Minggu, Agustus 16, 2015

Cerpen Kompas : Sepasang Kekasih di bawah Reruntuhan

Sepasang Kekasih di bawah Reruntuhan
Oleh AK Basuki

Ribuan malaikat akan turun ke bumi di malam-malam suci yang bahagia. Begitu pun pada malam-malam tersunyi menjelang ajal. Di pintu-pintu rumah mereka menunggu, di ambang jendela, di sudut-sudut kamar, di sela-sela genting, usuk, dan di mana saja cahaya langit bisa menerobos. Mereka ada sebagai perpanjangan tangan Tuhan. Utusan-utusan berupa cahaya mulia yang tak kenal angkara, hanya kasih sayang dan kesetiaan.

Salah satunya mendatangi sepasang suami istri yang sama-sama merasa waktu telah hampir berhenti. Menanti, ia, seperti abdi yang menjagai sepasang raja dan ratu. Sosoknya tak kasatmata, namun telah dikenali lewat suara sang istri yang gemetar.

”Aku melihat malaikat maut. Seorang lelaki berperangai halus dan berwajah rupawan. Awalnya tak sedekat ini, tapi semakin lama semakin dekat hingga embusan napasnya serasa akan mencapai leherku.”

Dia melantur. Sang suami, yang pernah mendengar kisah-kisah tentang malaikat, hanya tahu bahwa makhluk-makhluk suci itu tak punya jenis kelamin. Dan dia percaya, seperti apa kau ingin melihatnya, begitulah jadinya mereka.
”Kau melantur,” katanya. Perkataan istrinya sebisanya dia anggap omong kosong. Halusinasi yang muncul akibat kejadian luar biasa yang menantang batas kekuatan dan ketabahan mereka. Tapi tetap saja hatinya tak mampu memungkiri kemungkinan bahwa itu adalah sebuah firasat. Pikiran yang mau tak mau membuatnya semakin takut kehilangan.

Di ranjang yang hancur, sepasang suami istri itu tak berdaya terhimpit reruntuhan tembok, perabot, plafon, dan genting ambrol yang timpa-menimpa hingga hanya menciptakan sedikit rongga. Dalam ruang gerak sesempit itu, hanya sang suami yang masih mampu bergerak. Itu pun sekadar memindahkan tekanan pada beberapa titik di tubuhnya dengan menggunakan kedua siku berganti-ganti. Istrinya telungkup tak bergerak. Reruntuhan rumah telah menghantam punggungnya ketika amukan bumi membuat tanah seperti hamparan tikar pandan yang dikebutkan hingga meratakan seluruh desa.

Sang suami masih bisa meraih punggung dan bagian belakang kepala istrinya walaupun tubuh mereka terhalang sebuah balok. Tangannya bisa mencapai leher yang dingin itu, mencoba sekadar terus merasakan denyut kehidupan yang akan terus memompa semangat hidupnya. Tidak dia pikirkan dirinya sendiri. Jika ada yang harus mati, dialah orangnya. Bahkan jika saja nyawanya hanya tinggal separuh, akan dia berikan semua demi kehidupan istrinya.

”Yang akan datang kemari adalah malaikat pembawa keselamatan,” gumamnya yang hanya dibalas dengan getaran ritmis tubuh istrinya, menahan dingin. Dia tahu tubuh perempuan itu telah ringkih sebelum ini. Dia pun tak kalah ringkih, tapi daya tahan tubuhnya sendiri masih bisa diandalkan.

Sekuat tenaga dia mencoba menggerakkan tubuh, berusaha keras melepas baju tidur untuk melingkupi tubuh istrinya. Gagal, tetapi reruntuhan di sekitar mereka justru bergerak.
”Apa yang kau lakukan?”
”Melepas bajuku.”
”Untuk apa?”
”Untukmu. Kau mulai gemetar kedinginan.”
”Jangan. Kau pun pasti kedinginan,” kata sang istri.
”Sama sekali tidak,” balas sang suami. Dia bohong. Saat itu hawa dingin justru sedang gencar-gencarnya memakan setiap senti kulitnya. Tanpa terasa, gigi-giginya saling mengetuk tanpa bisa tertahan. Dibukanya mulut lebar-lebar, tapi sendi rahangnya malah serasa patah. Tak tertahankan, dia mengaduh.
Istrinya mendengar dan bertanya khawatir, ”Kau tidak apa-apa?”
”Tidak.”

Lalu diam. Selama hampir 40 jam yang telah dilalui, bukan hanya sakit dan dingin yang mereka rasakan. Lapar dan dahaga pun menantang. Sesekali tertidur, sesekali saling membangunkan karena dalam keadaan seperti itu, tetap dalam keadaan sadar adalah pilihan terbaik.

Berkali-kali mereka merasakan gerakan-gerakan di atas sana, bising alat-alat berat yang bekerja, juga suara-suara orang memanggil tepat di atas reruntuhan, tapi mereka tidak mampu balas berteriak. Pastilah medan yang sulit membuat pertolongan yang diharapkan terasa lama sekali mencapai mereka.

