yang berulang akan selalu kuucapkan. Tiada mantra apa pun yang bisa menghalangi, karena doa-doa kita selalu diaminkan malaikat pagi yang menunggui kita hingga terjaga. Sabda langit yang selalu kita temui mengajarkan kita untuk tidak jadi pendengki. Lihatlah, betapa kita benar-benar telah  dewasa. Untuk jiwa yang telah diluaskan, kesyukuran adalah jawaban dari seikat satu yang kita lakoni. Aku adalah kau, kau aku dalam kita.
Lalu, kita menikmati purnama dengan sedikit taburan bintang menyala-nyala.
“Ayah...! Kenapa ada bintang yang bergerak? Di sana Ayah, bintang bergerak!”
Kau menunjuk nyala yang bergerak pasti membelah malam pada langit yang masih gelap. Aku mengulumkan senyum, menatap wajah teduhmu, juga memerhatikan bening matamu yang selalu membuatku rindu.
“Itu lampu pesawat, Bunda! Jelas bukan bintang. Mana mungkin bintang bergerak?” Bantahku.
“Itu bintang Ayah. Coba Ayah lihat baik-baik!”
Kita sama-sama hening mengamati objek yang sama. Lalu sekejap bersitatap lalu mengudarakan tawa yang lama tertahan. Bahagia, serasa ini adalah jawaban atas lekuk kehidupan yang memekakkan. Pada suara yang selalu awas, mungkin mereka sedang menyusun kata untuk mengusik kententeraman. Bukan hanya kita, bahkan ribuan yang tak terlihat selalu mengangkat tangannya. Ketenangan jiwa membuat kita tak gampang panik pada dekap huru-hara. Karena kita seikat satu, aku kau dalam kita yang satu. Insyaallah selalu begitu.
“Ayah...! Perut Bunda bergerak-gerak. Babynya menendang...!”
“Iya Sayang...! Baby lagi main bola!”
Kau mengelitikku, membiarkan aku kalah pada serangan geli luar biasa. Setelahnya kau tertawa, dua lesung pipitmu selalu jadi madu. Aku beruntung bisa mempersuntingmu, gadis solehah keturunan Cina berkulit susu.
“Bunda ingin Baby seperti Ayah!”
Hanya senyum yang bisa kuhadiahkan. Terima kasih untuk katamu yang menyejukkan. Aku melayang, menemukan dirimu menggenggam purnama pada nirwana. Kutemukan dia di masa depan bermain bola. Kau, aku ingin mencintaimu secara sederhana, seperti kata yang tak pernah bisa mengungkap “sesuatu” secara sempurna. Kesederhanaan adalah jawaban atas cinta yang menyatukan. Cinta! Aku kini benar-benar mampu mendefinisikannya.
***
Geliat kehidupan akan mengajarkan dua hal. Dua hal itu akan kau temui kala mulai menjejaki romansanya. Pada romansa kehidupan, kau akan menemukan detak jantung takdir yang akan menggiringmu pada hal-hal tak terduga. Dengarkan nuranimu, padanya ada jawaban atas dua hal yang kerap dilakoni. Meski pasti, akan ada yang mendebatmu di masa datang atas masa lalu yang tertinggal jauh. Biarkan, mereka yang mendebatmu tiada pernah senang pada manis kehidupan yang kau cicipi. Semua tetap harus dinikmati.
Sayang, kubacakan puisi pada malam-malam yang kita lewati. Meski, tanpa selalu ada bebintang, puisi bisa jadi pengganti nyala bintang kerlap-kerlip, nyalanya akan berpindah dari lazuardi membias di bilik kedalaman nuranimu. Pada hati masing-masing, kita sudah terlanjur memahat nama kekasih. Aku kekasihmu, kau kekasihku. Kekasih saling mengasihi karena Sang Terkasih telah menitipkan kasih sayang.
Aral gendala bisa saja jadi sandungan, juga bisa pemicu bagi perjalanan panjang kita. Tak pernah ada resah yang lama mengangkangi, karena kita tahu kepada siapa mengadu dalam ketidakberdayaan. Orang-orang yang merasa paling tahu sejatinya orang-orang bodoh yang sok tahu. Konsipirasi edan ingin mendobrak benteng tiada pernah punya arti karena kita adalah petarung yang dipaksa dewasa oleh keadaan.
Mereka memang serupa bocah belia yang menyimpan bohong pada keluguan kata dan tatapannya. Anggap saja mereka gelombang, kita tetaplah laut. Laut, terseliplah keteduhan dalam ketundukkan, kita seikat satu, aku dalam kau dan kau dalam aku. Kita merasai ketegaran. Ia akan berbuah damai atas dada yang selalu dibiarkan lapang.
Habituasi.  Karena itu aku selalu merindukanmu dan kau juga demikian. Betapa waktu disekap kebekuan ketika jarak akhirnya terbentang.  Sayang, aku berbisik di telingamu.
“Semoga Sang Maha selalu membersamai kita”
Dinamisasi kehidupan melahirkan ragam konsensus yang akan dijadikan pedang. Konsensus dari satu diri menjadi dua diri. Dua diri melebur saling menopang menguatkan. Betapa kokoh, bukan persoalan wajah, bukan tampan dan cantik, kita belajar mengelola ketidaksempurnaan menjadi kekuatan. Betapa kita benar-benar telah belajar.
“Ayah mencintaiku?”
“Ya Sayang!”
“Seberapa besar cinta Ayah kepadaku?”
“Hmmm...!”
Betapa sulit melakukan kalkualisasi. Apakah cinta harus punya ukuran? “Yang kutahu, aku mencintaimu!”
Biarlah kecupan selalu mendarat di keningmu, sebagai jawaban atas pertanyaanmu tentang cinta. Meski tak selalu kau minta, akan selalu kukatakan betapa aku mencintaimu. Ya, kita telah mengaransemen suara hati kita hingga lahirlah komposisi jiwa yang benar-benar arstistik. Lalu kita menikmati instrumen kehidupan, tentang tangis dan tawa, kita benar-benar mulai hafal lekuk nadanya.
***
Kulengkingkan satu cita-cita yang membuatmu berwarna. Cita-cita melegitimasi keadaan yang tak berdaya. Cita-cita yang menghidupkan, meniupkan ruh pada jiwa yang putus asa. Ada tanganmu yang selalu terulur mengokohkan genggaman, kita tak lagi sendiri. Aku kau seikat satu bersama menantang kehidupan.
Bukan lagi cerita usang tentang cinta, bukan kisah cengeng tentang air mata, apalagi tentang hati  yang terluka oleh kata dan keadaan. Sama sekali bukan, telah lahir satu perbendaharaan baru tentang jalan cinta yang ditempuh. Sebuah warna  kehidupan membuat kita selalu optimisi menantang keadaan. Pada kondisi seperti ini, aku melihatmu sebagai penunggang kuda. Memelesat maju mengarahkan gaman ke dada para penipu jahanam. Kau lebih kuat dari seribu lelaki.
“Bunda akan mengajarkan baby memanah, menembak, berenang, danmenerbangkan pesawat!”
Akan seperti itu, seikat satu menjadi kita, kita yang dua akan jadi tiga. Lalu benarlah kata pendahulu. Penyatuan ini membuat siapapun menjadi kuat. Atas ragam hal remeh yang jadi sandungan, kita telah memutuskan mengarahkan orientasi hidup pada hal sederhana.
Kita benar-benar di sini. Tak usah resah, para pendengki akan selalu begitu, hanya serupa angin ribut yang datang suatu waktu. Kita adalah laut yang tetap harus tenang tanpa harus terusik pancaroba. Seikat satu membuatku mengerti bagaimana menyelami kedirianmu dan menyatukannya dengan kedirianku. Atas nama Sang Pengasih, aku mencintaimu!
“Ayah, perut Bunda bergerak-gerak. Baby menendang!”

Share:

2 komentar

  1. Ustad ini cerpennya ustad??
    Kereeeenn, Bikin Baper eeee

    Bisa Silaurahmi ke blog saya ustad sekalian kritiknya
    zahrasulung.blogspot.co.id

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini cerpen lama. Pernah dimuat di Harian Fajar Makassar

      Hapus