”Dia semakin dekat, malaikat itu,” sang istri bergumam lagi. ”Beradu cepat dengan orang-orang yang membongkar puing-puing di atas sana. Jika dia lebih cepat dari mereka, yang tersisa di sini hanya tinggal mayat untuk dikuburkan.”
”Heh, bicaralah tentang hal lain saja.”

”Sudah habis bahan pembicaraan kita. Tidak ada apa pun yang tidak pernah kita bicarakan selama 50 tahun ini. Hal kematian justru adalah sebuah pembicaraan yang baru.”

Sang suami terdiam. Sejak hari pertama dia ingin sekali mendekat pada istrinya, berpelukan untuk saling membagi ketakutan dan semangat mereka. Bisa saja dia memaksakan untuk menarik kedua kakinya yang terjepit reruntuhan itu tanpa menghiraukan rasa sakitnya, tapi dia sangat takut jika gerakan apa pun yang melebihi ruang yang dimilikinya akan membahayakan mereka berdua.

”Aku sudah tidak berharap lagi untuk hidup. Kau?”
”Kau harus hidup. Bahkan jika aku harus mati, kau tidak akan kubiarkan mati.”
Sang istri terkekeh, sepertinya kesadarannya sudah mulai tercerabut sedikit demi sedikit hingga hanya tinggal ekstase yang dirasakannya. Kata-katanya melantur.

”Sebentar lagi mungkin aku akan melihat seluruh riwayat hidupku dipampangkan oleh malaikat itu.”
”Diamlah,” suaminya memohon. Oleh rasa takut yang bukan untuk dirinya sendiri, juga merasa bahwa waktu semakin habis, lelaki itu akhirnya nekat mencoba menarik tubuh bagian bawahnya. Akibat gerakannya yang justru tidak terlalu kuat, pecahan-pecahan bangunan longsor menjatuhi kepalanya. Tapi kegigihannya membuat sebelah kakinya lepas.
”Jangan banyak bergerak. Reruntuhan ini bisa semakin mengubur kita sebelum pertolongan datang akibat gerakanmu. Bukannya aku takut mati. Jika saja kita bisa memperlambat kematian, itu bukan lagi karena aku mengharapkan keselamatan, tapi hanya untuk lebih lama lagi bersamamu.”
”Aku hanya ingin mendekat. Orang-orang yang membongkar puing-puing di atas sana justru bisa membahayakanmu.”

Reruntuhan di atas mereka bergerak sedikit demi sedikit, seperti hidup dan semakin mempersempit rongga yang mereka diami. Sang suami tahu, gerakan-gerakan para penyelamat di atas mereka bisa menjadi bahaya yang baru. Dia hanya ingin melindungi istrinya. Tangannya meraba-raba lalu menggapai balok yang melintang memisahkan mereka, menjadikannya tumpuan untuk menarik tubuhnya sekuat tenaga. Tak dirasakannya nyeri di kedua kaki yang membuat sekujur tubuhnya bergetar hebat. Tapi dia harus berpacu dengan waktu.

”Aku akan mati, bukan?” terdengar lagi istrinya berkata sebelum kelopaknya benar-benar tertutup.
”Kau tidak akan mati, Sayang,” sahut sang suami setelah tubuhnya sempurna berada di atas punggung istrinya, menjadi perisai.

Lalu reruntuhan di atas mereka benar-benar jatuh.
”Ada dua orang!” teriak seseorang dan misi penyelamatan segera difokuskan pada titik di bawah kakinya. Dua hari setelah bencana, menemukan korban selamat yang tertimbun reruntuhan adalah keajaiban.
”Posisi sang suami telungkup di atas tubuh istrinya,” kata seorang anggota tim penyelamat dengan prihatin setelah 
 tubuh kedua suami istri itu telah berhasil dievakuasi tiga jam setelah ditemukan. ”Bersama hingga maut memisahkan. Mengharukan dan membuatku iri.”
”Maksudmu, kau rela mati demi orang yang kau sayangi?” bisik kawannya.
”Yang jelas, seorang dari mereka akan melalui sisa hidupnya tanpa yang lain. Kau sendiri lebih suka mengenang atau dikenang? Kau lebih memilih membawa kembang ke kubur orang yang kau cintai atau sebaliknya?”
Lalu hening di antara mereka.

Di sebuah tempat berdimensi tak berbatas yang putih tanpa noda, sepasang suami istri duduk berdampingan.
”Di mana kita?” tanya sang istri. ”Di surga? Malaikat itu benar telah menjemput kita?”
”Bukan, Sayang. Kita ada dalam mimpi.”
”Mimpi siapa?”
”Mimpi siapa lagi? Ini mimpimu.”
”Cih!” sang istri mencubit pinggang suaminya dan tertawa. ”Aku tidak merasa sedang bermimpi. Ini pasti mimpimu. Aku sudah mati.”

Sang suami membuat ekspresi wajah kesakitan yang lucu. Lalu dikecupnya kening istrinya itu lama sekali. Sangat lama sehingga rasa-rasanya puluhan tahun kehidupan yang telah mereka lalui bersama telah kembali dijalani hanya dengan sebuah ciuman.
”Begini saja, mimpi siapa pun ini, jangan pernah terbangun. Kau setuju?”

Cigugur, 16 Mei 2014
Sumber Koran Kompas Edisi Minggu, .... Agustus 2015

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts